Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi Andi Wirambara; Kwatrin Sepak Bola: Tribun

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 19 Januari 2025 | 13:10 WIB
Andi Wirambara, berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama dan lain-lain.
Andi Wirambara, berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama dan lain-lain.

Kwatrin Sepak Bola: Tribun

dari atas tribun, kaki-kaki pesepak bola terlihat berbeda

telapak-telapaknya palsu—kecuali yang bersepatu kaca

sebagaimana Cinderella, ia akan terburu-buru kabur

ketika wasit mendentangkan peluit dua belas kali

 

seseorang duduk di bangku timur membawa bendera

yang beli dari pedagang yang mengaku pernah ke surga

”di surga juga ada tim sepak bola, luar biasa hebat.”

maka ia membelinya, mulai mengibar-ngibar keluguan

 

ini pertandingan yang tidak seru, tribun teramat hening

bangku-bangku di belakang gawang diduduki manekin

yang memelototi kekosongan betapa dalam, betapa diam

menanti, sesiapa memutar kenop-kenop di punggung

 

peluit panjang dibunyikan, tribun tetap biasa-biasa saja

skor imbang, sesuai perjanjian masing-masing pelatih

yang mengeluarkan dompet di depan wasit pertandingan

lalu bersila di lapangan, menjilati ujung-ujung uang

.....................................................................................

Kwatrin Sepak Bola: Gawang

jala-jala begitu lara meratapi umpatan dari mata

yang mengutuki jampi-jampi yang tak mempan lagi

saat gol sudah dilesakkan dua kali. hampir tiga kali,

andai penendang tak lupa mengganti baut-baut di kaki

 

tak ada yang mengerti betapa gemetar tiang gawang

setiap penyerang mengambil ancang-ancang seolah

ada kecewa yang hendak ia pentalkan jauh-jauh

menembus cincin-cincin cakrawala di garis dadanya

 

semalam sebelum pertandingan, suporter berkerumun

lalu menari-nari mengelilingi gawang. berseberangan

saling melempar kutukan hingga menaburkan karat

”tim kita akan menang! akan melubangi gawangmu!”

 

di lapangan, wasit meneguk bertabung-tabung helium

menyiapkan diri meniup peluit panjang—yang ia kira

sangkakala. sementara tiang gawang di depan melemas

”hei, bisa cepat selesaikan pertandingan ini? aku lelah!”

 

dan lari penyerang mulai menyeberangi gurun pasir

membawa bola mengembara lapangan yang tinggal

hitungan jengkal. lamat-lamat kakinya berancang

lalu menendang bulan ke sisi kiri gawang.

.....................................................................................

Memoar Keningmu

terlalu banyak kaktus tumbuh di pekarangan

kepalamu. terpancang di benakmu yang pasir

panas puluhan derajat, cukuplah menggersang

dan menggerayang embun-embun di mukim

memoar

menusuk-nusuk pikiranmu hingga bocorlah

keningmu dan ingatan-ingatan berloncatan

ke mana-mana, yang buatmu seketika panik

sambil meletakkan telunjuk ke lubang-lubang

memoar

di keningmu itu, yang perlahan mengeluarkan

bebunyi angin selaik siulan-siulan oleh angin

pada lubang-lubang seruling, menggerakkan

gerik ular-ular yang menari, lalu melingkari

memoar

perlahan, demi perlahan dan perlahan-lahan

kepalamu semakin kempis, matamu semakin

menunjukkan tanda-tanda gerimis. sedang

aku tahu, takkan pernah ada ritmis yang buat

 

memoar-memoarmu mati

di genangan gerimis

.....................................................................................

Baca Juga: Puisi Saiful Bahri: Rumah Osing Kemiren

Doamu

barangkali doamu adalah lantai dansa

tempat air mata melupakan waktunya

tempat isakan memainkan lagunya

tempat aku bertepuk tangan

sebagai satu-satunya penonton

melempari doa-doamu di sana

dengan bertangkai bunga-bunga

 

(Jember, 2023)

.....................................................................................

Embun

Embun dalam dekapan

doa dalam pelukan

bening matamu,

merapalnya dalam bingkisan

 

(Jember, 2023)

.....................................................................................

Setelah Ini, Aku Akan Mengantuk

setelah ini, aku akan mengantuk

buku-buku mengantuk. tinta mengantuk 

bangku, meja, dan lantai teras

begitu empuk. menyumpal gumam efisiensi 

teori yang kian lapuk


setelah ini, kata-kata adalah bom

waktu. diselotipkan pada aku yang

mengantuk. dan proyektor akan 

memutarkan materi. menayangkan

kasus panas dalam negeri. menayang

aku yang ternyata tengah 

sibuk mendengkuri sakit hati pada

hilangnya hak asasi


setelah ini, biar kutuntas segala 

kantuk. mengemasnya dalam

peluru. menempelnya di kepala

terantuk

menarik pelatuk.

.....................................................................................

Kemarin Dulu

kita duduk sebaris, hampir bersisian

di bangku yang saling kita hubung

bak getar hati yang linglung

 

beberapa kali, aku melarik pandang

dalam setayang khayal membalas senyum

yang kau susun mungil-mungil

 

yang menukar sunyi di rongga dada

dengan degup yang gaduh

yang melindap segala gagahku

di cangkang matamu

 

sebuah kesimpulan sederhana

usai sekilas lirikmu menjumpaiku

sembari berlalu menyerupa musafir

 

bahwa senyum dan bola matamu

sama ramahnya

menyapaku meski di angan-angan

 

(2024)

.....................................................................................

*)Lahir di Ambon, 24 September. Saat ini berdomisili di Malang. Berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama, serta telah mengeluarkan 4 buku kumpulan puisi dan kumpulan cerpen.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Doamu #embun #Kemarin Dulu #gawang #Memoar Keningmu #Kwatrin Sepak Bola #Aku Akan Mengantuk #Tribun