Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Madura, KGB, dan Anak Desa Literat

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 24 Maret 2024 | 14:11 WIB
Anak Desa Menulis: Ragam Kisah Inspiratif Pengalaman Menulis Generasi Bintang. Penulis Komunitas Ghai’ Bintang.
Anak Desa Menulis: Ragam Kisah Inspiratif Pengalaman Menulis Generasi Bintang. Penulis Komunitas Ghai’ Bintang.

SEBAGIAN besar literatur-literatur modern tentang Madura cenderung hanya menyajikan peristiwa-peristiwa insidental dan imparsial. Kenyataan ontologis serta kekhasan budaya manusia Madura tak banyak terekspos sehingga percakapan tentang Madura terbatas pada bab carok, besi tua, warung kelontong, sate, jamet, dan hal-hal subjektif lainnya.

Padahal, di masa lalu, tak sedikit perhatian dunia internasional pada Madura karena kekayaan budaya serta kearifan lokalnya. Helene Bouvier, misalnya, seorang sarjana dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris, meneliti secara mendalam keunikan seni musik dan berbagai pertunjukan dalam masyarakat Madura. Untuk menunjukkan kesungguhan intelektualnya, Helene tinggal di Kecamatan Batuputih, Sumenep, selama satu tahun (1986–1987).

Pulau Madura tak kekurangan tokoh intelek dan sosok pemikir. Di balik segala ”kontroversi” serta stereotipe-stereotipe yang disandangnya, terdapat banyak sumber daya manusia (SDM) lintas sektor yang dimiliki Madura yang telah turut mewarnai proses pembangunan bangsa ini.

Nama-nama seperti Artidjo Alkostar (1948–2021), seorang hakim agung putra Sumenep yang ditakuti para mafia dan koruptor kelas kakap dalam kasus-kasus besar. Lalu, Abdul Hadi WM (1946–2024), sastrawan, budayawan, dan filsuf kelahiran Sumenep. Dalam bidang seni-sastra, Sumenep memiliki D. Zawawi Imron yang kiprahnya melampaui batas-batas teritorial.

Orang-orang besar itu, yang dalam derajat-derajat tertentu kiprah dan karya intelektualnya diakui dunia, tak terlahir dalam ruang yang kosong, melainkan dari proses dan kesungguhan belajar. Banyak duri bahkan badai yang senantiasa merintangi perjalanan orang-orang besar dalam menghantarkan dirinya menjadi pribadi yang literat. Dalam lanskap yang luas, literasi menjadi fondasi dasar terciptanya keahlian seseorang dalam segala bidang.

Semangat menjadi insan literat dengan segala rintangannya itulah yang menjadi pokok pikiran besar buku ini. Buku Anak Desa Menulis: Ragam Kisah Inspiratif Pengalaman Menulis Generasi Bintang adalah antologi para penggerak dan generasi Komunitas Ghai’ Bintang (KGB). Sebuah komunitas literasi di sebuah daerah terpencil, yakni di Kecamatan Rubaru, Sumenep (hlm. iii). Kondisi lingkungan dengan keterbatasan sana-sini dan seabrek lika-liku lainnya, tidak menghalangi mereka untuk membangkitkan atmosfer literasi di daerahnya.

Frasa ”Generasi Bintang” –yang juga menjadi judul buku ini– memiliki dua makna: khusus dan umum. Makna khusus menunjukkan identitas para penulis sebagai anggota KGB. Sedangkan secara umum, mengandung makna filosofis bahwa dengan literasi para anggota KGB (diharapkan) kelak seperti bintang yang berkilau indah di ketinggian sana, seperti yang telah dialami Artidjo Alkostar, Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, dan tokoh-tokoh Madura lainnya.

Dari segi redaksi judul, buku ini terkesan sederhana karena secara garis besar menceritakan kisah pengalaman menulis. Namun, jika dihayati dengan saksama, pesan dan kesan yang dikandungnya sangat kuat menggambarkan perjuangan, jerih payah, dan jatuh bangun para generasi bintang yang mulai mendekatkan diri pada buku-buku dan kebiasaan menulis, seperti yang telah dititahkan para pendahulunya di masa lalu. Seolah-olah para penulis buku ini sadar bahwa menjadi besar memerlukan sesuatu yang kecil; menjadi sukses di masa depan memerlukan perjuangan dan proses belajar yang sungguh-sungguh di masa lalu dan kini.

Buku ini menjadi menarik bukan hanya karena menginspirasi generasi muda yang akan atau sedang belajar menulis, tapi sekaligus kehadirannya menepis berbagai stereotipe terhadap Madura. Karenanya, buku ini –dan buku-buku sejenis lainnya– perlu disebarluaskan ke khalayak luas untuk menekan pandangan-pandangan peyoratif terhadap Madura.

Kepada kita, buku ini membawa kabar gembira; di pelosok-pelosok desa Madura tak kekurangan generasi muda yang peduli pada masa depan bangsanya, dengan menyiapkan diri menjadi insan yang berpengetahuan unggul. Pada akhirnya, kehadiran buku ini diharapkan bisa mengisi ruang-ruang diskursus ke-Madura-an dengan tema-tema yang bernapaskan literasi, ketimbang dengan stereotipe-stereotipe yang bias makna serta etnis.

Alasan lain yang membuat buku ini menarik adalah implikasinya dalam upaya peningkatan indeks literasi di Indonesia. Sejauh telaah penulis, belum ditemukan data pasti terkait indeks literasi di Kabupaten Sumenep, lebih spesifik lagi di Kecamatan Rubaru sebagai tempat lahir dan berkembangnya KGB dan buku ini. Namun, setidaknya, secara nasional, penilaian berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), pada 2022 skor Indonesia sebesar 64,48 dari skala 1–100. Angka yang tidak cukup menggembirakan.

Baca Juga: Panduan Singkat Negeri 1001 Malam

Dalam kondisi saat tingkat literasi kita rendah, keberadaan KGB tentu layak diapresiasi. Komunitas ini secara sukarela dan tanpa pamrih bertekad membangkitkan literasi generasi muda atau para pelajar di Rubaru (hlm. vi). Sebuah gerakan komunal dari pinggir yang bersifat konkret dalam mencerdaskan generasi bangsa.

Di Sumenep sendiri, KGB bukan satu-satunya komunitas kultural yang bergerak dalam bidang literasi. Atas keberadaan sejumlah komunitas literasi, Pemerintah Kabupaten Sumenep sepatutnya menjadikannya mitra kerja dalam mengakselerasi gerakan literasi di tengah para pelajar. Misalnya, untuk mendukung efektivitas penerapan Peraturan Bupati Kabupaten Sumenep Nomor 13 Tahun 2021 tentang Gerakan Literasi Satuan Pendidikan.

Sebelum terlalu jauh berbicara Indonesia Emas 2045, ada baiknya kita memperkuat fondasi ke-Madura-an dengan literasi dan pendidikan terlebih dahulu. Potensi bonus demografi (70 persen penduduk dalam usia produktif) hanya akan jadi ilusi selama kualitas kelompok Gen Z di pelosok-pelosok desa tidak dibentuk sejak dini. Selain kekuatan militer, kekuatan literasi tak kalah vital bagi kemajuan bangsa ini. Pada titik inilah semboyan KGB ”Arabat Bangsa Lebat Lebur Maca” (Merawat Bangsa dengan Gemar Membaca) (hlm. vii) menemukan signifikansinya. (*)

MOH. RASYID

Dosen Universitas Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#komunitas #literatur #sumenep #kgb #Anak Desa