SUMENEP, RadarMadura.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Nazhatut Thullab berdiri sejak 1702. Sudah 321 tahun lembaga pendidikan ini menanamkan nilai-nilai Islam kepada santri dan masyarakat.
Ponpes Nazhatut Thullab sudah tidak asing bagi kalangan masyarakat Madura. Lembaga pendidikan yang berada di Desa Prajjan, Kecamatan Camplong, itu termasuk pesantren tertua di Kabupaten Sampang. Lembaga pendidikan Islam ini berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka.
Ponpes yang kini diasuh oleh KH Muhammad bin Mu’afi dan Nyai Hj Ita Fajria Tamim itu sudah berusia 321 tahun. Lembaga tersebut didirikan oleh Kiai Abd. Alam pada 1702 silam dengan sebutan panyajjaan, dalam bahasa Madura berarti tempat berharap dan berdoa.
Istilah itu kemudian berkembang menjadi cikal bakal nama Desa Prajjan. Sejak berdiri, banyak masyarakat yang menimba ilmu. Kemudian, ponpes tersebut dinamai Nazhatut Thullab sejak diasuh oleh KH Syabrawi pada 1932.
Itulah sekilas sejarah berdirinya Ponpes Nazhatut Thullab yang diceritakan Kepala Biro I Bagian Kepondokan Muh. Sholeh Hoddin. Dia menuturkan, KH Syabrawi merupakan keturunan ketujuh dari Kiai Abd. Alam.
Ustad Soleh menyampaikan, ponpes secara konsisten menginternalisasikan nilai-nilai kebajikan kepada santri. Nilai-nilai tersebut tentu relevan dengan perkembangan zaman saat ini.
Pesantren juga terus berinovasi dalam menyampaikan metode pembelajaran kepada santri. Melalui metode tersebut, lembaga pendidikan Islam itu senantiasa menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan memiliki budi pekerti luhur.
Terdapat 1.205 santri mukim di Ponpes Nazhatut Tullab. Pesantren tersebut saat ini mengelola beberapa lembaga pendidikan. Yakni, dua lembaga pendidikan tingkat menengah pertama, tiga lembaga pendidikan tingkat menengah atas, dan dua lembaga perguruan tinggi.
Sudah banyak alumni yang berhasil berkontribusi nyata terhadap kemajuan bangsa sesuai sektor yang diminati. Mulai dari bidang pendidikan, pemerintahan, hingga politik.
”Sudah banyak alumni yang berkiprah di bidang masing-masing. Salah satunya, Slamet Ariyadi yang saat ini menjadi anggota DPR RI,” tambahnya.
Kepada JPRM, Slamet Ariyadi mengakui keberhasilan dan capaian yang diraih saat ini berkat ilmu yang diperoleh dari pondok. Menurut dia, banyak pelajaran dari pesantren yang bermanfaat dalam kehidupan nyata. Misalnya, belajar menjadi orang ikhlas dan dewasa dalam menghadapi persoalan.
Slamet berharap, para santri bisa memanfaatkan waktu untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Kemudian, bisa memgamalkan ilmunya dengan baik. Juga, turut berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa.
”Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari pondok pesantren. Semoga pesantren terus jaya dan senantiasa berkontribusi untuk kemajuan bangsa,” harap politikus muda tersebut. (*/pen)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Fatmasari Margaretta