DI tengah kondisi politik yang kian tersandera kekuatan oligarki dan tertutupnya ruang partisipasi, buku Ibu Politik, Anak Kekuasaan karya Subairi Muzakki menjadi sebuah pukulan halus ke arah nurani kita—sebagai warga negara yang selama ini diam, atau bahkan turut menikmati kekuasaan yang kehilangan batas.
Sebagai pembaca, saya tidak hanya menemukan kumpulan analisis politik dalam arti sempit. Buku yang terbit perdana pada Maret 2025 ini lebih dari itu. Ia menawarkan renungan filosofis yang membumi, dan kritik sosial yang terasa hangat sekaligus menusuk.
Setiap bab adalah cermin, mengajak kita untuk menatap, bukan hanya realitas di luar sana, tetapi juga posisi kita sendiri dalam sistem kekuasaan yang kian banal.
Banyak buku politik hadir dengan kecenderungan teknokratis atau penuh jargon yang sulit dicerna. Buku ini berbeda. Ia tidak menggurui, tidak pula membebani pembaca dengan teori-teori kaku. Yang saya temukan adalah bahasa yang jujur, lugas, dan tetap elegan.
Subairi menulis dengan nada percakapan, seolah ia duduk bersama kita, berdiskusi santai namun mendalam. Yang menarik, penulis tidak mengangkat tokoh-tokoh politik nasional sebagai bahan utama kritik. Sebaliknya, ia membuka bab pertama dengan Donald Trump—sebuah pilihan yang menyegarkan sekaligus penuh makna. Trump, dalam buku ini, menjadi simbol anak kekuasaan: produk dari politik yang gagal mendidik, dan kekuasaan yang tumbuh tanpa kendali nilai.
Baca Juga: Lupus yang Nakal dan Berkelakuan Baik
Mengapa Politik Kehilangan Makna?
Buku ini mencoba menjawab satu kegelisahan mendasar: mengapa politik hari ini terasa kosong, penuh sandiwara, dan jauh dari kehidupan rakyat? Jawaban yang ditawarkan bukan sekadar soal sistem atau institusi, melainkan soal nilai.
Subairi mengajukan metafora yang sangat kuat—politik sebagai ibu, kekuasaan sebagai anak. Idealnya, ibu membimbing anak agar bertumbuh dengan benar. Namun, realitas kini terbalik: anak kekuasaan memberangus ibu politiknya, hingga yang tersisa hanyalah kerakusan dan pertarungan kepentingan. Politik kehilangan makna karena ia dikhianati oleh mereka yang seharusnya menjaganya.
Yang membuat buku ini terasa begitu relevan adalah keberaniannya untuk mengangkat dimensi moral dalam politik. Di tengah dunia yang memuja pragmatisme, buku ini mengingatkan bahwa politik tanpa moral hanya akan melahirkan krisis-krisis kepercayaan, krisis nilai, dan pada akhirnya krisis kemanusiaan.
Buku ini tidak hanya berbicara tentang elite. Ia menantang kita, pembaca biasa, untuk bertanya: apa yang telah kita lakukan ketika politik menjadi alat kekuasaan, bukan ruang pengabdian? Dalam situasi ini, kita bukan hanya korban, tetapi juga pelaku pasif yang membiarkan kekuasaan tumbuh tanpa kendali.
Membaca buku ini di tengah suasana sosial-politik yang kian terpolarisasi adalah pengalaman yang menyentuh. Buku ini tidak menawarkan solusi instan, tetapi ia menawarkan keberanian untuk merenung dan berdialog. Di tengah riuh rendah suara partisan, buku ini mengajak kita untuk kembali pada politik sebagai jalan kebersamaan.
Sebagai pembaca, saya merasa buku ini menyimpan optimisme yang menyala. Meski penuh kritik, Subairi tidak menutup ruang harapan. Ia percaya, politik bisa kembali bermakna jika kita mau menghidupkan kembali nilai dan moral di dalamnya.
Buku Ibu Politik, Anak Kekuasaan bukan hanya untuk pengamat politik, akademisi, atau aktivis. Buku ini untuk siapa saja yang peduli pada nasib republik ini. Bagi saya, buku ini seperti suluh kecil di tengah gelapnya skandal dan intrik kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa politik bukan panggung elite, tetapi milik semua warga yang mencintai keadilan.
Dan, tugas kita ke depan adalah memperjuangkan agar politik kembali pada fitrahnya, sebagai ibu yang membimbing dan mengawal kekuasaan, agar mengabdi pada kepentingan bersama. (*)
MOH. ALI MUHSIN
Wakil Kepala JPRM Biro Pamekasan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti