SAMPANG – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang telah mengeluarkan ancaman agar para pedagang mau membuka kios di Pasar Margalela. Sejak 10 Juli 2019, para pedagang mulai berjualan. Tapi, tidak seluruhnya. Hanya sebagian yang membuka kios.
Para pedagang juga angin-anginan dalam membuka kios. Sehari buka, keesokan harinya tutup. Hal itu terjadi karena jumlah pengunjung ke pasar yang terletak di Jalan Syamsul Arifin itu sepi. Setiap hari pembeli yang datang hanya bisa dihitung jari.
Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disperdagprin Sampang Sapta N Ramlan menyatakan, ada beberapa faktor yang mengakibatkan Pasar Margalela sepi pengunjung. Salah satunya, para pedagang kurang inovatif. Barang-barang yang dijual di sana tidak jauh beda dengan yang di Pasar Srimangunan, Pasar Rong Tengah, dan lainnya.
”Padahal, saat rapat 1 Juni kemarin sudah disarankan oleh Pak Wahyu (kepala Disperdagprin, Red) agar pedagang berinovasi,” jelas Sapta kemarin (12/7).
Dia mencontohkan, misalnya, pedagang di Pasar Margalela bisa menyediakan barang-barang bekas, barang-barang otomotif, dan hal-hal yang sulit ditemukan di pasar tradisional lainnya. Namun, faktanya saat ini pedagang belum melakukan hal itu. Tak pelak, jumlah pengunjung juga sepi karena mereka lebih memilih datang ke pasar tradisional lain seperti Srimangunan.
Ditanya apakah ada rencana menggelar kegiatan di sana agar pengunjung ramai, Sapta mengaku sudah melakukannya pada Ramadan lalu. Yakni, dengan mendatangkan mainan anak di depan Pasar Margalela II yang lokasinya berada di sebelah barat Margalela II. Tetapi, cara itu tidak efektif mendatangkan pembeli yang datang ke pasar.
”Dulu kami juga sempat mengalihkan senam lansia ke sana. Tetap saja belum berpengaruh juga pada jumlah pengunjung pasar,” imbuhnya.
Di Pasar Margalela terdapat 55 kios. Menurut pengakuan Sapta, rata-rata para pedagang itu sudah buka. Namun, mereka tidak konsisten dalam membuka kios. Kadang sehari buka, keesokan harinya tutup.
”Hari Kamis kemarin yang sebelah barat pagi sampai jam 10 buka tiga kios, sebelahnya tutup. Kemudian, tadi pagi (kemarin, Red) yang tiga tutup, baru yang sebelahnya buka,” tambahnya.
Salah seorang pedagang di Pasar Margalela Samhari mengaku saat ini pedagang kurang mendapat keuntungan. Sebab, pembeli yang datang ke sana hanya sedikit. Dalam sehari orang yang membeli dagangannya bisa dihitung jari.
”Sepi, tapi mau bagaimana lagi, tetap harus saya buka. Karena kalau tidak buka katanya mau diambil alih oleh pemkab,” curhatnya.
Editor : Abdul Basri