ISTIKHARAH
Kau genggam gelapnya bayangan
Sambil melangkah perlahan
Di antara keraguan
Yang mengintai di tengah pengembaraan.
Malam adalah anugerah terindah
Yang diberi Tuhan untuk beribadah
Biar hati tidak gegabah
Di situlah kau singgah.
Kau akan mengerti
Saat sunyi tak lagi melukai langkahmu
Dan doa bersemi di telapak waktu.
Pada mimpi yang datang tanpa suara
Kau dapati namanya berkilau di langit dada
Laksana bintang yang mengedipkan sebuah harapan.
Lubtara, 26
BAHASA
Bahasa menjadi kata
Dengan baris-barisnya
Tercipta flora dan fauna.
Apa pun yang terlintas
Tinta akan menguras
Di buku diari para pujangga
Yang haus akan lekuk tubuh dunia.
Puisi hadir dari sabda
Yang dituangkan pada hitamnya tinta.
Tak ada habisnya kosakata
Yang selalu bertebaran ke dalam aksara
Berbentuk diksi, karakter, maupun semacamnya.
Dan membentuk UUD Pancasila
Mengharumkan Nusa dan Bangsa
Berbeda suku
Namun, bahasa yang menjadi penyatu.
Reguler,26
SAJAK PINTU
Kenapa kau tutup pintu itu
Sedang aku di sini menunggu
Tak menemukan cahaya
Kecuali dari lampu yang membuatku
Buta pada dunia.
Reguler, 26
PERCAKAPAN
Malam suntuk kau masih bercakap ria
Pada detak jantung yang mengeja
Arah segala tetek bengek kata.
Sunyi yang mencekik
Hanya engahan napas para pemabuk malam
Kocar-kacir antara kata dan ghiba
Tak ditemukan detik, menit, dan juga angka yang terbuang, sia-sia.
Gubuk Reyot, 26
*) Penulis merupakan santri aktif PPA. Lubangsa Utara yang sedang berlabuh di Komunitas Laskar Pena Lubtara atau Reguler. Puisinya nongkrong di berbagai media cetak maupun online.
Editor : Amin Basiri