Petani Topi Miring
Di sekujur tubuhku
terlilit tali dan sekantong air
memikul tanpa mengenal haus
demi membasahi tubuh tembakau
Siluet terpampang jelas di belakang petani itu
menggambarkan wajah sendu
kepada sang pencipta.
Matahari dengan tega menyuruh
keringat untuk membakar tubuh telanjangnya.
Manakala hujan menghampiri
wajahnya semakin menjadi
terus, apa yang kau minta?
ucap cakrawala dengan nada suara tinggi.
Aku hanya ingin dia
menyalimi tanganku.
Lubtara, 2026
Sampai Jumpa Senja
Senja mengucapkan salam terakhirnya
pada ribuan jiwa penghuni bumi,
sebelum senyuman itu pudar
pohon pun hormat dengan ranting yang tegak.
Aliran air berhenti sejenak
menghela napas memikul pilu
dengan kepergianmu, di ujung alis cakrawala.
Di kala burung-burung tunduk
menata waktu untuk bertemu
pada hari esok, lusa atau tidak dengan selamanya.
Lubtara, 2026
Ujung
Kujelang bulan
Merosot dengan mata sembapnya
Lalu
Tuhan mengizinkan fajar
Menghapus air matanya.
Lubtara, 2026
Gelas Harapan
Gelas itu memantulkan cahaya harapan
duduk manis merangkul benih sunyi
tertindih oleh bintik-bintik malam.
Bulan duduk berdampingan bersama angan
bintang pun mengukir senyumnya karena itu
malam terus melintasi arus waktu.
Setangkai bunga diletakkan di sana
sampai kapan khayalan itu terus tidur
merebahkan tubuhnya bagai guling tepi ranjang.
Aku menangis tersendu-sendu
meratapi waktu yang terus mengejar
mengiringi masa tua
hingga kini berteduh di ruang hampa.
Lubtara, 2026
Rindu yang Tak Kunjung Pergi
Kujelau jingga di tubuh senja
pada saat malam mulai menyapa.
Wajahmu terus berkeliaran
hingga bulan rela menumpahkan warnanya.
titisan embun menyelimuti malam hari
sambil mengukir harap di koridor mimpi
apakah kau sengaja nona?
Haus rinduku semakin menggebu
memuncak bersama di ujung hulu.
Lubtara, 2026
*)Alumnus Al-Azhar, beberapa puisinya diantologikan di Dalam Hening Kami Bicara, saat ini sedang berteduh di ruang sastra, PPA Lubangsa Utara (Reguler).
Editor : Amin Basiri