SAMPANG, Jawa Pos Radar Madura – Petronas Carigali Ketapang II Ltd masih menyisakan pekerjaan rumah (PR). Enam program corporate responsibility (CSR) yang direncanakan 2020 belum terealisasi semua. Tiga program pemberdayaan masyarakat (PPM) belum terlaksana.
Tiga program CSR yang sudah berjalan di antaranya beasiswa untuk siswa berprestasi. Ada 40 siswa tingkat SMA dari daerah terdampak yang berhak menerima. Tiap siswa dianggarkan Rp 1,7 juta.
Anggaran tersebut dicairkan dalam dua tahap. Tahap pertama sudah direalisasikan pada semester ganjil. Separonya akan diberikan pada semester dua.
Program yang terealisasi kedua yakni penggemukan sapi. Program itu terealisasi pada 2020. Programnya disalurkan kepada masyarakat di Kecamatan Banyuates dan Sokobanah.
Selain itu, program bantuan pembibitan alpukat soga dan kelengkeng matalada. Masing-masing terdiri atas 1.000 bibit dan 20 bibit. Program tersebut sudah disalurkan kepada masyarakat Kecamatan Ketapang.
Sementara tiga program CSR yang belum disalurkan yakni pembangunan rumah pintar. Hingga saat ini, rencana pembangunan belum jelas karena masih tahap studi desain di internal Petronas.
Begitu juga dengan program CSR untuk pembangunan taman di Ketapang. Kemudian, program perbaikan akses melaut untuk nelayan Kecamatan Banyuates dan Ketapang. Antara lain, normalisasi muara sungai nepa, pemecah ombak, dan pompa pendorong pasir.
Kabag Perekonomian Setkab Sampang Juwaini yang diwakili Kasubbag SDA Abdi Barri menyampaikan, mayoritas program CSR yang belum selesai bersifat multiyears. Proses pembangunannya tidak bisa diselesaikan dalam setahun. Sebab, nilai anggarannya besar.
”Kami hanya mengusulkan sesuai dengan yang diinginkan masyarakat daerah terdampak. Yang menentukan tetap Petronas,” katanya kemarin (1/3).
Hingga saat ini, belum ada kejelasan kapan selesainya pembangunan tiga program tersebut. Tidak ada target waktu, baik dari Petronas maupun Pemkab Sampang.
Barri menjelaskan, CSR yang diusulkan ke Petronas sudah disinkronisasi dengan program pemerintah daerah. Tujuannya, menghindari tumpang tindah program. Jika sudah memenuhi kriteria, Petronas berkewajiban memenuhi usulan tersebut.
”Penyaluran CSR di Petronas berbeda dengan yang lain. Kalau di Medco dan HCML, nilai anggarannya sudah diketahui. Jadi, usulan masyarakat bisa menyesuaikan,” jelasnya.
Menurut Barri, Petronas terkesan tertutup terkait anggaran untuk CSR. Dia mencontohkan realisasi CSR 2019 berupa mobil pemadam kebakaran dan tempat parkir. Hingga sekarang, Pemkab Sampang tidak mengetahui nominal untuk program itu.
”Kami pernah melayangkan surat untuk mengetahui nominal damkar itu untuk keperluan aset. Tapi, tidak dikasi,” ungkapnya.
Dia menambahkan, penyaluran CSR yang langsung komunikasi dengan Pemkab Sampang sejak 2019. Sebelumnya, Petronas menggandeng Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ketika hendak menyalurkan CSR. ”Sebelum berkomunikasi dengan kami, pendampingnya dari UTM,” imbuhnya.
Sementara itu, Kabid Konservasi Rehabilitasi Lingkungan dan Pertamanan DLH Sampang Imam Irawan menuturkan, rencana pembangunan taman Ketapang sudah disusun sejak 2020. Jika melihat skema yang diajukan, diperkirakan menghabiskan Rp 2,9 miliar. Dia mengaku tidak mengetahui nominal yang dipatok Petronas. ”Tahun 2020 hanya berkutat di perencanaan. Makanya, pekerjaan 2020 rencananya dikerjaan tahun ini,” tuturnya.
Secara teknis, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sampang sudah berkoordinasi dengan Petronas. Namun, hingga saat ini belum ada kegiatan fisik yang dikerjakan untuk pembangunan taman Ketapang. Irawan menyebutkan, program pembangunan taman tersebut ditarget tuntas 2022.
Berdasar rencana yang diketahui Irawan, pembangunan taman dibagi dalam dua tahap. Pertama dimulai dari pematangan lahan, pemasangan paving, dan yang lain. Sementara tahap kedua mengarah pada pembangunan taman, ikon, dan fasilitas lainnya.
”Kalau sekarang belum ada kegiatan fisik. Kalau tidak salah, pada tahap pertama, nilai anggarannya Rp 790 juta,” ungkapnya.
Humas Petronas Carigali Septiana Dewi belum memberikan penjelasan. Beberapa pertanyaan yang dikirim melalui pesan WhatsApp juga tidak direspons. (bil)
Editor : Abdul Basri