Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menyempurnakan Puasa

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 4 April 2024 | 13:30 WIB
Mohammad Zainul Alim
Mohammad Zainul Alim

Oleh MOHAMMAD ZAINUL ALIM

 

MENJELANG berakhirnya bulan suci Ramadan 1445 Hijriah, umat Islam di seluruh dunia berlomba-lomba meraih kesempurnaan puasa dengan ”memburu” Lailatul Qadar. Tak sedikit hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan keistimewaannya. Di dalam Al-Qur’an disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kita dapat melewati malam Lailatul Qadar dan menjadi penyempurna puasa?

Berbagai ulama telah mengulas bagaimana kita melewatkan malam istimewa tersebut di bulan puasa, utamanya di sepuluh hari terakhir Ramadan. Seperti memperbanyak tadarus, memperbanyak amal dan ibadah sunah, memperbanyak iktikaf di masjid, dan lainnya.

Begitu istimewanya malam Lailatul Qadar sampai-sampai disebutkan secara khusus di dalam Al-Qur’an surah Al-Qadr. Mengenai surat Al-Qadr, Prof Dr M Quraish Shihab, dalam Tafsir Misbah, menjelaskan secara epistemologis bahwa Lailatul Qadar adalah ”malam yang penuh berkah dan ditetapkannya segala urusan besar dengan kebijaksanaan”. Shihab (1999: 425–429), memaknai bahwa malam Lailatul Qadar yang terkandung di dalam surah Al-Qadr setidaknya memiliki empat makna.

Pertama, penetapan Allah SWT atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Kedua, kemuliaan. Bahwa, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an di bulan Ramadan yang mulia, ada yang menyebut turunnya Al-Qur’an berbarengan dengan malam Lailatul Qadar. Adanya kemuliaan dapat dimaknai juga sebagai nilai tambah kemuliaan dan pahala yang berbeda dengan malam-malam yang lain. Keempat, sempit. Maksudnya ialah, adanya Lailatul Qadar di bulan Ramadan menjadi malam dengan begitu banyaknya malaikat yang turun ke bumi sehingga penuh sesak bagaikan sempit. Bahwa, kemuliaan dan nilai dari seribu bulan dapat kita peroleh dari proses ibadah dan pendekatan kepada Allah SWT selama bulan Ramadan.

Tak ada seorang pun mengetahui bagaimana kita mendapatkan Lailatul Qadar. Ada beberapa ulama menyebut bahwa malam Lailatul Qadar dapat turun di sepanjang bulan Ramadan. Bisa di hari-hari pertama, pertengahan, atau di ujung Ramadan. Yang jelas, di malam Lailatul Qadar, segala kebaikan berlipat ganda, segala doa terkabulkan, segala kesusahan diangkat, malam yang penuh kesejahteraan, keselamatan, dan hal-hal baik lainnya.

Walaupun kita sudah diberi tahu tanda-tandanya, tetap saja malam seribu bulan tersebut begitu rahasia. Hanya Allah SWT yang dapat memberikan atau menurunkan malam Lailatul Qadar, kapan dan kepada siapa hamba-Nya yang terpilih. Tersembunyinya Lailatul Qadar, menyitir Abu Hayyan Muhammad al-Andalusi dalam al-Bahrul Muhith fit Tafsir (1992: 514), agar kita tidak bergantung atas keutamaan Lailatul Qadar semata. Sementara kita dapat lalai beribadah atau lalai berbuat baik di malam-malam yang lainnya. Karena tersembunyi, para ulama klasik hingga kontemporer memberikan tips-tips khusus bagaimana kita dapat melewati malam tersebut.

Yang berdagang rela berlibur sebulan penuh hanya biar fokus meraih keistimewaan Ramadan dan Lailatul Qadar. Yang lagi menempuh pendidikan, lebih memantapkan niat dan proses belajarnya. Ada pula, walaupun bekerja di siang hari, dia masih bisa mengatur waktu beribadahnya menjadi maksimal di malam hari.

Hal yang perlu diperhatikan bahwa segala ibadah atau amal yang kita lakukan di bulan Ramadan seyogianya dapat dilakukan dengan tulus dan ikhlas karena Allah SWT. Saat kita tulus dan ikhlas, insyaallah dapat mendatangkan jiwa dan raga yang tenang, damai, dan penuh keberkahan. Efek dominonya, pasca Ramadan, hidup kita akan lebih baik. Kebaikan dan keberkahan yang dirasakan pasca Ramadan secara implisit dapat menjadi tanda bahwa kita telah mendapatkan Lailatul Qadar.

Puasa yang Sempurna

Tentu di dalam kehidupan kita saat ini tidak ada yang sempurna. Karena segala kesempurnaan hanya milik dan datang dari Allah SWT. Namun, kita dapat berusaha menyempurnakan ibadah kita di bulan Ramadan. Sekali lagi, menjalankan ibadah puasa Ramadan yang tinggal menghitung hari ini, seyogianya tidak berhenti berharap karena Lailatul Qadar. Harapan yang terbaik adalah adanya rida dari Allah SWT atas segala amal yang kita lakukan.

Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah mewanti-wanti umat Islam menjalankan seluruh rangkaian ibadah atau ketaatan kepada Allah SWT secara lahir dan batin. Dari sinilah ibadah akan berdampak. Beribadah yang berdampak adalah beribadah dan berbuat amal kebajikan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, melakukan perenungan diri atau muhasabah nafs, dan berbuat sesuatu yang berdampak positif bagi sesama dan lingkungan sekitar.

Al-Ghazali mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Ahmad, bahwa ”betapa banyak orang yang berpuasa tidak memperoleh pahala berpuasa, hanya menahan rasa lapar dan dahaga.” Jadi, puasa menurut Al-Ghazali bukanlah sekadar tidak makan dan minum, atau meninggalkan kegiatan yang dapat membatalkan puasa saja. Lebih dari itu, esensi puasa yang sebenarnya adalah menjaga seluruh anggota tubuh, baik lahir dan batin.

Bagi Al-Ghazali, berpuasanya seorang muslim secara lahir dan batin adalah jalan menuju ”kesempurnaan puasa”. Menjaga kesempurnaan puasa dapat kita mulai dari menjaga niat karena Allah SWT, menjalankan ibadah puasa sesuai rukun dan sunah, menjaga seluruh anggota badan dari perkara yang dibenci Allah SWT, menjaga setiap pancaindra dari hal-hal yang maksiat atau diharamkan Allah SWT, dan lainnya.

Sebelum berakhirnya bulan Ramadan ini, kita dapat mentirakati diri memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT, manusia, dan alam lingkungan sekitar. Kesempurnaan puasa tidak melulu harus menunggu datangnya Lailatul Qadar, kita juga dapat menggapai kesempurnaan puasa dengan menambah amal perbuatan yang bersifat manusiawi, seperti berbagi kegembiraan ke setiap orang, berbagi makanan ke tetangga atau orang lain, menolong orang yang kesusahan selagi mampu, dan lainnya.

Seiring dengan dekatnya hari kemenangan Idul Fitri, marilah kita jadikan momentum Ramadan ini untuk mulai melirik kembali hal terbaik apa yang dapat kita lakukan dan berbagi kasih sayang pada sesama dan alam semesta. (*)

*)Pimpinan Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Sumenep

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#puasa #ramadan #keberkahan #keistimewaan #beribadah #seribu bulan #Al-Qur'an #lailatul qadar