Puisi Ririe Rengganis

Amin Bashiri • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 10:28 WIB

 

ilustrasi puisi
ilustrasi puisi

 

GARAM DI RAMBUT IBU

 

Ibu selalu membawa laut

di rambutnya.

 

Bukan ombak,

bukan kapal-kapal yang pergi,

melainkan garam

yang mengering setelah pagi

dan menyisakan putih

di antara hitam rambutnya.

 

Dulu kukira

itu uban.

 

Kukira waktu

diam-diam mencuri warna

dari kepala ibu.

 

Ternyata laut

lebih dahulu menua di tubuhnya.

 

Setiap subuh

ia bangun sebelum ayam

sempat mengingat suaranya.

 

Menanak nasi,

menghidupkan api,

membuka pintu,

memanggil nama-nama

yang belum selesai menjadi dewasa.

 

Di dapur,

tangan ibu seperti akar

yang tak pernah bertanya

mengapa pohon

harus terus memberi teduh.

 

Ia memasak untuk ayah,

untuk anak-anak,

untuk tamu yang datang

membawa lapar,

dan untuk dirinya sendiri

yang selalu mendapat bagian

setelah semua kenyang.

 

Kadang aku melihat

ia duduk di ambang pintu

ketika sore menguning.

 

Rambutnya berbau asap,

keringat,

dan sedikit laut.

 

Aku ingin bertanya:

 

berapa banyak yang telah ibu berikan

agar rumah ini

tetap disebut rumah?

 

Tetapi ibu hanya tersenyum.

 

“Perempuan,” katanya,

“harus kuat.”

 

Aku menyimpan kalimat itu

bertahun-tahun

seperti garam di telapak tangan.

 

Baru setelah dewasa

aku tahu,

kuat bukan berarti

tidak pernah lelah.

 

Kuat adalah

tetap menjadi manusia

meski dunia berkali-kali

memintamu menjadi tembok.

 

Malam itu

aku menyisir rambut ibu.

 

Garam jatuh

satu-satu ke lantai.

 

Aku memungutnya

dengan ujung jari.

 

Bukan uban.

Bukan pula debu.

 

Itulah laut

yang selama ini

dibawa ibu pulang.

 

Dan untuk pertama kalinya

aku menangis

karena mengerti:

seumur hidupnya

ibu telah mengeringkan laut

di kepalanya sendiri

agar kami

tidak pernah kehausan.

 

@ririerengganis, 2026

 

 

 

*)Dosen pada Prodi Sastra Indonesia FBS Unesa, memiliki fokus kajian pada psikoanalisis, feminisme, dan studi gender. Puisi tungalnya antara lain Perjalanan Hati (Logung Pustaka, 2004); Biji Bunga Matahari (Amper Media, Juni 2011); Sekuntum Padma di Seberang Jendela (LeutikaPrio, 2012); Catatan Kaki Pembangunan (Pelangi Sastra, Juli 2026).

Editor : Amin Bashiri
puisi bahasa Indonesia sastra puisi