Puisi-puisi Moh. Riski Kohar

Amin Basiri • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:16 WIB
Ilustrasi puisi-puisi Riski Kohar
Ilustrasi puisi-puisi Riski Kohar

Bayang di Seberang Jarak

Ada rindu yang mengendap tenang di balik jendela

Menatap gerimis yang menjatuhkan senja satu per satu

Jarak memang membentang benteng di antara kita

Namun bayangmu selalu berhasil menembus waktu

Aku belajar mencintai detak jam yang perlahan

Sebab setiap detik membawaku lebih dekat padamu

Tak perlu risau pada dingin yang menggigit malam

Sebab ingatan tentangmu adalah hangat yang tak pernah padam

Pelabuhan Terakhir

Dunia sering kali terlalu bising dan terburu-buru

Menuntut langkah kita berlari tanpa tumpuan

Namun di matamu, aku menemukan teduh yang membisu

Sebuah tempat rehat dari segala kelelahan

Engkau bukan sekadar singgah yang lewat sepintas

Melainkan rumah tempat jiwaku melepas lelah

Dalam pelukanmu, riuh dunia seketika reda

Dan aku tahu, di sinilah aku akhirnya pulang

Di Luar Batas Musim

Bila bunga-bunga gugur saat gugur tiba

Dan daun-daun hijau berubah menjadi tembaga

Cintaku padamu tak akan tunduk pada rupa

Pun tak akan luntur digerus usia

Aku mencintaimu bukan hanya saat mentari bersinar

Tapi juga saat badai menyelimuti gelap malam

Genggam tanganku, biarlah waktu mencatat janji

Bahwa sampai embusan napas terakhir, namamu tetap abadi

Setangkai Rindu di Telapak Malam

Di antara jeda detik yang berbisik

Namamu hadir, memeluk sunyi yang bening

Bukan sekadar bayang yang singgah sebentar

Melainkan jiwamu yang meredam riuh di dada

Seperti hangat mentari memeluk pagi yang dingin

Hadirmu menyulut terang di lorong yang kelam

Aku menemukan rumah dalam binar matamu

Tempat segala lelah rebah dan menemukan muaranya

Bila waktu adalah arus yang terus mengalir deras

Biar aku menjadi tepian yang selalu setia menyapa

Menunggu senyummu menyambut fajar tiba

Serta menjaga namamu di setiap bait doa

Sebab mencintaimu bukanlah sebuah kebetulan

Melainkan takdir indah yang dirajut langit

Agar aku paham satu hal

Bagaimana rasanya menemukan surga kecil di bumi

Editor : Amin Basiri
puisi bahasa Indonesia puisi