Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Euforia Petasan dalam Perayaan Lebaran, Ga Bahaya Ta?

Ina Herdiyana • Selasa, 9 April 2024 | 13:04 WIB
Photo
Photo

oleh SUWANTORO*

RAMADAN 1445 H kali ini sudah berada pada fase di penghujung bulan, yakni 10 hari terakhir. Itu artinya, dalam waktu yang relatif singkat, Ramadan akan benar-benar pergi meninggalkan kita semua. Konsekuensi positifnya umat Islam semakin terpacu untuk memanfaatkan sisa waktu Ramadan dengan sungguh-sungguh. Hal ini dilakukan tidak lain sebagai bentuk perwujudan diri dalam berupaya meraih predikat takwa seorang hamba.

Kepergian bulan suci Ramadan semakin nyata dan terasa ketika sudah mulai terdengar gemuruh takbir dari berbagai penjuru. Lantunan takbir yang meriah menjadi semacam panggilan suci bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan. Setiap takbir yang bergema mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT. Sekaligus memberikan semangat dan kekuatan baru untuk menjalani sisa perjalanan Ramadan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Tidak hanya sampai pada suasana itu, dalam gemuruh takbir, juga terpancar rasa persatuan dan kebersamaan umat Islam, yang bersatu dalam ibadah dan pengharapan kepada Yang Mahakuasa. Sekaligus bersama-sama merajut kehangatan tanpa permusuhan yang ditandai dengan bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan.

Sebagai bagian rentetan dari kegiatan spiritual selama Ramadan, Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang sangat dinanti-nanti. Penantian panjang ini bukan hanya tentang kesenangan duniawi karena kita sedang memakai busana serbabaru dan mendapatkan tunjangan hari raya (THR), melainkan juga karena berkaitan dengan suksesnya pencapaian sprititual, pengampunan, merenungkan makna kebersamaan, dan solidaritas dalam setiap langkah kehidupan antar sesama umat Islam.

 

Euforia Petasan

Sebagai bagian dari rasa syukur yang diwarnai dengan berbagai kegiatan positif, perayaan Lebaran menurut sebagian masyarakat kurang meriah apabila tidak dilengkapi dengan bunyi petasan. Maka tak heran jika menjelang Lebaran, bahkan jauh hari sebelum memasuki Ramadan, sudah bermunculan penjual petasan, mulai dari yang berukuran kecil dengan bentuk yang berbeda-beda hingga pada ukuran besar (mercon). Seolah-olah turut memeriahkan kedatangan Ramadan hingga pada perayaan Lebaran. Bahkan, beberapa hari sesudahnya masih terdengar suara petasan. Bisa dikatakan bahwa petasan betul-betul sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari suasana Ramadan.

Tentu, bagi sebagian masyarakat muslim, euforia petasan dalam Lebaran tidak hanya dinilai perayaan ataupun hiburan semata, tetapi juga ada anggapan bahwa di dalamnya melekat nilai-nilai budaya yang mendalam. Karena, diakui ataupun tidak, petasan dianggap sebagai lambang kegembiraan dan dalam konteks Lebaran, termasuk di dalamnya adalah simbol kemenangan. Meskipun, secara hukum kita tidak akan pernah menemukan dalil tentang membakar petasan pada saat Ramadan.

Peninjauan secara histroris, petasan ini ditengarai sebagai salah satu tradisi dari luar Islam, yaitu dari masyarakat Tiongkok (China). Menurut kepercayaan orang Tiongkok, petasan dibuat sebagai upaya untuk mengusir jin, setan, dan sejenisnya (Alwi Shahab, 2022: 87). Seiring dengan tersebarnya petasan, maka kemudian beralih fungsi tidak sebagai pengusir setan, tapi sebagai bentuk kegembiraan terhadap suatu perayaan-perayaan tertentu.

 Baca Juga: Bacaan Legkap Zakat Fitrah untuk Anak Laki-Laki yang Belum Baligh

Ga Bahaya Ta?

Meskipun petasan sudah dianggap sebagai tradisi dalam menyertai hari perayaan termasuk Lebaran, maka perlu diakui bahwa euforia petasan sebetulnya juga membawa dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan. Tentu ini sangat berbahaya. Suara ledakan yang sangat keras akan menyebabkan ganguan pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, atau orang-orang yang memiliki riwayat penyakit jantung. Penggunaan petasan yang tidak terkendali juga akan mengakibatkan kecelakaan yang mengancam jiwa hingga pada kebakaran.

Sejauh ini, kita pasti menyadari bahwa belum ada kabar atau media yang mengabarkan tentang positifnya membakar petasan. Toh walaupun ada, mungkin hanya pemberitaan bahwa petasan dapat menambah rasa kegembiraan dan semangat suatu perayaan (sesuai konteksnya). Hingga saat ini, kerap sekali yang kita dapatkan hal negatif, seperti kebakaran rumah atau ruko, berita orang mengalami luka-luka, orang diamputasi, hingga pada berita orang meninggal yang semuanya akibat dari ledakan petasan.

Setiap orang tentu memiliki cara atau ekspresi tersendiri dalam mengungkapkan perasaan kegembiraannya di momen tertentu. Termasuk dalam merayakan hari Lebaran. Bagi sebagian kelompok masyarakat rasanya kurang lengkap apabila Lebaran tidak ada bunyi petasan. Namun, bagi sebagian yang lain justru adanya petasan menjadi ”pengganggu” kenyamanan dalam menikmati nuansa Lebaran.

Karena itua, penting kiranya bagi kita untuk menemukan keseimbangan antara merayakan Lebaran dengan kemeriahan petasan dan menjaga keselamatan jiwa dan keamanan bersama. Mengedukasi masyarakat, terutama anak-anak, tentang dampak negatif penggunaan petasan yang berlebihan, serta mempromosikan alternatif perayaan yang lebih aman dan ramah lingkungan bisa menjadi langkah awal dalam menjaga tradisi Lebaran tetap khidmat dan meriah.

Dalam suasana yang penuh keberkahan menuju kemenangan ini, marilah kita sama-sama merayakan hari Lebaran dengan penuh sukacita tanpa harus mengabaikan keamanan, keharmonisan, dan keselamatan bersama. Semoga Lebaran tahun ini membawa berkah dan kebahagiaan bagi kita semua. Aamiin.. Selamat merayakan hari Lebaran. Mohon maaf lahir dan batin. Wallahu a’lam… (*)

*)Alumnus PP Riyadlus Sholihin Laden, Pamekasan, dosen IAIN Madura

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#puasa #ramadan #petasan #Euforia #lebaran