LEMBAGA Pendidikan Islam (LPI) Nurud Dhalam didirikan di Desa Ganding, Kecamatan Ganding, Sumenep. Dulu, desa terpencil itu menjadi kegiatan yang dinilai berbau kemaksiatan.
Seperti kebiasaan masyarakat melakukan tari-tarian perempuan, ludruk, dan hal-hal negatif lainnya.
Kondisi tersebut membuat Kiai Ilyas Asy’ari gelisah. Sebab, perilaku masyarakat itu dinilai tidak sesuai dengan norma-norma agama. ”Arti Nurud Dhalam itu adalah cahaya setelah kegelapan.
Dengan harapan, di saat mereka tersesat dapat hidayah dari Allah,” jelas Penasihat Pesantren Nurud Dhalam Shofiyatul Ummah kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Kiai Ilyas kemudian berinisiatif memberantas kemaksiatan di desa itu. Caranya, mendirikan langgar untuk mengajarkan Islam. Di tempat itu dia mengajar kitab kuning secara mendalam kepada masyarakat.
”Awal mula pasti ada tantangan dan rintangan yang dihadapi. Tapi, itu adalah bagian konsekuensi dari perjuangan,” ucap perempuan yang akrab disapa Neng Fifi itu.
Dia menjelaskan, penolakan dari masyarakat terhadap misi berdirinya pesantren terus terjadi. Konflik pun terus mengiringi pertumbuhan awal pesantren.
”Lambat laun seiring berjalannya waktu, Nurud Dhalam tumbuh menjadi pesantren yang kukuh dan berwibawa serta dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujarnya.
Saat ini Pondok Pesantren Nurud Dhalam mengelola lembaga pendidikan formal. Mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawaiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), hingga perguruan tinggi. Kampus itu bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nurud Dhalam.
Pondok Pesantren Nurud Dhalam juga mengelola lembaga nonformal seperti madrasah diniyah (MD). Lembaga ini fokus membangun kemampuan memahami kitab-kitab klasik ala ulama salaf.
Kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan untuk santri di antaranya berwirausaha, Pramuka, dan hadrah al-Banjari. Kemudian, ada forum musyawarah kitab kuning, sorogan kitab kuning, markaz Arab dan Inggris.
Neng Fifi mengakui sejauh ini ada beberapa kendala yang dihadapi karena kekurangan sumber pendanaan kesejahteraan pesantren dan dukungan yang lebih besar dari masyarakat. ”Jumlah santri putra muqim 60 santri dan putri muqim 75 orang. Sedangkan santri kalong putra 40 orang, putri 66 orang, jumlah guru muqim 4, dan guru kalong 6 orang,” tuturnya. (sin/luq)
Editor : Ina Herdiyana