TEKNOLOGI dan informasi berkembang begitu pesat. Sehingga, kita akan sangat mudah untuk mengakses kabar-kabar dan berita-berita terbaru. Hanya dengan bermodalkan pencet-pencet dan geser-geser kita sudah bisa mengetahui informasi terkini bahkan di luar negeri sekalipun. Malangnya, banyak orang yang langsung percaya begitu saja pada informasi yang baru dia terima tanpa mencari tahu kebenaran informasi tersebut. Akibatnya, mereka mudah termakan dengan berita-berita yang belum jelas kebenarannya.
Guessoum mengambil contoh pada 2015. Ada satu video viral berdurasi tiga menit yang menayangkan seorang pemuka agama di Arab menyatakan bahwa ”bumi tidak bergerak”. Dia menyajikan beberapa bukti akan perkataannya itu. Di antaranya, yaitu Allah menciptakan Baitulmakmur tepat di atas Kakbah, maka jika bumi berputar maka terpaksa Baitul Makmur juga berputar.
Bukti lain yang ia paparkan juga adalah jika bumi berputar maka pesawat hanya perlu terbang vertikal dan menunggu lokasi tujuannya tepat berada di bawahnya. Pesawat tak perlu terbang secara horizontal karena ia tidak akan sampai. Padahal ada penjelasan ilmiah mengapa hal itu bisa terjadi.
Nahasnya, mayoritas masyarakat, terutama muslim, memercayai video itu begitu saja. Menurut Guessoum, dalam buku ini, penyebab hal ini tak lain dan tak bukan karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap sains atau bahkan terhadap agama itu sendiri.
Beberapa tahun terakhir, fundamentalisme juga tumbuh dalam Islam. Ada juga gerakan anti-sains berbasis agama, dipelopori oleh pemuka-pemuka agama yang menolak teori sains yang sudah mapan dengan bersikeras mengartikan Al-Qur’an secara harfiah dan menyatakan bahwa Islam dan sains tak sejalan.
Sehingga, para muda mudi Islam seakan-akan harus memilih antara sains dan agama Islam itu sendiri. Padahal, Al-Qur’an itu bahasanya figuratif dan tak harus diartikan secara harfiah. Karenanya, dalam buku ini, Guessoum banyak memaparkan penjelasan dan teori dasar sains, juga beberapa tafsir modern terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan begitu, kita bisa melihat bahwa antara sains dan agama itu tidak bertentangan.
Guessoum menuturkan bahwa beberapa contoh di atas menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan literasi dasar sains dan juga tafsir-tafsir cerdas pada teks-teks Islam, sehingga terjadi kecocokan antara ayat-ayat Al-Qur’an dan fakta sains.
Jika melihat sejarah, dulu pada saat zaman keemasan Islam, agama Islam sendiri banyak menyumbang pada perkembangan ilmu pengetahuan dan sains. Bahkan, Islam menghasilkan zaman keemasan sains selama 10 abad. Mulai dari abad ke-6 Masehi sampai abad ke-16 Masehi. Hal ini tak lain karena banyak ulama-ulama dahulu yang terus melakukan penelitian terhadap bumi dan memikirkan ayat-ayat Allah.
Misalnya al-Khawarizmi yang menyumbang pada ilmu matematika yakni aljabar. Ada juga ahli-ahli astronomi terkenal di peradaban muslim yang meliputi al-Battani, al-Biruni, Ibnu Yunus, al-Majrithi, az-Zarqah, dan lain-lain. Atau Ibnu Sina yang banyak menyumbang pada ilmu kedokteran.
Baca Juga: Panduan Spiritual Menyongsong Masa Depan
Guessoum menjelaskan bahwa ini menunjukkan antara sains dan agama itu tidak bisa dipisahkan. Bahkan sains sangat mendukung agama Islam sendiri yang dengan tegas menunjukkan keberadaan dan kekuasaan Tuhan. Bisa kita lihat pada salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi: ”Tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikit pun.” (QS. Qaf 50:6).
Guessoum juga mengungkapkan bahwa Islam juga sangat mendukung sains karena agama Islam itu sendiri sebenarnya butuh terhadap sains. Seperti, menentukan waktu salat, arah kiblat, pembuatan kalender Islam untuk hari-hari keagamaan (Ramadan, Id, Haji), pembagian warisan dan hitungan zakat, semua memerlukan astronomi, trigonometri, dan aljabar.
Buku ini menjelaskan kepada kita pentingnya mengetahui dan memahami sains, sekurang-kurangnya pada literasi dasar sains, dan juga agar tidak terpaku pada tafsir-tafsir ulama terdahulu pada Al-Qur’an atau yang lebih parah lagi mengartikan Al-Qur’an secara harfiah. Sehingga, antara sains dan Islam terjadi keselarasan dan tidak bertentangan.
Buku ini juga menyajikan beberapa pemahaman dasar sains yang kiranya wajib kita ketahui agar kita bisa membangun pengetahuan saintifik kita, melihat kembali sebuah klaim dan menilai kebenaran sebuah informasi sains. Bagi siapa pun yang ingin mulai belajar sains, maka buku ini adalah buku yang tepat untuk memahami teori-teori sains dasar. (*)
M. SYAHIRUL EZZY
Santri Rayon KH Ahmad Basyir PPA Annuqayah Daerah Latee. Sekretaris Lembaga Pers Siswa (LPS) SMA Annuqayah.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti