Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ponpes Raudlatul Iman Pernah Alami Pasang Surut, Awalnya Hanya Menampung Santri Mengaji

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 20 April 2024 | 03:09 WIB
TAMBAH WAWASAN: Ponpes Raudlatul Iman menggelar kegiatan media center untuk mencetak santri cinta literasi.
TAMBAH WAWASAN: Ponpes Raudlatul Iman menggelar kegiatan media center untuk mencetak santri cinta literasi.

SUMENEP, RadarMadura.id – Pada masa Kiai Abu Daud, Pondok Pesantren (Ponpes) Raudlatul Iman dikenal dengan sebutan Pesantren Mandala. Lembaga itu berdiri sekitar 1836.

Mulanya hanya menampung santri yang ingin belajar Al-Qur’an. Namun, akhirnya perkembangan yang pesat sampai saat ini.

Ketua Yayasan Raudlatul Iman Kiai Sahli menyampaikan, kegiatan Pesantren Mandala pada masa Kiai Daud hanya pengajian Al-Qur’an yang menempati rumahnya.

Setelah berkembang, dibuatkan tempat pengajian khusus yang terbuat dari kayu.

”Pada masa K. Abdullah Khairul Fatihin yang merupakan menantu Kiai Daud, langgar yang terbuat dari kayu dan dindingnya dari bilik bambu tersebut semakin diperluas,” ujarnya. 

Baca Juga: Madrasah Darul Istiqomah Pamekasan Rutin Gelar Praktik Ubudiyah Harian

Itu dilakukan karena santri yang belajar dan memperdalam di lembaga itu terus bertambah. Khususnya santri laki-laki.

Sedangkan santri perempuan tetap menempati serambi atau emperan rumah kiai.

Pada masa kepemimpinan K. Abdullah juga dibangunkan bilik pondok bagi santri yang mukim.

Dengan demikian, santri tidak hanya belajar Al-Qur’an, tapi juga mendalami ilmu-ilmu agama lainnya.

”Yang paling penting adalah belajar dari hidup keseharian sang kiai. Mulai dari perilaku, ucapan, sikap, dan prinsip-prinsip selama hidupnya yang menerapkan kesederhanaan dan kesabaran,” ucap Kiai Sahli.

Sedangkan pada masa KH Ibrohim yang merupakan menantu dari K Abdullah Khairul Fatihin, warga menghendaki berdirinya lembaga pendidikan yang dapat meningkatkan masyarakat. Maka, didirikan pendidikan madrasah pada 1964.

Saat itu diberi nama Al-Ihsan III. Santri belajar di emperan masjid, emperan rumah Kiai Ibrohim, dan di surau Kiai Hamid. Bahkan, di tempat penggilingan jagung.

”Pada 1968 dimulai membangun fondasi gedung madrasah hasil wakaf milik Kiai Ibrohim. Dua tahun berikutnya (gedung) madrasah dapat dirampungkan dan siap ditempati,” imbuhnya.

Pengasuh Ke-3 Ponpes Raudlatul Iman KH Imrahim bin Ra’i
Pengasuh Ke-3 Ponpes Raudlatul Iman KH Imrahim bin Ra’i

Pasca Kiai Ibrohim wafat, akhirnya diteruskan oleh putra angkatnya, yaitu  K Abd. Hamid dan saudara-saudara.

Pada masa itu madrasah tercatat di Departemen Agama. Pada 1975, Madrasah Al-Ihsan III berubah nama menjadi Raudlatul Athfal III.

Sementara pada 1980-an kembali dilakukan penyesuaian nama menjadi Raudlatul Athfal V.

Seiring perjalanan waktu, MI Raudlatul Athfal V mengalami masa kritis pada 1980-an hingga 1984. Sebab, pengelolaan lembaga kurang maksimal.

Hal itu berakibat pada tingkat kepercayaan masyarakat yang semakin rendah. ”Maka  jumlah murid di tahun-tahun itu turun drastis pada titik yang cukup memprihatinkan yaitu, kisaran dua puluhan (santri),” imbuhnya.

Saat itu, sambung Sahli, kondisi bangunan madrasah tidak terawat. Kendati demikian,  kegiatan pembelajaran tetap berjalan seperti biasa dengan menempati masjid, musala, bahkan emperan rumah pengasuhnya.

Pada masa itu bisa dikatakan lembaga pendidikan itu tidak bertuan. Sebab, para pengurus kehilangan semangat dan kehabisan bahan untuk mengembalikan masa-masa emas dari lembaga itu.

”Kelas pada waktu itu ada yang digabung dengan kelas lainnya,” tuturnya

Namun, sejak lembaga itu dikelola oleh generasi kelima pada periode 1985–1986, kepercayaan masyarakat kembali tumbuh.

Yaitu, dengan ditandai semakin banyaknya santri putra dan putri yang masuk ke Raudlatul Athfal V.

Bahkan, pada 1990-an lembaga itu kembali ke puncak kejayaannya seiring dengan perubahan piagam madrasah ibtidaiyah.

Sehingga lembaga itu dikenal dengan sebutan Raudlatul Iman atau Yayasan Raudlatul Iman.

Yaitu, diawali dengan berdirinya tsanawiyah dan raudlatul athfal pada 1991. Lalu, disusul TKA-TPA-TPQ dan madrasah diniyah pada 1996. Kemudian, untuk madrasah aliyah berdiri pada 1999.

Pengasuh Ke-4 Ponpes Raudlatul Iman KH Abdul Hamid bin Dumyathi
Pengasuh Ke-4 Ponpes Raudlatul Iman KH Abdul Hamid bin Dumyathi

”Untuk pondok pesantren mendapat legalitas dari pemerintah pada 2005 yang sebelumnya pernah pasang surut semenjak kepemimpinan K. Abdullah Khairul Fatihin,” katanya.

Kemudian, pada 2009 didirikan pendidikan anak usia dini (PAUD). Lalu, tahun 2016  di-launching perguruan tinggi yang disebut dengan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (STIDAR). Lembaga itu memiliki dua program studi (prodi). (sin/jup)

Editor : Fatmasari Margaretta
#musala #madrasah #hidup #lembaga pendidikan #santri #masa emas anak #masjid #Al-Qur'an #sang kiai