Sepi di Meja Makan
kursimu kosong,
sunyi terasa.
Tak ada senyum yang menyapa,
hanya kenangan yang tersisa.
Di meja makan aku termenung,
teringat tawamu yang menenangkan.
Ayah, rindu ini semakin dalam,
di setiap suapan, kau selalu terbayang.
Battangan,2025
……………………………………………
Baca Juga: Sanggar Andalas dan Saksi Pernah Raih Penghargaan Sastra
Suara yang Hilang
Dulu kau membangunkanku lembut,
di subuh hening yang penuh cahaya.
Kini alarm berbunyi dingin,
tanpa suara yang penuh kasih sayang.
Aku rindu panggilanmu,
Rindu sentuhan yang membangunkanku.
Ramadan ini terasa sunyi,
Karena suaramu tak lagi menyertai.
Gapura, 2025
……………………………………………
Baca Juga: Puisi-Puisi Durratun Nadzifah: Di Balik Senyum Purnama
Kepada Bapak
Di sujud panjang kusebut namamu,
kirim rindu lewat doa yang sendu.
Ayah, apakah kau mendengarnya?
Apakah kau bahagia di surga-Nya?
Aku tak bisa lagi meraih tanganmu,
tapi doa ini kukirim setulus hati.
Semoga Allah melapangkan jalanmu,
menjadikan rinduku pahala abadi.
2025
……………………………………………
Ramadan yang Berbeda
Ramadan ini penuh air mata,
tak ada lagi kehangatan darimu.
Ayah, di setiap sujud kupeluk namamu,
menunggu waktu bertemu kembali.
Meskipun kau jauh di sisi-Nya,
cintamu tak akan pernah pudar.
Ayah, selamat beristirahat di surga,
rinduku akan selalu menjagamu.
05 Ramadhan 1446 H
……………………………………………
Baca Juga: Sanja'na M. Tauhed Supratman: Powasa Sakolana Kalbhu
Pergi tanpa Salam
Rumah yang berdiri lesu,
Tanpa peluk, tanpa tamu.
Ketupat terdiam di sudut meja,
Menunggu tangan yang tak kunjung tiba.
angin angin berbisik lirih,
Menyanyikan rindu yang teriris pedih.
Tak ada salam, tak ada tawa,
Hanya sepi yang bertakhta.
2025
……………………………………………
*)Lahir di Sumenep, santri aktif PP Annuqayah Daerah Lubangsa sekaligus mahasiswa Annuqayah dan pustakawan Lubangsa.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti