SUMENEP, RadarMadura.id – Pintu di ruang pojok timur kantor KPU Sumenep sedikit terbuka. Di baliknya, tampak Farid sedang membaca koran Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Pria kelahiran 12 Desember 1992 itu sengaja menunggu kedatangan JPRM.
”Silakan masuk. Ini ruang kerja saya. Siapa pun boleh berada di sini,” kata Farid sambil melempar senyum menyambut kedatangan JPRM, Senin (24/6).
Alumnus Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta, itu dikenal sebagai pemuda yang cukup aktif.
Dia cukup aktif di berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan.
Sebut saja misalnya, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kecamatan Ganding, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PAGMNI) Sumenep hingga Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan Ganding.
”Saya memang tipikal orang yang cukup aktif. Saya selalu ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat dan positif. Saya tidak bisa kalau berada dalam situasi diam,” tuturnya.
Dia tumbuh dalam lingkungan dan didikan orang tua yang cukup keras dan ketat. Namun, tidak dalam konotasi negatif. ”Saya dididik dengan penuh kedisiplinan oleh orang tua,” ucapnya.
Dengan kultur itulah, karakter dia terbentuk. Sehingga, ingin tampil sebagai orang yang memiliki kepribadian dan pekerja keras.
Manusia pemimpi adalah konotasi yang paling pas disematkan kepadanya. Dia selalu berkeyakinan bahwa semua hasil yang dicapai berawal dari sesuatu dan target yang diimpikan.
”Termasuk mungkin ketika saya berada di sini. Semuanya berawal dari mimpi. Saya selalu ingin menjadi yang terdepan mengambil sebuah tanggung jawab,” tegasnya.
Baca Juga: Anggaran Pelatihan UMKM di Sumenep Nihil
Tenaga pendidikan di Madrasah Diniyah dan SMAI Sabilul Huda, Gadu Barat, Ganding, Sumenep, itu memiliki berbagai pengalaman sejak 2019.
Tidak ujuk-ujuk mendaftar dalam seleksi komisioner KPU jika bukan karena bekal yang sudah dimiliki.
”Saya pernah menjadi panitia pengawas pemilu tingkat kecamatan. Makanya, saya memberanikan diri untuk mendaftar juga,” tuturnya.
Pria yang mengidolakan Presiden Soekarno itu berkomitmen untuk melaksanakan tugas dengan maksimal.
Khususnya mengenai potensi pelanggaran yang akan terjadi dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.
Sebab, Farid dipercaya membawahi divisi hukum dan pengawasan. ”Tidak ada toleransi untuk pelanggaran,” tegasnya.
Farid sangat tidak menyetujui ungkapan yang kerap menoleransi pelanggaran di dalam pemilihan umum.
Misalnya, pandangan yang menyebut bahwa dalam pemilu ada kecurangan yang bisa ditoleransi dan ada kecurangan atau manipulasi yang sama sekali tidak dapat ditoleransi. ”Sekecil apa pun tetaplah pelanggaran,” ucap dia.
Farid mengonsepsikan sesuatu secara ideal. Karenanya, dalam praktiknya juga harus sempurna. Jika ada sedikit kompromi, bukan tidak mungkin akan terus dilakukan sehinga ruang terhadap pelanggaran akan semakin masif.
”Kalau kita biarkan, itu akan terus terjadi. Makanya, komitmen saya adalah memperketat pengawasan untuk meminimalkan potensi kecurangan dalam proses demokrasi,” paparnya.
Dia berharap, terutama kepada masyarakat agar bekerja sama dan terlibat aktif dalam proses pilkada.
Sebab, penyelenggara yang sesunguhnya adalah masyarakat. Pilkada tanpa kepercayaan dan keterlibatan aktif dari masyarakat itu tidak akan pernah terjadi.
Dan, demokrasi untuk melahirkan dan mencari pemimpin yang diharapkan.
”Makanya, harapan saya adalah mampu bekerja sama sebaik mungkin dengan masyarakat. Karena KPU itu milik masyarakat,” tandasnya. (di/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti