Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi Irman Hermawan; Aku Ingin Menulis, Ibu

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 26 Mei 2024 | 17:45 WIB
Ilustrasi puisi Aku Ingin Menulis, Ibu. (Pixabay)
Ilustrasi puisi Aku Ingin Menulis, Ibu. (Pixabay)

Aku Ingin Menulis, Ibu

Sampai sekarang aku masih ingin menulis, ibu

menulis rangkaian kata yang memujamu.

 

Sampai saat ini aku masih ingin menulis, ibu

sebuah tulisan yang tak pernah ditulis dalam takdirku.

 

munulismu, ibu

mencari kata-kata indah untukmu

sama halnya dengan upaya

aku mencari kematian tuhanku.

 

24

………………………………..

 

Jiwa

Jiwa yang seperti samudra

menyembunyikan riuh, gelombang,

arus, dan ikan-ikan.

 

Masuklah dalam jiwa, o pecinta

sebab semakin kau dalam memasukinya

kau tak akan menemukan oksigen

untuk bernapas di dalamnya.

 

kau akan karam dengan karang-karang

tempat kerang menjadikan permata,

tempat ikan-ikan yang beragam warna.

 

Masuklah dalam jiwa, o pecinta

jiwa yang seperti samudra

menampung rahasia-rahasia berharga.

 

24

………………………………..

 

Ibu

Aku bukan anak yang baik, ibu

dari puting kenakalanku

yang menyisakan air matamu.

 

dari tirai gelap mataku kau menuruniku air mata

air mata yang pernah kuciptakan

semasa kanak dulu.

 

Aku bukan anak yang baik, ibu

dari puting susumu yang menjadi daging

menjadi darah, menjadi tulang belulang.

 

Ibu, kau pembohong sejati

saat hatimu riuh dengan kesedihan

kau berikan kasih sayang padaku.

 

anakmu yang nakal ini, ibu

masih kau turuni air mata ke mataku.

 

24

………………………………..

 

Proklamasi Harapan

proklamasi menggema dalam perut mereka

di setiap butir-butir nasi yang tersisa di sampah

dan suara tajam menggema, menggelegar di tumpukan kardus dan karet plastik.

 

Momen-momen singkat menjadi mimpi abadi.

dalam perjalanan cahaya menuju takdir.

 

: aku seseorang yang menyanyikan penderitaan

keberadaan tragis hantaman darah

pada daging yang terluka.

 

Karena aku ingin melupakan namaku dan lekuk

tubuhku, dan merasakan tubuhku dalam penderitaan orang lain.

 

24

………………………………..

 

Kematian

           Kepada: Lilik

Semua orang di sana, diam menunggu kematian. kematian yang kadang menyerupai sepoi,

suara bulir-bulir gandum dan padi, menyerupai kicau burung dalam gereja atau dalam sangkar yang tersiksa.

 

waktu adalah hal untuk kita tebus suatu hari.

hidup hanya gundukan yang penuh penderitaan, penuh kesengsaraan.

Kematian adalah bayangan dingin yang telah diperhitungkan.

kadang ia menjelma ketakutan, air mata, dan penderitaan.

 

Semua orang diam menunggunya di sana. di hitungan langkah demi langkah

di dalam keheningan jiwanya yang tak berdaya.

 

Dunia ini secepat dengung nyamuk yang tergesa-gesa hilang

dan datang sekejap mata.

 

24

………………………………..

 

Bukalah Lebih Cepat

Bukalah lebih cepat layar-layar perahu, adikku

supaya angin membawa kita ke masa lalu

Membawa kita ke waktu kae dan eppak

berlayar tanpa ada keraguan di lautan

tanpa ada ketakutan

tak akan dapat makan dan minum.

 

Bukalah lebih cepat layar ketakutanmu, adikku

malam tak akan pernah mengutukmu

malam hanya menghiasi kesunyian

saat ibu tak bersamamu.

 

Bukalah lebih cepat segala hal

yang membuatmu gelisah, adikku

kegelisahan hanya tembok penghalang

agar kau kembali dalam penyesalan

agar kau kembali dalam ketidaktahuan.

 

23-24

………………………………..

*)Lahir di Legung Timur, Batang-Batang, Sumenep. Alumnus MA Lughatul Islamiyah. Bergiat di Komunitas Damar Korong.

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#ingin menulis #Bukalah Lebih Cepat #jiwa #kematian #Proklamasi #aku #Komunitas Damar Korong #ibu #harapan