RELIGI, RadarMadura.id - Dalam Islam, setiap ibadah memiliki kelonggaran tertentu bagi mereka yang berada dalam kondisi khusus.
Salah satunya adalah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan yang dapat digantikan dengan fidyah bagi orang-orang yang tidak mampu menjalankannya secara permanen.
Di antara bentuk fidyah yang lazim di masyarakat Indonesia adalah dengan menyalurkan beras kepada yang membutuhkan.
Lalu, bagaimana tata cara membayar fidyah menggunakan beras, dan doa seperti apa yang dianjurkan untuk dibaca?
Artikel ini akan membahas fidyah dari sudut pandang praktis dan spiritual: siapa yang wajib membayar, bagaimana bentuk fidyah yang sah, serta bacaan doa yang dianjurkan agar ibadah ini bernilai secara lahir dan batin.
Fidyah merupakan bentuk kompensasi bagi mereka yang tidak dapat berpuasa Ramadhan karena halangan tetap seperti usia lanjut, penyakit kronis yang tidak memungkinkan untuk sembuh, atau kondisi tertentu bagi ibu hamil dan menyusui yang khawatir terhadap kesehatan diri atau bayinya.
“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (puasa), wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Berangkat dari ayat ini, Islam memberikan solusi agar setiap muslim tetap bisa menjalankan kewajiban puasa dalam bentuk yang sesuai dengan kemampuannya.
Di Indonesia, makanan pokok sehari-hari adalah beras. Maka dari itu, beras menjadi pilihan utama untuk membayar fidyah karena sesuai dengan kebutuhan dasar mustahik (penerima zakat).
Para ulama menyatakan bahwa fidyah sah dibayarkan dengan makanan pokok, bukan uang, meskipun sebagian lembaga telah menetapkan nilai rupiahnya berdasarkan standar harga makanan.
Menurut mazhab Syafi’i dan Hambali, satu hari puasa yang ditinggalkan diganti dengan satu mud makanan pokok, setara kurang lebih 0,6 hingga 0,75 kilogram.
Namun untuk memudahkan, fidyah seringkali diberikan dalam ukuran 1,5 hingga 2,5 kilogram beras per hari, tergantung kesepakatan dan kebiasaan setempat.
Baca Juga: Memahami Doa Fidyah: Menyatukan Niat dan Ibadah dengan Kesadaran Penuh
Dalam Islam, niat adalah unsur utama dari setiap ibadah. Ketika membayar fidyah, niat ini dapat dibaca dalam bentuk doa sederhana namun bermakna:
“Nawaitu an u‘thiya al-fidyata ‘an fardin min ayyami Ramadhana lillahi ta’ala.”
Artinya: “Saya berniat membayar fidyah atas kewajiban puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Doa ini bisa diucapkan dalam hati atau dilafalkan secara pelan ketika menyerahkan fidyah kepada fakir miskin.
Jika fidyah diberikan atas nama orang lain, seperti orang tua yang sudah wafat, maka niatnya cukup diganti dengan menyebut nama yang bersangkutan.
“Nawaitu an u‘thiya al-fidyata ‘an (nama) ‘an fardin min ayyami Ramadhana lillahi ta’ala.”
Niat ini bukan sekadar formalitas. Ia merupakan pengikat makna spiritual agar tindakan kita bukan hanya berupa sedekah, melainkan benar-benar ibadah yang bernilai di sisi Allah. Agar ibadah fidyah dilakukan secara benar dan sah, berikut panduan teknis yang bisa diikuti:
1. Hitung Hari Puasa yang Ditinggalkan
Tentukan jumlah hari puasa yang tidak dijalankan. Misalnya 10 hari, maka fidyah juga diberikan untuk 10 hari.
2. Siapkan Beras Sesuai Ketentuan
Umumnya disiapkan 1,5–2,5 kg beras per hari. Jika 10 hari, berarti sekitar 15–25 kg totalnya.
3. Pilih Penerima yang Tepat
Pastikan fidyah diserahkan kepada orang yang termasuk kategori fakir miskin.
4. Bacakan Doa Sebelum Memberikan
Sertai penyerahan fidyah dengan niat dan doa seperti yang telah dicontohkan.
5. Salurkan Secara Langsung atau Lewat Lembaga
Bisa diberikan sendiri atau melalui lembaga zakat yang amanah dan terpercaya.
Baca Juga: Keutamaan Doa Sayyidul Istighfar: Permohonan Ampunan yang Diajarkan Rasulullah SAW
Membayar fidyah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tapi juga merupakan kesempatan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.
Ketika doa dilafalkan dengan hati yang ikhlas, itu menunjukkan kesungguhan dan kepatuhan terhadap syariat.
Fidyah juga mengandung nilai sosial tinggi karena membantu mereka yang kekurangan. Maka, pastikan ibadah ini dijalankan dengan kesadaran, bukan karena terpaksa atau sekadar mengikuti kebiasaan.
Fidyah adalah wujud kasih sayang Islam kepada umatnya. Bagi yang tidak sanggup berpuasa karena alasan yang dibenarkan, Islam tetap membuka jalan pahala dengan memberikan makanan kepada fakir miskin.
Maka, ketika Anda hendak membayar fidyah, jangan lupa untuk membaca doa dengan tulus, niatkan karena Allah, dan pastikan beras yang diberikan sesuai ketentuan.***
Editor : Amin Basiri