SAMPANG, RadarMadura.id – Grand desain yang dilakukan pesantren bervariasi dalam mencetak santri yang religius dan membekali hand skill.
Seperti yang direalisasikan Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ulum Al-Kholili Beringin.
Pesantren di Desa Tambak, Kecamatan Omben, Sampang, ini membekali santri dengan metode pondok salaf dan latih hand skill santri.
Syahin Jalal mengatakan, ponpes yang diasuhnya tetap berbasis pondok salaf sama seperti waktu didirikan.
”Sesuai dengan amanah pendiri sesepuh kami, pondok salaf mesti terus dijalankan sebagaimana mestinya tanpa menjalankan pendidikan formal,” terangnya.
Dalam pendidikan kitab, pesantrennya menerapkan metode sorogan (membaca kitab tanpa harakat, menjelaskan menggunakan bahasa Indonesia) dan metode percepatan akselerasi.
Misalnya, santri ada yang difokuskan belajar tentang haid, fiqih muamalah, dan sebagainya selama satu tahun dan langsung praktik.
”Sehingga nantinya saat sudah lulus, para santri sudah fasih akan keilmuan fiqih dan sebagainya,” terangnya.
Pesantren yang diasuhnya terus berinovasi untuk meningkatkan mutu santri, tanpa mengurangi warisan pendidikan leluhur.
Santri tidak hanya difokuskan pada pendidikan kitab. ”Santri juga diikutkan paket sekolah agar juga memiliki ijazah,” terangnya.
Ponpesnya juga berinovasi untuk meningkatkan kemampuan santri. Mereka juga dibekali pendidikan tentang hand skill.
”Mulai dari terapi pengobatan ala Nabi Muhammad SAW, menjadi penjahit baju (tailor), maupun olahraga bela diri,” terangnya.
Syahin memaparkan, meskipun santri tidak mengikuti pendidikan formal, saat diajarkan terkait hand skill juga bisa menjadi mahir dan menjadi spesialis.
Misalnya belajar terkait pengobatan ala Nabi seperti bekam, akupunktur, gurah, dan sebagainya.
”Ilmu pengobatan sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Jika kita bisa mengikuti cara pengobatannya, pasti juga bisa. Sejatinya setiap pengobatan ada pada tubuh kita sendiri,” jelasnya.
Selain mendidik santri, tugas tokoh masyarakat (kiai) juga memiliki tanggung jawab untuk mengajari masyarakat di bidang agama dan akidah.
Di zaman sekarang, untuk berdakwah pada masyarakat melalui pintu ke pintu sangat sulit, sehingga harus menyesuaikan dengan zaman.
”Makanya kami menerapkan dakwah kumpulan koloman dakwah setiap malam Selasa dengan kegiatan koloman. Diisi dengan salat berjemaah, yasin, tahlil, waqiah, dan pembacaan Safinatun Najah dengan praktiknya,” terangnya.
Materi yang ditekankan dalam koloman tersebut segi keibadahan. Mulai dari tata cara salat yang benar, bersuci yang benar, bermuamalah yang benar, dan sebagainya.
”Ini sudah berjalan sejak 2021. Dampaknya pada masyarakat sangat luar biasa. Masyarakat dapat menerapkan sesuai dengan yang disampaikan saat koloman,” ungkapnya. (bai/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti