Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi-puisi Saiful Bahri

Amin Basiri • Minggu, 19 Juli 2026 | 09:08 WIB
Gambar dari Magnific
Gambar dari Magnific

ISTIKHARAH

Kau genggam gelapnya bayangan 

Sambil melangkah perlahan

Di antara keraguan

Yang mengintai di tengah pengembaraan.

 

Malam adalah anugerah terindah 

Yang diberi Tuhan untuk beribadah

Biar hati tidak gegabah 

Di situlah kau singgah.

 

Kau akan mengerti

Saat sunyi tak lagi melukai langkahmu

Dan doa bersemi di telapak waktu.

 

Pada mimpi yang datang tanpa suara

Kau dapati namanya berkilau di langit dada

Laksana bintang yang mengedipkan sebuah harapan.

Lubtara, 26

 

BAHASA

Bahasa menjadi kata 

Dengan baris-barisnya 

Tercipta flora dan fauna.

 

Apa pun yang terlintas 

Tinta akan menguras 

Di buku diari para pujangga 

Yang haus akan lekuk tubuh dunia.

 

Puisi hadir dari sabda

Yang dituangkan pada hitamnya tinta.

 

Tak ada habisnya kosakata

Yang selalu bertebaran ke dalam aksara

Berbentuk diksi, karakter, maupun semacamnya.

 

Dan membentuk UUD Pancasila

Mengharumkan Nusa dan Bangsa

Berbeda suku 

Namun, bahasa yang menjadi penyatu.

Reguler,26

 

SAJAK PINTU

Kenapa kau tutup pintu itu

Sedang aku di sini menunggu

Tak menemukan cahaya 

Kecuali dari lampu yang membuatku

Buta pada dunia.

Reguler, 26

 

PERCAKAPAN

 

Malam suntuk kau masih bercakap ria

Pada detak jantung yang mengeja

Arah segala tetek bengek kata.

 

Sunyi yang mencekik

Hanya engahan napas para pemabuk malam

Kocar-kacir antara kata dan ghiba

Tak ditemukan detik, menit, dan juga angka yang terbuang, sia-sia.

Gubuk Reyot, 26

 

*) Penulis merupakan santri aktif PPA. Lubangsa Utara yang sedang berlabuh di Komunitas Laskar Pena Lubtara atau Reguler. Puisinya nongkrong di berbagai media cetak maupun online.

Editor : Amin Basiri
sastra puisi