SAMPANG, RadarMadura.id – ”Saat ibu merestui, saya yakin Allah SWT akan meridai”. Kalimat itu diutarakan Suweibeh, mahasiswa keperawatan yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Manusia hanya bisa merencanakan, tapi tidak bisa melawan takdir. Tidak ada yang ingin menjadi anak yatim. Sebab, anak yatim harus menjalani lebih keras kehidupan yang sudah digariskan Tuhan.
Seperti Suweibeh, perempuan asal Desa Meteng, Kecamatan Omben, Sampang, ini tidak pernah mengenali wajah sang ayah. Toraji (almarhum), ayahnya, sudah tiada sejak dirinya berusia satu tahun. Saat ini, di usia 19 tahun, dia belum pernah melihat foto ayahnya.
Anak dari pasangan Sumribeh dan Toraji itu tumbuh dan besar bersama sanak familinya. Sebab, sejak kecil ibundanya merantau ke Surabaya demi bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Keterbatasan itulah yang akhirnya membentuk Suweibeh menjadi anak mandiri. Demi bisa memenuhi kebutuhannya, remaja 19 tahun itu berjualan pakaian secara online. Caranya itu dilakukannya sejak duduk di bangku SMK.
Hal itu dia lakukan karena sadar bahwa penghasilan ibunya sebagai penjaga toko di Kota Pahlawan tidak seberapa. Namun, keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangatnya untuk menggapai mimpi.
Perempuan yang biasa disapa Ibeh itu menggantungkan mimpinya menjadi tenaga kesehatan pertama di lingkungan keluarganya.
”Tidak semua perempuan berhasil mengenyam pendidikan hingga bangku kuliah. Kecuali mereka yang teguh pendirian untuk terus menambah wawasan pengetahuan demi meraih cita-cita,” ujar Ibeh.
Keputusan Ibeh untuk melanjutkan pendidikan sempat menuai pertentangan dari lingkungan masyarakat di desanya. Sebab, perempuan seusianya di desanya umumnya menikah dan mengurus rumah tangga.
Di lingkungannya masyarakat masih punya persepsi bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi. Sebab, ujung-ujungnya hanya melayani dan berbakti kepada suami sebagai ibu rumah tangga (IRT).
Namun, semua itu berhasil dilewati dengan kemauan dan tekad yang kuat serta dukungan dan doa restu ibundanya.
Perempuan berhijab itu diterima sebagai mahasiswa di Prodi Keperawatan Politeknik Negeri Madura (Poltera) tahun akademik 2023/2024.
Dia masuk melalui jalur seleksi nasional berbasis tes (SNBT). ”Saya sempat pesimistis, tapi ibu meyakinkan saya dan siap membiayai,” terangnya.
Ibeh tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan ibunya. Setelah tercatat sebagai mahasiswa, dia rajin belajar dan aktif mencari peluang mendapat beasiswa. Agar pada semester berikutnya tidak banyak membebani ibunya.
Usahanya mendapatkan beasiswa terwujud. Namanya kini menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah.
Dengan begitu, lulusan terbaik SMK Negeri 1 Omben tersebut tidak lagi dipusingkan dengan uang kuliah tunggal yang harus dibayarkan secara periodik.
Ibeh mendapatkan informasi peluang beasiswa dari pendiri Komunitas Rumah Desa Hebat Abu Rizal. Pihaknya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
”Saya akan rajin belajar agar cita-cita saya untuk menjadi tenaga kesehatan bisa terwujud,” teganya.
Pendiri Komunitas Rumah Desa Hebat Abu Rizal menyatakan, dirinya tidak bisa menjamin mahasiswa bisa mendapatkan beasiswa. Akan tetapi, sebatas mengadvokasi mahasiswa untuk berusaha mendapatkan beasiswa.
”Saya turut senang Suweibeh sudah mendapatkan beasiswa. Semoga bisa lebih semangat belajar,” harapnya. (*/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta