SETELAH melakukan beberapa pekerjaan, sering kali kita akan merasa lelah, stres, jenuh, dan lain sebagainya. Pada waktu itu juga tubuh memberikan sinyal emergency untuk beristirahat. Namun, tidak jarang juga kita menyepelekan hal demikian, karena adanya obsesi yang terlalu kuat untuk menyelesaikan tugas. Bahkan, sebagian orang berasumsi bahwa istirahat atau diam sejenak dari bekerja hanyalah untuk orang-orang pemalas, atau bahkan menjadi ciri-ciri orang yang tidak akan sukses.
Anggapan demikian yang akan membuat seseorang selalu memaksakan tubuh untuk melakukan aktivitas tanpa memperhatikan batas kemampuan yang dimiliki. Padahal, pekerjaan yang terlalu memberatkan akan menjadi pemicu munculnya tanda bahaya bagi kesehatan yang cepat atau lambat akan berpengaruh pada produktivitas dan kualitas hidup.
Mengingat gaya hidup manusia yang semakin sibuk, membuat kita akrab atau mungkin beberapa kali sempat mendengar kata burnout. Sebagaimana yang penulis katakan, ”Burnout adalah gejala dan kondisi yang muncul saat orang merasa lelah dan letih” (halaman 11). Seseorang akan mengalami burnout jika melakukan pekerjaan yang bertubi-tubi tanpa istirahat. Ironisnya, banyak yang tidak menyadari hal itu. Kurangnya pemahaman mengenai burnout menyebabkan seseorang berpura-pura kuat untuk menyelesaikan pekerjaan, padahal hati sudah bersikukuh untuk berhenti dan beristirahat.
Buku berjudul Mengapa Aku Mengalami Burnout? ini hadir supaya kita mengenal dan memahami lebih dalam mengenai burnout. Buku ini mencakup semua pembahasan mengenai burnout. Mulai dari pengertian burnout, siapa saja yang rawan mengalami burnout, mengapa burnout terjadi hingga bagaimana cara mengatasi burnout.
Ahn Juyeon yang merupakan seorang psikiater mengungkapkan bahwa adanya buku ini bukan untuk menakut-nakuti, membuat orang menjadi malas, apalagi menghambat kemajuan seseorang. ”Istirahat bukanlah penghalang kesuksesan. Berhenti sejenak dengan pekerjaan yang sangat melelahkan merupakan suatu hal yang menjadi pendukung ke-produktivitas-an hidup kita,” (halaman xii).
Buku ini cocok dibaca untuk semua kalangan, mulai dari remaja, kamu milenial yang sering mengalami burnout, atau bahkan pemimpin perusahaan sangat disayangkan apabila tidak membaca buku ini. Karena buku ini sangat membantu seseorang atau perusahaan untuk lebih meningkatkan kemajuan dalam kadar yang lebih sehat serta konsisten.
Buku setebal 182 ini hadir dengan susunan bahasa yang sangat ringan, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Mengenai burnout, sudah terpapar jelas di dalam buku ber-cover oranye ini. Ketertarikan pembaca juga ada pada cerita-cerita yang disuguhkan penulis sebelum memulai pembahasan di setiap subbabnya. (*)
DIANAH FAKHIROH
Santri PPA Lubangsa Utara Putri, mahasiswa Universitas Annuqayah Prodi IQT
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti