Mata Rama
Bila matamu adalah palung mariana
Akan aku curi tongkat Musa
Untuk menyibak segala bentuk sunyi
Yang gema dan siksanya hanya mampu
Kutanggung sendiri
Bila matamu adalah bara api
Maka akulah titisan Ibrahim
Yang dengan senang hati
Menyeludupkan segenap nyeri dalam tubuh ini
Annuqayah, 2023
.....................................................
Eppak
Laut pecah dari kelopak matamu
Dan akulah penumpang Nuh yang terdampar
Pada kebisuan batu karang
Tapi dengan hati yang tak pernah menampung gelombang
Kau mencuri tongkat Musa untuk membelah biru samudra
Hingga aku kembali berjalan menujumu
Mencari aku dalam dirimu.
Annuqayah, 2023
.....................................................
Engkau
Di tengah kesendirian aku mendengar
Suara burung-burung nasar
dikirim masa lalu ke arah matahari menghancurkan tubuh.
Raggas masih memeluk udara dan asin laut menggaram di kaca jendela.
Aku ingin meminjam cahaya bulan
Untuk diletakkan di pohon nyiur yang condong di tepi pantai
Dan di tengah keheningan masih setia ku sebut namamu
Namun suara-suara burung nasar makin memekakan telinga;
Belum sempat kuletakkan bulan
Jiwaku dipatuk kematian.
Lubri, Desember 2023
.....................................................
Baca Juga: Harmoni Pendidikan Rahmatan Lil Alamin
Rendezvous di Kedai Ngombe
Dari kedai kecil ini, Mas
Hal apa yang paling mungkin aku bawa
Untuk bekal perjalanan panjang
Tanpa tentu arah pulang
Sedang hatiku hanyalah sebungkus air;
Gagal dibekukan dalam waktu semalam,
Dingin, namun begitu gampang mencair.
Mungkin perabotan lengkap si pemilik kedai
Untuk membuat semangkuk seblak
Dengan bau pedas yang menusuk mata dan dada kita
Lalu kubayangkan wajahmu menguar
Dari balik kepul asap di wajan, dan kau lagi-lagi berkata
”Bisakah aku memesan semangkuk seblak
Dengan level yang tidak wajar
Rasa–perasaan, entah pedas atau apa pun
Tapi tidak dari racikan si pemilik kedai ini
Namun dari hati dan ranum senyummu sendiri”
Atau barangkali sebuah blender;
Ia yang selalu terbahak
Saat kau tiba-tiba berdiri di balik etalase buah-buahan
Dan kita sama-sama mencari dalam tatapan;
aku mencari siapa saja yang terperangkap dalam matamu,
kau barangkali mencari halaman mana yang paling
nikmat untuk dibaca dalam mataku.
Kau diam-diam menghentikan waktu di pergelangan tanganmu
Lalu berbisik ”Tersenyumlah sesekali, karena terlalu hambar rasa
Jus buah ini, meski kau tambah kadar gula berkali-kali”
Dari kedai kecil ini, Mas
Hal apa yang mungkin aku bawa
Untuk meleburkan cemas di kepala?
Gili Iyang–Guluk-Guluk, 2024
.....................................................
Baca Juga: Rumah Kontrakan
Notabene Setiap Doa
i/
Ibu
Di dadaku ada sebuah tungku api mengepul
Saat cahaya matahari menetes lewat bulir-bulir embun
Dan kau duduk tersipu di depannya
Meletakkan semangkuk mayang
”biarkan aromanya di bungkus udara
Hingga kemudian menyeruak dalam rumah kita”
ii/
Di dadaku pula, Bu
Sekam kerinduan menumpuk
Dan nyala api menjalar perlahan
Asap membubung tebal
Sengaja tak kututupi
Agar membentuk awan
Lalu langit membusurkan tajam hujan
Dan kemarau di dadamu berhenti merayakan kemenangan
iii/
Dari kejauhan yang tak terpetakan ini, Bu
Apakah di saat matahari mengelupaskan diri
Kau masih setia meracik pindang seruni
Untuk menyambut malam minggu yang nyilu
Dan pura-pura merobek tabir kehilangan
Pada kursi dan meja makan yang sudah sekian purnama
Malas merawat kenangan.
Annuqayah, 2024
.....................................................
*)Alumnus PP Nasy’atul Mutaallimin dan Madrasah Ibtidaiyah Alhidayah.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti