Bayang di Seberang Jarak
Ada rindu yang mengendap tenang di balik jendela
Menatap gerimis yang menjatuhkan senja satu per satu
Jarak memang membentang benteng di antara kita
Namun bayangmu selalu berhasil menembus waktu
Aku belajar mencintai detak jam yang perlahan
Sebab setiap detik membawaku lebih dekat padamu
Tak perlu risau pada dingin yang menggigit malam
Sebab ingatan tentangmu adalah hangat yang tak pernah padam
Pelabuhan Terakhir
Dunia sering kali terlalu bising dan terburu-buru
Menuntut langkah kita berlari tanpa tumpuan
Namun di matamu, aku menemukan teduh yang membisu
Sebuah tempat rehat dari segala kelelahan
Engkau bukan sekadar singgah yang lewat sepintas
Melainkan rumah tempat jiwaku melepas lelah
Dalam pelukanmu, riuh dunia seketika reda
Dan aku tahu, di sinilah aku akhirnya pulang
Di Luar Batas Musim
Bila bunga-bunga gugur saat gugur tiba
Dan daun-daun hijau berubah menjadi tembaga
Cintaku padamu tak akan tunduk pada rupa
Pun tak akan luntur digerus usia
Aku mencintaimu bukan hanya saat mentari bersinar
Tapi juga saat badai menyelimuti gelap malam
Genggam tanganku, biarlah waktu mencatat janji
Bahwa sampai embusan napas terakhir, namamu tetap abadi
Setangkai Rindu di Telapak Malam
Di antara jeda detik yang berbisik
Namamu hadir, memeluk sunyi yang bening
Bukan sekadar bayang yang singgah sebentar
Melainkan jiwamu yang meredam riuh di dada
Seperti hangat mentari memeluk pagi yang dingin
Hadirmu menyulut terang di lorong yang kelam
Aku menemukan rumah dalam binar matamu
Tempat segala lelah rebah dan menemukan muaranya
Bila waktu adalah arus yang terus mengalir deras
Biar aku menjadi tepian yang selalu setia menyapa
Menunggu senyummu menyambut fajar tiba
Serta menjaga namamu di setiap bait doa
Sebab mencintaimu bukanlah sebuah kebetulan
Melainkan takdir indah yang dirajut langit
Agar aku paham satu hal
Bagaimana rasanya menemukan surga kecil di bumi
Editor : Amin Basiri