Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Wajibkan Santri Kuliah sebelum Menikah, Membina Rumah Tangga Tak Cukup Bekal Lulusan SMA

Berta SL Danafia • Selasa, 19 Maret 2024 | 18:15 WIB
ALUMNI SANTRI: Ketua STISA Sumber Duko, Pakong, Dr. K. Ali Makki, M.Pd.I. (K. ALI MAKKI UNTUK JPRM)
ALUMNI SANTRI: Ketua STISA Sumber Duko, Pakong, Dr. K. Ali Makki, M.Pd.I. (K. ALI MAKKI UNTUK JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Alumni pondok pesantren (ponpes) sering dipandang sebelah mata.

Alumni ponpes dianggap sebagai kelompok tertinggal. Sebab, bekal terbesar santri yaitu pemahaman tentang ilmu keagamaan.

Padahal tidak demikian, banyak akademisi berlatar belakang santri. Pemahaman dan keilmuannya di bidang science tidak bisa diragukan. Salah satunya kiai Ali Makki.

Pengasuh Ponpes As-Salafiyah Sumber Duko, Pakong, Pamekasan, tersebut bergelar doktor.

Pria kelahiran 1983 itu merasakan pahit dan manisnya pesantren sejak lulus sekolah dasar (SD) pada 1999.

Pesantren pertama yang menjadi tempatnya menimba ilmu yaitu Mambaul Ulum Bata-Bata. Sedangkan ponpes kedua yaitu Miftahul Ulum Sidogiri, Pasuruan.

Dari dua lembaga itu, Ali Makki menamatkan pendidikan MTs dan MA. Gelar sarjananya diperoleh dari IAI Al-Khairat pada 2006.

Enam tahun kemudian, dia mendapat gelar magister pendidian agama Islam dari UIN Sunan Ampel Surabaya.

Kemudian, gelar doktornya didapat dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2023.

Sejak 2016, Ali Makki mendapat kepercayaan menakhodai STIS As-Salafiyah Sumber Duko, Pakong, yang sebelumnya perguruan tinggi tersebut merupakan cabang dari IAI Al-Khairat Pamekasan.

Kepercayaan menakhodai perguruan tinggi merupakan tugas berat.

Namun, beban tersebut dianggap ringan setelah Ali Makki mendapat motivasi dari mertuanya yang juga pengasuh pertama dari Ponpes As-Salafiyah Sumber Duko, Pakong.

”Beliau berdawuh, dhina ajhar e ro’ jalan (tidak apa-apa sambil belajar di jalan), mon badha pa’ napa’an bisa musyawarah gallu (kalau ada apa-apa bisa musyawarah dulu),” ujarnya.

Kiai muda itu menerapkan beberapa prinsip di ponpes yang dirintis mertuanya.

Yakni, tidak memperbolehkan santri menikah sebelum melanjutkan studi di strata satu (S-1) di perguruan tinggi mana pun.

RELASI: K. Ali Makki bertemu dengan Wakil Kepala Biro JPRM Pamekasan Moh. Ali Muhsin, Senin (11/3). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
RELASI: K. Ali Makki bertemu dengan Wakil Kepala Biro JPRM Pamekasan Moh. Ali Muhsin, Senin (11/3). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

Kebijakan tersebut akan menjadi ultimatum bagi seluruh santrinya.

Salah satu alasan penerapan kebijakan itu adalah pernikahan tidak cukup dengan bekal lulus SMA.

Sebab, membina keluarga dibutuhkan kematangan mental dari kedua pihak. Pengetahuan tentang parenting sebaiknya didapatkan sejak duduk di bangku kuliah.

”Kalau di MA ada ilmu tentang keluarga, tapi hanya dasarnya saja,” ujar K. Ali Makki.

Di tengah kesibukannya, Kiai Makki aktif menulis jurnal dan buku.

Salah satu karya bukunya yang baru diterbitkan berjudul Pendidikan Islam Alternatif di Pesantren Berbasis Multiple Intelligences.

Buku itu membahas tentang penerapan pendidikan pesantren dengan menetapkan pendidikan tradisional yang digabung dengan modern.

Dengan begitu, tercipta keragaman yang khas dan unik.

Kecerdasan ganda (multiple intelligences) ala Howard Gardner ini merupakan suatu upaya memecahkan masalah dalam pendidikan dan pengajaran.

Juga untuk menghasilkan produk baru dengan kurikulum yang sama, tetapi mendapat perlakuan berbeda.

”Itu sekilas dari isi buku saya, hanya untuk mengisi waktu kosong,” tutur K. Ali Makki.

Pihaknya berharap, santri yang mengenyam pendidikan di pesantrennya menjadi insan bermanfaat bagi manusia lainnya meski profesi yang dijalankan berbeda-beda.

Salah satu bentuk ikhtiar dalam menebarkan manfaat yaitu diwujudkan dengan keikutesertaan empat mahasiswanya dalam kuliah kerja nyata (KKN) internasional ke Malaysia.

”Ini salah satu contohnya, dengan harapan bisa berkontribusi di tempat KKN-nya,” ucapnya. (ail/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#ponpes #santri