SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Upaya Pemerintah Kabupaten Sampang menjadikan Pangeran Trunojoyo sebagai pahlawan nasional belum terwujud. Salah satu kendalanya, dokumen belum lengkap, seperti naskah akademiknya.
Kepala Disarpus Sampang Sudarmanto menyampaikan, sejak dulu Pangeran Trunojoyo sering diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional. Akan tetap,i selalu gagal karena dokumen tidak diakui oleh negara. Maka dari itu, saat ini pemerintah daerah tidak buru-buru melakukan pengusulan kembali.
Pemkab masih mematangkan kajian dan fakta-fakta terkait Pangeran Trunojoyo. Mulai dokumen historis perjalanan sejak di Sampang, jejak perjalanan, peninggalan, dan semacamnya. ”Belum pengusulan lagi, kita masih mencari fakta-faktanya,” katanya.
Pihaknya akan terus melengkapi dan mencari fakta-fakta terkait sosok Pangeran Trunojoyo. Dengan begitu, proses pengusulan dapat disetujui. Salah satunya seperti menyiapkan dengan matang naskah akademik. Termasuk, meningkatkan intensitas seminar terkait sosok Pangeran Trunojoyo. ”Kita sekarang juga aktif menggandeng sejarawan, itu yang saat ini kami butuhkan,” lanjutnya.
Sudarmanto mengakui, untuk menjadikan Pangeran Trunojoyo sebagai pahlawan nasional tidak mudah. Karena negara selama ini menilai Pangeran Trunojoyo itu adalah sosok pemberontak dan membela Belanda saat itu. Catatan sejarah itu sangat menghambat proses pengusulan.
”Arsip dokumen tentang kepahlawanan Trunojoyo masih minim, termasuk tentang ketokohannya,” ucap Sudarmanto.
Upaya terakhir melakukan koordinasi dengan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan Pemkab Bangkalan. Sebab, mereka juga mengusulkan sosok Pangeran Trunojoyo untuk menjadi pahlawan nasional. ”Kita juga pernah komunikasi dengan Unair,” terang Sudarmanto.
Sosok Pangeran Trunojoyo akan tetap diperjuangkan. Apalagi, namanya sudah populer di telinga masyarakat sebagai nama jalan di berbagai tempat. Di Sampang ada Monumen Trunojoyo. Di Bangkalan jadi nama kampus negeri.
Sementara itu, di mata Prof Mien Achmad Rifai, Trunojoyo adalah murni pahlawan sejati karena memperjuangkan kemerdekaan Madura dari penjajahan Mataram. Dalam upayanya, diperanginya juga VOC Belanda. ”Jadi dalam hal terakhir beliau tak berbeda dengan Sultan Agung. Tapi, Dewan Gelar tak sependapat, sehingga sampai sekarang tidak ada Jalan Trunojoyo di Solo dan Jogja (tapi ada di Ibu Kota negara),” jelas Prof Mien.
Editor : Abdul Basri