SALAH satu tradisi di Madura yang terus bertahan hingga saat ini adalah tradisi rokat. Secara umum, tradisi ini dilaksanakan dengan beberapa tujuan, di antaranya untuk mengharap berkah dan panen yang melimpah (misalnya pada rokat tana), atau menolak petaka (pada rokat tanean). Dan, sebagian besar masyarakat mungkin sering terlibat, baik sebagai penonton maupun pelaku, tapi kemungkinan besar tak banyak –terutama generasi yang muda– yang mengetahui secara sempurna apa itu rokat.
Salah satu buku yang bisa dijadikan referensi untuk mengenal rokat secara lengkap dan utuh adalah buku yang ditulis oleh Dr Mohammad Ali Al Humaidy ini. Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian langsung di beberapa lokasi yang dinilainya sebagai representasi seluruh desa yang ada di Madura karena prosesi serta simbol-simbol pelaksanaan rokat yang dilakukan di desa-desa itu adalah cerminan dari tradisi rokat yang ada di Madura (halaman 26).
Materi inti dari buku ini ada pada Bab IV hingga Bab VII yang membahas tentang 4 (empat) macam rokat dengan segala seluk beluknya, seperti prosesinya, alat-alat yang digunakan, tanggapan, dan pandangan masyarakat atas pelaksanaan tradisi tersebut dan makna simbol-simbol yang digunakan.
Sedangkan bab-bab sebelumnya ditegaskan oleh penulisnya sebagai bab yang cenderung teoretis, tapi menurut saya salah satu kekuatan buku ini justru kontribusinya dari bab-bab tersebut. Ibarat hendak membangun rumah dan yang dilakukan pertama adalah penguatan fondasinya, maka untuk memahami rokat sebagai fenomena sosial budaya yang erat kaitannya dengan aspek-aspek lain, penulis menyajikan semacam pembahasan ”materi pengantar” dengan dua tema mendasar, yaitu sosial budaya masyarakat Madura dan potret islamisasi di Madura, karena memang begitu dekat dan eratnya hubungan antara kebudayaan yang berkembang di lingkungan masyarakat Madura dan sejarah agama Islam di Madura yang kini dianut oleh mayoritas masyarakat.
Disusul kemudian pada pembahasan yang lebih luas tentang tradisi lokal dan keagamaan dari berbagai perspektif dan dua subbab tentang rokat. Pertama rokat perspektif struktural fungsionalis. Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Emile Durkheim yang diperluas oleh Talcott Parsons dan ditambah pendapat Ralf Dahrendorf, penulis menyajikan poin-poin penting terkait tradisi rokat. Misalnya, bahwa rokat merupakan tradisi keagamaan yang sangat khas dan penting dalam budaya masyarakat Madura, rokat memainkan peran penting dalam mengatur aktivitas individu sehari-hari dan memelihara harmoni dalam komunitas, dst (halaman 51–58).
Kedua rokat perspektif ekologi manusia, yang mempertemukan etika antroposentrisme dan etika ekosentrisme, dan membuat penulis memiliki dua asumsi: a. tentang adanya ketergantungan manusia pada sumber daya alam dan sosial sekitarnya dan cara beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. b. tentang pentingnya keberlanjutan dalam hubungan manusia dengan lingkungannya (halaman 58–61).
Lalu, materi pengantar tersebut dipungkasi dengan pembahasan tentang mitos dari perspektif antropologis yang disandingkan dengan pendapat Mircea Eliade, pembaca akan dibawa pada pembahasan yang sangat mengasyikkan tentang agama, mitos, tradisi, kepercayaan keagamaan, kebudayaan, yang pada akhirnya akan menemukan dasar pemikiran tentang eksistensi dari tradisi yang mengakar kuat di masyarakat, seperti rokat.
Adapun pada bab terakhir penulis menjabarkan tentang upaya pelestarian rokat dan tantangannya ke depan sebagai tradisi keagamaan masyarakat Madura. Sebagai lulusan S-2 dan S-3 sosiologi dan sebagai anggota tim ahli bupati Sumenep bidang pendidikan dan sosial, tentu pendekatannya lebih realistis dan terutama karena penulis pasti sudah banyak berinteraksi dan berdiskusi dengan eksekutif terkait banyak hal, termasuk sosial budaya dan tradisi seperti rokat menjadi bagian di dalamnya. (*)
HAZMI BASYIR
Penasihat MPC Pemuda Pancasila Sumenep
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti