Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi-Puisi J. Akit Lampacak

Amin Basiri • Minggu, 24 Mei 2026 | 09:46 WIB
Ilustrasi Puisi J. Akit Lampacak
Ilustrasi Puisi J. Akit Lampacak

KEPADA AYAH

sesaat keringatmu jatuh di tanah retak
mencari akar hidup yang raib dikikis nasib
jerih merambat di tubuhmu
lebih lebat dari pohon benalu. 

cangkul yang kau pikul
saban waktu tak terhitung
selalu jadi bagian dari tubuhku
tak pernah kaku melawan waktu.

kau ulurkan seteguk air
ke tengah hari yang kering,
ketika warna sunyi
menyentuh alur mimpi.

musim memanas,
dan keringat mengalir
menembus nasibku yang getir.

kau terlalu kenal siang
yang merampas bayang,
keinginan yang memaksa jarak
namun di telapak tanganmu
tetap tersisa kebaikan 
yang menutup segala luka.

di lereng bukit,
anakmu belajar berkedip,
belajar melupakan getir
ketika jenuh menambat sauh
lorong setapak di hati padam
takdir tak mampu dibaca
oleh pijak kaki dan doa.

Solo, 2025

KASTOREH

kuncup daun 
menjulurkan lidah
menjilati kuning kemarau
yang resah di ujung sore.

di sawah itu, siur datang
dari perasaan paling lembah
tanah membentuk imaji
lebih ranggas dari janji.

tapi di matamu
kastoreh terasih_
bagai keluh yang 
diam-diam tumbuh
sebelum terucap salam
pada gema yang hilang.

daun pun melebar
jadi ranjang bagi perasaan.
dan tingginya,
meraih puncak harapan.

Solo, 2025

DI TANAH PRANCAK

akankah kita masih bercinta di tanah ini
ketika bunga tembakau berlambai 
melepas senyum pada siur angin pagi_
merapikan siasat hujan di halaman
dan kau mendengar sebuah aroma dari masa lalu
yang riang teringat menjelang 
matahari di pojok daksina malu-malu
mengabarkan siur rendah angin palsu.

demi aroma Temenggung di tanah ini
kita gagal pergi ke Jakarta, iya, Jakarta selalu
menjanjikan harta menurut cerita. tapi
kita masih bersiur di sini, di pagi pertama
menjelang anak tembakau itu berlambai.

demi sesuatu yang kau namai pojur
dalam angan mereka yang masih gemetar
karena langit masih tak sanggup 
menyampaikan salam pada layang-layang.
kita lihat, rupanya mendung masih terpahat.
kita pulang sebentar, sekadar menghibur
jerih dengkul para pencangkul
yang menjunjung ketakutan di atas gunung
namun harus pulang dengan kemarau di bahu kanan.

Solo,2025


SOLANG

laksana angin sore habis dikecup senja
perlahan kupetik pucukmu serasa iba
dengan seribu haru para perjaka
di lembut ranjang malam pertama.

kumatangkan daunmu
tiga malam sebelum perayaan
agar yang kau bawa dari tanah 
pulih memilih arah. 

apa yang dapat dipertahankan
dari lengket daunmu yang hijau
selain ketajaman aroma tujuh sumur
yang dibawa dingin ke lembah paling hilir. 

takdirmu rupanya seharga suam
turut bangun di musim kemarau
dan aku sengaja memelihara kantuk
dalam mimpi yang empuk memburuk.

Sumenep, 2023–2026


MEMETIK DAUN BAWAH

adalah kepak keinginan
pada tembakau yang berdaun lebar
panas merentang jarak

di antara harga dan cuaca
kami sembunyi di dalamnya
bagai roh yang dihisab hari pertama.

apa kabar cuaca hari esok
kami telah meramalmu setajam masa lalu,
meramalmu bagai tembakau yang berpucuk di rahim ibu
penuh desah dan kepasrahan, untuk sekadar melahirkan
aroma kental yang telanjang dari pucukmu.

kami petik dan kami rapikan di penginapan
agar aroma peluh kami ikut menentukan;
seharga berapa nanti bila terjual?
seharum apa bila kelak kau dibakar?
kami senantiasa berada di puntungmu
sebagai keaslian seorang petani
yang merdeka menentukan harga.

Sumenep, 2023–2026


MOCOT

di arah siang yang miring ke kiri
kembali kupetik daun tengahmu;
tembakau yang seharga emas
tentu mengusir berbagai cemas
ketika hari-hari penuh Mocot
seluruh tubuh makin dekat dengan maut. 

Tuhanku. 
berikan kepadaku
hari yang penuh cerah
malam yang jauh dari mendung
bahkan ketika tembakau itu kering
akan kukaitkan lelah ini di ranting-ranting.

sebab tujuh hari sebelum daun tengah kupetik
mimpi buruk melamarku
dengan sisa gerimis di akhir sore
mencekik kehendak kemarau di hati petani.

Sumenep, 2023–2026


NONGKAS

kupetik daun tembakau
menjelang riak burung 
berkicau di musim gugur. 

angin berbisik pada hilir
mencipta genangan takut
pada gugup yang cukup. 

daun bawahmu
bagai suam lamunan
pada kering halaman
tersurat di luas angan.

di tengah gejolak diri 
matahari raib
panas berlidah kilat
dan tubuhmu 
yang hancur beribu-ribu
kering perlahan, 
keras meregang. 

kutampi tubuhmu
agar yang dianggap asap
cepat bersayap;
terbang ke tengah halimun
merapikan berbagai renung. 

kuharap kelak kau jadi puntung yang baik
tak pernah melanggar aturan pemerintah
dan aromamu terus jadi puja 
di awal langkah mereka
menjelang hujan pertama.

Sumenep, 2023–2026

*)Lahir di Sumenep tahun 2000. Puisi-puisinya telah tersiar di berbagai media online dan cetak. Sekarang sedang menenangkan diri di kampung halamannya.

Editor : Amin Basiri
#puisi bahasa Indonesia #puisi