Kwatrin Sepak Bola: Tribun
dari atas tribun, kaki-kaki pesepak bola terlihat berbeda
telapak-telapaknya palsu—kecuali yang bersepatu kaca
sebagaimana Cinderella, ia akan terburu-buru kabur
ketika wasit mendentangkan peluit dua belas kali
seseorang duduk di bangku timur membawa bendera
yang beli dari pedagang yang mengaku pernah ke surga
”di surga juga ada tim sepak bola, luar biasa hebat.”
maka ia membelinya, mulai mengibar-ngibar keluguan
ini pertandingan yang tidak seru, tribun teramat hening
bangku-bangku di belakang gawang diduduki manekin
yang memelototi kekosongan betapa dalam, betapa diam
menanti, sesiapa memutar kenop-kenop di punggung
peluit panjang dibunyikan, tribun tetap biasa-biasa saja
skor imbang, sesuai perjanjian masing-masing pelatih
yang mengeluarkan dompet di depan wasit pertandingan
lalu bersila di lapangan, menjilati ujung-ujung uang
.....................................................................................
Kwatrin Sepak Bola: Gawang
jala-jala begitu lara meratapi umpatan dari mata
yang mengutuki jampi-jampi yang tak mempan lagi
saat gol sudah dilesakkan dua kali. hampir tiga kali,
andai penendang tak lupa mengganti baut-baut di kaki
tak ada yang mengerti betapa gemetar tiang gawang
setiap penyerang mengambil ancang-ancang seolah
ada kecewa yang hendak ia pentalkan jauh-jauh
menembus cincin-cincin cakrawala di garis dadanya
semalam sebelum pertandingan, suporter berkerumun
lalu menari-nari mengelilingi gawang. berseberangan
saling melempar kutukan hingga menaburkan karat
”tim kita akan menang! akan melubangi gawangmu!”
di lapangan, wasit meneguk bertabung-tabung helium
menyiapkan diri meniup peluit panjang—yang ia kira
sangkakala. sementara tiang gawang di depan melemas
”hei, bisa cepat selesaikan pertandingan ini? aku lelah!”
dan lari penyerang mulai menyeberangi gurun pasir
membawa bola mengembara lapangan yang tinggal
hitungan jengkal. lamat-lamat kakinya berancang
lalu menendang bulan ke sisi kiri gawang.
.....................................................................................
Memoar Keningmu
terlalu banyak kaktus tumbuh di pekarangan
kepalamu. terpancang di benakmu yang pasir
panas puluhan derajat, cukuplah menggersang
dan menggerayang embun-embun di mukim
memoar
menusuk-nusuk pikiranmu hingga bocorlah
keningmu dan ingatan-ingatan berloncatan
ke mana-mana, yang buatmu seketika panik
sambil meletakkan telunjuk ke lubang-lubang
memoar
di keningmu itu, yang perlahan mengeluarkan
bebunyi angin selaik siulan-siulan oleh angin
pada lubang-lubang seruling, menggerakkan
gerik ular-ular yang menari, lalu melingkari
memoar
perlahan, demi perlahan dan perlahan-lahan
kepalamu semakin kempis, matamu semakin
menunjukkan tanda-tanda gerimis. sedang
aku tahu, takkan pernah ada ritmis yang buat
memoar-memoarmu mati
di genangan gerimis
.....................................................................................
Baca Juga: Puisi Saiful Bahri: Rumah Osing Kemiren
Doamu
barangkali doamu adalah lantai dansa
tempat air mata melupakan waktunya
tempat isakan memainkan lagunya
tempat aku bertepuk tangan
sebagai satu-satunya penonton
melempari doa-doamu di sana
dengan bertangkai bunga-bunga
(Jember, 2023)
.....................................................................................
Embun
Embun dalam dekapan
doa dalam pelukan
bening matamu,
merapalnya dalam bingkisan
(Jember, 2023)
.....................................................................................
Setelah Ini, Aku Akan Mengantuk
setelah ini, aku akan mengantuk
buku-buku mengantuk. tinta mengantuk
bangku, meja, dan lantai teras
begitu empuk. menyumpal gumam efisiensi
teori yang kian lapuk
setelah ini, kata-kata adalah bom
waktu. diselotipkan pada aku yang
mengantuk. dan proyektor akan
memutarkan materi. menayangkan
kasus panas dalam negeri. menayang
aku yang ternyata tengah
sibuk mendengkuri sakit hati pada
hilangnya hak asasi
setelah ini, biar kutuntas segala
kantuk. mengemasnya dalam
peluru. menempelnya di kepala
terantuk
menarik pelatuk.
.....................................................................................
Kemarin Dulu
kita duduk sebaris, hampir bersisian
di bangku yang saling kita hubung
bak getar hati yang linglung
beberapa kali, aku melarik pandang
dalam setayang khayal membalas senyum
yang kau susun mungil-mungil
yang menukar sunyi di rongga dada
dengan degup yang gaduh
yang melindap segala gagahku
di cangkang matamu
sebuah kesimpulan sederhana
usai sekilas lirikmu menjumpaiku
sembari berlalu menyerupa musafir
bahwa senyum dan bola matamu
sama ramahnya
menyapaku meski di angan-angan
(2024)
.....................................................................................
*)Lahir di Ambon, 24 September. Saat ini berdomisili di Malang. Berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama, serta telah mengeluarkan 4 buku kumpulan puisi dan kumpulan cerpen.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News