Aku Ingin Menulis, Ibu
Sampai sekarang aku masih ingin menulis, ibu
menulis rangkaian kata yang memujamu.
Sampai saat ini aku masih ingin menulis, ibu
sebuah tulisan yang tak pernah ditulis dalam takdirku.
munulismu, ibu
mencari kata-kata indah untukmu
sama halnya dengan upaya
aku mencari kematian tuhanku.
24
………………………………..
Jiwa
Jiwa yang seperti samudra
menyembunyikan riuh, gelombang,
arus, dan ikan-ikan.
Masuklah dalam jiwa, o pecinta
sebab semakin kau dalam memasukinya
kau tak akan menemukan oksigen
untuk bernapas di dalamnya.
kau akan karam dengan karang-karang
tempat kerang menjadikan permata,
tempat ikan-ikan yang beragam warna.
Masuklah dalam jiwa, o pecinta
jiwa yang seperti samudra
menampung rahasia-rahasia berharga.
24
………………………………..
Ibu
Aku bukan anak yang baik, ibu
dari puting kenakalanku
yang menyisakan air matamu.
dari tirai gelap mataku kau menuruniku air mata
air mata yang pernah kuciptakan
semasa kanak dulu.
Aku bukan anak yang baik, ibu
dari puting susumu yang menjadi daging
menjadi darah, menjadi tulang belulang.
Ibu, kau pembohong sejati
saat hatimu riuh dengan kesedihan
kau berikan kasih sayang padaku.
anakmu yang nakal ini, ibu
masih kau turuni air mata ke mataku.
24
………………………………..
Proklamasi Harapan
proklamasi menggema dalam perut mereka
di setiap butir-butir nasi yang tersisa di sampah
dan suara tajam menggema, menggelegar di tumpukan kardus dan karet plastik.
Momen-momen singkat menjadi mimpi abadi.
dalam perjalanan cahaya menuju takdir.
: aku seseorang yang menyanyikan penderitaan
keberadaan tragis hantaman darah
pada daging yang terluka.
Karena aku ingin melupakan namaku dan lekuk
tubuhku, dan merasakan tubuhku dalam penderitaan orang lain.
24
………………………………..
Kematian
Kepada: Lilik
Semua orang di sana, diam menunggu kematian. kematian yang kadang menyerupai sepoi,
suara bulir-bulir gandum dan padi, menyerupai kicau burung dalam gereja atau dalam sangkar yang tersiksa.
waktu adalah hal untuk kita tebus suatu hari.
hidup hanya gundukan yang penuh penderitaan, penuh kesengsaraan.
Kematian adalah bayangan dingin yang telah diperhitungkan.
kadang ia menjelma ketakutan, air mata, dan penderitaan.
Semua orang diam menunggunya di sana. di hitungan langkah demi langkah
di dalam keheningan jiwanya yang tak berdaya.
Dunia ini secepat dengung nyamuk yang tergesa-gesa hilang
dan datang sekejap mata.
24
………………………………..
Bukalah Lebih Cepat
Bukalah lebih cepat layar-layar perahu, adikku
supaya angin membawa kita ke masa lalu
Membawa kita ke waktu kae dan eppak
berlayar tanpa ada keraguan di lautan
tanpa ada ketakutan
tak akan dapat makan dan minum.
Bukalah lebih cepat layar ketakutanmu, adikku
malam tak akan pernah mengutukmu
malam hanya menghiasi kesunyian
saat ibu tak bersamamu.
Bukalah lebih cepat segala hal
yang membuatmu gelisah, adikku
kegelisahan hanya tembok penghalang
agar kau kembali dalam penyesalan
agar kau kembali dalam ketidaktahuan.
23-24
………………………………..
*)Lahir di Legung Timur, Batang-Batang, Sumenep. Alumnus MA Lughatul Islamiyah. Bergiat di Komunitas Damar Korong.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti