GARAM DI RAMBUT IBU
Ibu selalu membawa laut
di rambutnya.
Bukan ombak,
bukan kapal-kapal yang pergi,
melainkan garam
yang mengering setelah pagi
dan menyisakan putih
di antara hitam rambutnya.
Dulu kukira
itu uban.
Kukira waktu
diam-diam mencuri warna
dari kepala ibu.
Ternyata laut
lebih dahulu menua di tubuhnya.
Setiap subuh
ia bangun sebelum ayam
sempat mengingat suaranya.
Menanak nasi,
menghidupkan api,
membuka pintu,
memanggil nama-nama
yang belum selesai menjadi dewasa.
Di dapur,
tangan ibu seperti akar
yang tak pernah bertanya
mengapa pohon
harus terus memberi teduh.
Ia memasak untuk ayah,
untuk anak-anak,
untuk tamu yang datang
membawa lapar,
dan untuk dirinya sendiri
yang selalu mendapat bagian
setelah semua kenyang.
Kadang aku melihat
ia duduk di ambang pintu
ketika sore menguning.
Rambutnya berbau asap,
keringat,
dan sedikit laut.
Aku ingin bertanya:
berapa banyak yang telah ibu berikan
agar rumah ini
tetap disebut rumah?
Tetapi ibu hanya tersenyum.
“Perempuan,” katanya,
“harus kuat.”
Aku menyimpan kalimat itu
bertahun-tahun
seperti garam di telapak tangan.
Baru setelah dewasa
aku tahu,
kuat bukan berarti
tidak pernah lelah.
Kuat adalah
tetap menjadi manusia
meski dunia berkali-kali
memintamu menjadi tembok.
Malam itu
aku menyisir rambut ibu.
Garam jatuh
satu-satu ke lantai.
Aku memungutnya
dengan ujung jari.
Bukan uban.
Bukan pula debu.
Itulah laut
yang selama ini
dibawa ibu pulang.
Dan untuk pertama kalinya
aku menangis
karena mengerti:
seumur hidupnya
ibu telah mengeringkan laut
di kepalanya sendiri
agar kami
tidak pernah kehausan.
@ririerengganis, 2026
*)Dosen pada Prodi Sastra Indonesia FBS Unesa, memiliki fokus kajian pada psikoanalisis, feminisme, dan studi gender. Puisi tungalnya antara lain Perjalanan Hati (Logung Pustaka, 2004); Biji Bunga Matahari (Amper Media, Juni 2011); Sekuntum Padma di Seberang Jendela (LeutikaPrio, 2012); Catatan Kaki Pembangunan (Pelangi Sastra, Juli 2026).
Editor : Amin Bashiri