Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi M. Wildan: Melepas Angin Sakal Mengiringi Perjalanan

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 4 Mei 2025 | 15:38 WIB
Ilustrasi puisi Melepas Angin Sakal Mengiringi Perjalanan. (cromaconceptovisual/Pixabay)
Ilustrasi puisi Melepas Angin Sakal Mengiringi Perjalanan. (cromaconceptovisual/Pixabay)

Melepas Angin Sakal Mengiringi Perjalanan
: Diamond Generation, Calon Guru Tugas 25_26

Angin sakal berbisik lembut
Melepas jejak langkahmu di ujung senja
Ia adalah sahabat setia yang tak tampak
Menyusup dalam setiap helaan napas yang kau tinggalkan.

Kau pergi, namun angin sakal tetap memeluk tubuh kakumu
Mengiringi perjalanan terjal dengan rindu yang tak pernah terucap
Seperti daun yang baru saja jatuh
Ia tak pernah benar-benar pergi
Hanya membiarkan kerontang tubuh
Membawanya ke tempat yang baru
Untuk memulai kisah dalam resah.

Di balik setiap langkah
Angin mengisahkan tentang perpisahan
Namun ia tak pernah berhenti
Karena tugasnya adalah mengantarmu
Ke tempat yang lebih jauh
ke harapan yang lebih tinggi,
Masa pengabdian.

Melepasmu, seperti pohon yang melepaskan ranting
Namun hatinya tetap menyatu dengan bumi
Angin sakal tahu perjalanan ini bukanlah perpisahan
Hanya sebuah janji bahwa kau akan kembali
Membawa sekarung dahaga di pertapaan mencari jati diri.

Reguler, 2025

 

…………………………………………………..

Perjalanan

Bawalah aku terhanyut pada samudramu
Tempat aku harus berlabuh

Atau tersesat

 

Bawalah aku pada tempat kita bisa berbagi

Saling melempar sauh

Yang membuat kita menebak penuh penasaran

Pada siapakah yang menuju lebih baik

 

Timur atau selatan sama saja,

Perjalanan kita tak lagi menuju senja

Hanya cahaya berpantulan

Menembus kacamatamu yang tak diurus

Memantulkan wajahmu yang begitu cemas

Pada perihal suasana dingin

Yang tak kenal arah mata angin

 

Reguler, 2025

Baca Juga: Puisi-Puisi Durratun Nadzifah: Di Balik Senyum Purnama

…………………………………………………..

 

Doa Nestapa

Aku haturkan doa

Pada waktu yang terus-menerus mengalir

Pada gerimis yang tiada putus

Pada rindu yang menyesap luka.

 

Saat senja,

Aku mengutuk diri

Dari kenangan yang tiada ada

Menjadi ada.

 

Senja di kotamu

Adalah kisah yang tak terulang

Siapa pun boleh mengabadikan

Atau mengabaikan.

 

Aku berdoa sembari menangis

Sebab bayanganmu terus meminta kembali

Dan ribuan kali membawaku

Ke altar masa lalu.

 

Reguler, 2025

…………………………………………………..

 

Senja di Desamu

Saat menuju desamu

Masihkah senja seperti dulu

Saat pertama kali kita bertemu

Sore, lambaian angin
Gagal memeluk kecemasanmu

Cahaya matahari gagal mengubur

Keresahan jiwamu.

 

Aku di sini, di desamu

Yang bising menyimpan segala masa

Yang telah lama dikikis usia

 

Sepanjang menuju desamu

Aku tidak letih menghitung

Seberapa banyak kenangan di penghujung alismu

Sebab segala gerimis di penghujung jalanmu

Semestinya mengantarkan pada bunyi

Pada apa yang meminta kita

Untuk terus bersama, selamanya.

 

Reguler, 2025

Baca Juga: Puisi Ayu Fauziah: Terguyur Gerimis

…………………………………………………..

 

Malam yang Belum Usai

Ada malam yang terabaikan

Padahal kebersamaan belum usai diartikan

Engkau tinggalkan jejak

Di hatiku tergores rindu

 

Pertemuan kesekian

Kita lewatkan

Awan menghitam

Diam menunggu aba-aba hujan

 

Mari berdekapan di malam yang hening

Menumbuhkembangkan cita rasa

Bermekaran di hawa bergelora

 

Lubtara, 2025

 

…………………………………………………..

Baca Juga: Sanja’na Rifa: Mate Rassa

Menyusurimu

Berjalan menujumu adalah perjuangan

Yang tiada henti 

Mendamaikan jiwa, mempertanyakan realita

Di mana titik tumpumu, di ruang mana engkau bersembunyi

 

Rumahmu aku tahu

Segala suatu milikmu aku tahu

Hanya perasaan yang tak pasti, kelelapan yang ampuh

Membentengi diri

 

Menyusurimu adalah kepastian

Di salah satu itu ada pengorbanan

Mengingatmu, menjunjungmu, menjadikanmu satu

Tetap dalam jiwa, melukis wajah semesta

 

Lubtara, 2025

…………………………………………………..

 

Episode Malam

Pada episode malam

Rindu seakan lebih tenteram

Daripada kenangan yang dipendam

 

Pada episode malam

Awan-awan padam

Seolah-olah dia tahu langit dalam

tentang hikayat alam

 

pada episode malam

engkau mengais tanah layaknya ayam

pada tubuh yang ditelan malam,

 

Lubtara, 2025

…………………………………………………..

 

Memendam Kesunyian

Memendam kesunyian di ruang rindu

Tak ada kabar berkata, bayangan di ujung semu

Menyisakan tapak jejak

Di jalan yang bersenja

Di manakah engkau, wahai sang siaga

 

Cinta lahir dari harapan

Bergejolak di sela-sela kesadaran

Menujunya seperti jalan pulang

Rindu menjelma batang tulang

 

Menjadi sunyi adalah kesenangan

Menghayati perjalanan

Mengenang kebersamaan

Lahir dan datang dalam kesinggahan

Kembali ke akar, menjalar ke dalam

 

Lubtara, 2025

…………………………………………………..

 

Pentol Pinggir Jalan

Nanti,
jika sudah hilang

Kisah ini tinggal kenangan

 

Mobil-mobil berlalu-lalang

Sedang sepeda motor menyembunyikan knalpotnya

Kita membeli pentol pinggir jalan

 

Nanti,

Jika sudah tidak ada

Pentol akan berganti pelanggan

 

Lubtara, 2025

…………………………………………………..

 

Hujan di Kampungku

Adalah hujan

Musim yang kunantikan

Setiap kali datang

Membawa kesejukan malam 

 

Aku sangat senang

Setiap hujan datang

Karena aku bisa hujan-hujanan

Seru-seruan juga

Bahkan sampai kedinginan

 

Begitu pula temanku

Mereka turut gembira

Merayakan musim

Yang menjadikan semua

Sejuk dingin bagaikan salju

Dengan meminum seteguk air hangat

Hingga terlelap ke alam mimpi

 

Lubtara, 2025

…………………………………………………..

 

Berpasrah Diri

Saat dini hari tiba

Kusampaikan doa-doa

Untuk berserah diri

Kepada sang Ilahi

 

Air mulai tenang

Awan-awan bersembunyi

Angin menyejukkan suasana malam

Api memadamkan diri

 

Aroma kematian mendekat

Usia semakin menipis

Bumi hampir menutupi umur

Waktu ingin habis

 

Lubtara, 2025

 

…………………………………………………..

*)Ketua Perpustakaan PPA Lubangsa Utara. Siswa kelas akhir MA 1 Annuqayah jurusan ilmu sosial dan sedang berkelana dengan dunia imajinasi di Laskar Pena Lubtara. Sebentar lagi akan menjadi guru tugas 2025–2026.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Episode Malam #Hujan di Kampungku #Melepas Angin Sakal Mengiringi Perjalanan #Berpasrah Diri #Senja di Desamu #Pentol Pinggir Jalan #Doa Nestapa #Malam yang Belum Usai #Memendam Kesunyian #Menyusurimu #Perjalanan