Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi Ayu Fauziah: Terguyur Gerimis

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 16 Maret 2025 | 12:55 WIB
Ilustrasi gerimis. (spshilpaprakash/pixabay)
Ilustrasi gerimis. (spshilpaprakash/pixabay)

Menggagahi Pendirian

Karang pada desaku,

Harumnya melejit hingga ke semenanjung benua

Cantik tuturnya terdengar merdu di kalangan pujangga

Dengan gagah dan bangga aku berteriak

”Aku lahir dalam kasih cintanya!!”

Sepasang dua pasang mata mencurigaiku

Seraya memintaku bertaruh

Aku terlalu miskin untuk mempertaruhkan hidupku

Namun orang-orang itu malah melucuti pikiranku

Saat aku pergi ke ujung tombak dan meraih harapan

Aku pun menemui jawaban

Iya, kan ku pertaruhkan seluruh napasku

Baca Juga: Sanja’na Rifa: Mate Rassa

 

Mendamba Benih Kehidupan

Lentera yang melengkungkan rindu

Tersapu angin menatap sendu

Bentala yang menjadi tempat pertamaku mengais

Mengundang haru di setiap bibir pesisir

Dibuatnya pilu saat ku tak lagi menapaknya

Maduraku tertakhta

Harummu kan kubawa hingga ujung dunia

 

Terguyur Gerimis

Pelik rasanya hidup dekat dengan dahaga

Akankah dipikulnya malu saat tangan membawa hampa

Ataukah dibuangnya sebagai ancaman

Beribu kasih ku tanamkan untuknya

Hanya harap berbunga cinta

Saat tumbuhnya ternyata hitam

Harapku takkan lebur dalam kebencian

Siapakah yang dapat membaca senduku?

Aku pun ingin kembali sembari mengalungkan kehangatan

Dan saat tekadku mengepal, badai pun tak kan mampu menutup pintunya

 

Menyelami Hakikat

Bukan sudah Tuhan sempurnakan nusaku

Pulau nan kecil beribu tradisi

Saat semua tergerus zaman,

Memencilkan tradisi demi menepis kehausan

Maduraku masih sama

Bukan salah tak terbuka

Bukan kolot tak berkembang

Nusaku hanyalah korban

Dari keegoisan khalayak

 

Selimut Desaku

Kabut telah memeluk kota asalku

Adakah kipas angin raksasa dapat mengusirnya?

Semakin mengibasnya aku semakin terlempar

Hujan saja tak dapat menyapu kelabu

Tuanku dikelilingi bangkai beracun

Kulihat seribu permaisurinya dicekoki jamu kehidupan

Angsa dan burung-burung meringkuk atas kepedihan

Lantas siapa yang harusnya lebih dulu kupeluk?

 

*)Dilahirkan oleh seorang perempuan tangguh di Kabupaten Bangkalan. Didikan orang tuanya agar selalu belajar dan bekerja keras membawanya hanyut dalam dahaga ilmu. Saat ini ia tengah menyelesaikan pendidikan di Kota Atlas. Selain aktif menulis dan kerap memenangkan perlombaan dalam kategori menulis tulisan sastra, ia juga turut aktif menulis berita dan artikel di media kampusnya.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Mendamba Benih Kehidupan #Terguyur Gerimis #Selimut Desaku #Menyelami Hakikat #Menggagahi Pendirian