Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah Tiap Tahun Utus Puluhan Guru Tugas

Berta SL Danafia • Sabtu, 23 Maret 2024 | 18:20 WIB
LULUS: Pengasuh Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah KH Abd. Latif Adzim (dua dari kanan) berfoto bersama santri yang i’lan kitab Andzimah. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)
LULUS: Pengasuh Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah KH Abd. Latif Adzim (dua dari kanan) berfoto bersama santri yang i’lan kitab Andzimah. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)

RadarMadura.id – Kiai menjadi tumpuan solusi masyarakat. Termasuk keberadaan pondok pesantren (ponpes) yang punya andil besar dalam kehidupan masyarakat.

Salah satunya Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah di Desa Tlokoh, Kecamatan Kokop, Bangkalan.

Berdirinya Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah itu tidak lepas dari pesan Kiai Mursyid.

Sebagai pendatang, mulanya dia hanya mengajar anak-anak tetangga. Anak-anak itu oleh orang tuanya dimondokkan untuk dididik pelajaran agama.

”Mulailah beliau mengajar ilmu dasar kewajiban-kewajiban yang harus diketahui oleh orang awam,” kenang Pengasuh Ponpes KH. Abdul Latif Adzim El-Atiq.

”Misalnya, syahadat, wudu, salat, dan ilmu keagamaan lainnya menggunakan kitab-kitab dasar seperti Safinah dan Sullam,” terangnya.

Seiring perjalanan waktu, santri semakin banyak yang ingin menimba ilmu dengan mengaji kitab yang lebih luas lagi.

Keadaan itu menuntut Kiai Mursyid harus menimba dan memperdalam ilmunya kepada kakaknya, Kiai Dahlan, agar bisa diajarkan kepada santri yang sudah senior seperti kitab Fathul Qarib dan kitab Bidayah.

Namun, upaya itu tidak berlangsung lama.

Kiai Dahlan memerintahkan Kiai Mursyid untuk menimba ilmu kepada ponakannya yang baru pulang mondok dari Syaikhona Kholil Bangkalan.

Sebab, ponakannya, KH Syamsuddin, dikenal alim oleh masyarakat.

Sepulang mengaji kepada KH Syamsuddin, Kiai Mursyid selalu singgah di kediaman sepupunya di Pondok Pesantren Tepaknah Durjan untuk musyawarah kitab.

Kegiatan ini berlangsung hingga wafat.

”Setelah beliau wafat, tampuk kepemimpinan pondok dilanjutkan oleh putra sulung beliau, KH. Imam Mursyid, yang beliau mondokkan di Pondok Ketengan, Bangkalan, pada masa KH Imam,” ujar pria yang akrab disapa Buya Latif tersebut.  

Pada akhir kepemimpinan Kiai Imam, sebelum putra-putra beliau pulang dari pondok, didirikan madrasah diniyah pertama sekitar 1957.

Pendirian madrasah ini atas isyarah dari salah seorang ulama dari Sampang KH Siraj.

Kiai Siraj biasa diundang oleh KH Imam untuk mengisi zikir Toriqah Naqsyabandiyah Mudhoriyah.

”Namun, kesadaran masyarakat untuk menuntut ilmu pada saat itu masih rendah,” jelasnya.

NASIONALIS: Pemimpin upacara memberi hormat saat upacara di halaman madrasah. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)
NASIONALIS: Pemimpin upacara memberi hormat saat upacara di halaman madrasah. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)

”Masyarakat sekitar banyak yang merantau untuk mengais rezeki di luar Pulau Madura sehingga jumlah santri semakin berkurang,” paparnya.

Belajar mengaji Al-Qur’an dan mengetahui kewajiban sehari-hari saja sudah dianggap cukup saat itu.

Kesadaran masyarakat dalam menuntut ilmu kembali menggeliat dan berkembang satelah dipimpin KH Abd. Adhim Imam dan kakaknya, KH Syamsul Arifin Imam.

Hal itu juga tidak terlepas dari keberadaan guru bantu dari Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata pada 1996-an.

Seiring perjalanan waktu, lembaga yang dikelola terus mengalami kemajuan. Sejak 2007, dibuka lembaga formal. Saat ini sudah mengelola PAUD, SDI, MTs, SMPI, dan SMA.

Proses pembelajaran diklasifikasi pada tiga jenjang, yaitu madrasah formal (pagi), madrasah diniyah (siang), dan kelas pesantren (kegiatan pondok pesantren).

Buya Latif menjelaskan, pendidikan formal telah banyak memberikan sumbangsih terbaik kepada anak didik dan santri untuk mengarungi perkembangan zaman modern.

Di antaranya, melalui balai latihan kerja (BLK) dengan jurusan multimedia. Peserta didik kelas diniyah tidak hanya santri yang berdomisili di pesantren dan tetangga.

Melainkan, juga santri pondok pesantren sekitar yang memang mempunyai ikatan sanak saudara dengan pesantren.

”Sehingga menjadi standar santri yang akan menjadi guru tugas (GT) ke beberapa daerah di dalam pulau atau bahkan di luar pulau seperti ke Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Pangkal Pinang,” terangnya.

”Setiap tahun kami telah mengirimkan GT sebanyak 62 santri,” ungkapnya.  

Adapun untuk kelas pesantren, di samping kajian kitab ala pesantren, santri juga difokuskan untuk mengikuti beberapa program kepesantrenan.

Program itu diproyeksikan untuk kebutuhan santri ketika kembali ke rumah masing-masing.

Harapannya, agar mereka siap menjadi agen of change menuju rida Allah dengan sistem kursus.

Misalnya, santri harus bisa baca Al-Qur’an, baca kitab, bilingual bahasa Arab, dan bahasa Inggris.

Selain itu, mengikuti falakiyah, tibbun nabawi, faraid, dan ushul fiqh.

Santri juga mengikuti program FM2K (Bahtsul Masail Komisi Fathul Qarib dan Fathul Muin) dan beberapa program lain.

”Siswa juga dibekali program intra dan ekstrakurikuler,” ucapnya. (sin/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#pondok pesantren