Melepas Angin Sakal Mengiringi Perjalanan
: Diamond Generation, Calon Guru Tugas 25_26
Angin sakal berbisik lembut
Melepas jejak langkahmu di ujung senja
Ia adalah sahabat setia yang tak tampak
Menyusup dalam setiap helaan napas yang kau tinggalkan.
Kau pergi, namun angin sakal tetap memeluk tubuh kakumu
Mengiringi perjalanan terjal dengan rindu yang tak pernah terucap
Seperti daun yang baru saja jatuh
Ia tak pernah benar-benar pergi
Hanya membiarkan kerontang tubuh
Membawanya ke tempat yang baru
Untuk memulai kisah dalam resah.
Di balik setiap langkah
Angin mengisahkan tentang perpisahan
Namun ia tak pernah berhenti
Karena tugasnya adalah mengantarmu
Ke tempat yang lebih jauh
ke harapan yang lebih tinggi,
Masa pengabdian.
Melepasmu, seperti pohon yang melepaskan ranting
Namun hatinya tetap menyatu dengan bumi
Angin sakal tahu perjalanan ini bukanlah perpisahan
Hanya sebuah janji bahwa kau akan kembali
Membawa sekarung dahaga di pertapaan mencari jati diri.
Reguler, 2025
…………………………………………………..
Perjalanan
Bawalah aku terhanyut pada samudramu
Tempat aku harus berlabuh
Atau tersesat
Bawalah aku pada tempat kita bisa berbagi
Saling melempar sauh
Yang membuat kita menebak penuh penasaran
Pada siapakah yang menuju lebih baik
Timur atau selatan sama saja,
Perjalanan kita tak lagi menuju senja
Hanya cahaya berpantulan
Menembus kacamatamu yang tak diurus
Memantulkan wajahmu yang begitu cemas
Pada perihal suasana dingin
Yang tak kenal arah mata angin
Reguler, 2025
Baca Juga: Puisi-Puisi Durratun Nadzifah: Di Balik Senyum Purnama
…………………………………………………..
Doa Nestapa
Aku haturkan doa
Pada waktu yang terus-menerus mengalir
Pada gerimis yang tiada putus
Pada rindu yang menyesap luka.
Saat senja,
Aku mengutuk diri
Dari kenangan yang tiada ada
Menjadi ada.
Senja di kotamu
Adalah kisah yang tak terulang
Siapa pun boleh mengabadikan
Atau mengabaikan.
Aku berdoa sembari menangis
Sebab bayanganmu terus meminta kembali
Dan ribuan kali membawaku
Ke altar masa lalu.
Reguler, 2025
…………………………………………………..
Senja di Desamu
Saat menuju desamu
Masihkah senja seperti dulu
Saat pertama kali kita bertemu
Sore, lambaian angin
Gagal memeluk kecemasanmu
Cahaya matahari gagal mengubur
Keresahan jiwamu.
Aku di sini, di desamu
Yang bising menyimpan segala masa
Yang telah lama dikikis usia
Sepanjang menuju desamu
Aku tidak letih menghitung
Seberapa banyak kenangan di penghujung alismu
Sebab segala gerimis di penghujung jalanmu
Semestinya mengantarkan pada bunyi
Pada apa yang meminta kita
Untuk terus bersama, selamanya.
Reguler, 2025
Baca Juga: Puisi Ayu Fauziah: Terguyur Gerimis
…………………………………………………..
Malam yang Belum Usai
Ada malam yang terabaikan
Padahal kebersamaan belum usai diartikan
Engkau tinggalkan jejak
Di hatiku tergores rindu
Pertemuan kesekian
Kita lewatkan
Awan menghitam
Diam menunggu aba-aba hujan
Mari berdekapan di malam yang hening
Menumbuhkembangkan cita rasa
Bermekaran di hawa bergelora
Lubtara, 2025
…………………………………………………..
Baca Juga: Sanja’na Rifa: Mate Rassa
Menyusurimu
Berjalan menujumu adalah perjuangan
Yang tiada henti
Mendamaikan jiwa, mempertanyakan realita
Di mana titik tumpumu, di ruang mana engkau bersembunyi
Rumahmu aku tahu
Segala suatu milikmu aku tahu
Hanya perasaan yang tak pasti, kelelapan yang ampuh
Membentengi diri
Menyusurimu adalah kepastian
Di salah satu itu ada pengorbanan
Mengingatmu, menjunjungmu, menjadikanmu satu
Tetap dalam jiwa, melukis wajah semesta
Lubtara, 2025
…………………………………………………..
Episode Malam
Pada episode malam
Rindu seakan lebih tenteram
Daripada kenangan yang dipendam
Pada episode malam
Awan-awan padam
Seolah-olah dia tahu langit dalam
tentang hikayat alam
pada episode malam
engkau mengais tanah layaknya ayam
pada tubuh yang ditelan malam,
Lubtara, 2025
…………………………………………………..
Memendam Kesunyian
Memendam kesunyian di ruang rindu
Tak ada kabar berkata, bayangan di ujung semu
Menyisakan tapak jejak
Di jalan yang bersenja
Di manakah engkau, wahai sang siaga
Cinta lahir dari harapan
Bergejolak di sela-sela kesadaran
Menujunya seperti jalan pulang
Rindu menjelma batang tulang
Menjadi sunyi adalah kesenangan
Menghayati perjalanan
Mengenang kebersamaan
Lahir dan datang dalam kesinggahan
Kembali ke akar, menjalar ke dalam
Lubtara, 2025
…………………………………………………..
Pentol Pinggir Jalan
Nanti,
jika sudah hilang
Kisah ini tinggal kenangan
Mobil-mobil berlalu-lalang
Sedang sepeda motor menyembunyikan knalpotnya
Kita membeli pentol pinggir jalan
Nanti,
Jika sudah tidak ada
Pentol akan berganti pelanggan
Lubtara, 2025
…………………………………………………..
Hujan di Kampungku
Adalah hujan
Musim yang kunantikan
Setiap kali datang
Membawa kesejukan malam
Aku sangat senang
Setiap hujan datang
Karena aku bisa hujan-hujanan
Seru-seruan juga
Bahkan sampai kedinginan
Begitu pula temanku
Mereka turut gembira
Merayakan musim
Yang menjadikan semua
Sejuk dingin bagaikan salju
Dengan meminum seteguk air hangat
Hingga terlelap ke alam mimpi
Lubtara, 2025
…………………………………………………..
Berpasrah Diri
Saat dini hari tiba
Kusampaikan doa-doa
Untuk berserah diri
Kepada sang Ilahi
Air mulai tenang
Awan-awan bersembunyi
Angin menyejukkan suasana malam
Api memadamkan diri
Aroma kematian mendekat
Usia semakin menipis
Bumi hampir menutupi umur
Waktu ingin habis
Lubtara, 2025
…………………………………………………..
*)Ketua Perpustakaan PPA Lubangsa Utara. Siswa kelas akhir MA 1 Annuqayah jurusan ilmu sosial dan sedang berkelana dengan dunia imajinasi di Laskar Pena Lubtara. Sebentar lagi akan menjadi guru tugas 2025–2026.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti