Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pentingnya Kebijakan Sekolah dalam Menguatkan Resiliensi Akademik Anak TKI

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 18 Desember 2025 | 23:49 WIB
Kepala SDN Blaban 3 Muslihen, S.Pd.
Kepala SDN Blaban 3 Muslihen, S.Pd.

Oleh MUSLIHEN, S.PD.

 

FENOMENA kehadiran anak-anak dari keluarga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) semakin menjadi perhatian dalam dunia pendidikan, khususnya di jenjang sekolah dasar. Mereka tumbuh dalam kondisi sosial yang unik: hidup tanpa kehadiran langsung kedua orang tua, diasuh oleh keluarga pengganti, serta berada dalam tekanan psikologis akibat keterpisahan jarak dan waktu. Situasi tersebut tidak hanya memengaruhi perkembangan emosional, tetapi juga kemampuan akademik dan adaptasi sosial di sekolah.

Namun, berbagai temuan lapangan menunjukkan bahwa tidak semua anak TKI mengalami hambatan akademik. Sebagian dari mereka justru mampu menunjukkan prestasi, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan sekolah. Fenomena ini mengarah pada satu konsep penting, yakni resiliensi akademik: kemampuan seorang anak untuk tetap bertahan, berfungsi, dan meraih prestasi meskipun menghadapi tantangan berat.

Dalam konteks pendidikan sekolah dasar, kebijakan sekolah memegang peranan sentral dalam membentuk resiliensi akademik anak-anak TKI. Pada usia dini, mereka membutuhkan dukungan emosional, struktur belajar yang jelas, serta lingkungan yang aman dan stabil. Tanpa kehadiran orang tua, sekolah menjadi institusi terdekat sekaligus paling berpengaruh dalam perkembangan anak.

Kebijakan sekolah yang responsif dan adaptif berperan besar dalam menciptakan kondisi belajar yang mendukung. Melalui program dukungan akademik tambahan, pendampingan belajar, komunikasi intensif antara guru dan orang tua melalui media digital, hingga fleksibilitas tugas, sekolah menjadi ruang aman bagi anak TKI untuk menjaga motivasi dan prestasi mereka.

Implementasi kebijakan tersebut sangat bergantung pada peran guru yang berinteraksi dengan siswa setiap hari. Guru menjadi figur pendamping sementara bagi anak-anak yang merindukan kehadiran orang tua. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi tempat berbagi perasaan, bercerita, dan mencari solusi ketika siswa mengalami kesulitan akademik maupun emosional. Pendekatan personal inilah yang menjadi fondasi penting terbentuknya ketahanan psikologis siswa.

Selain guru, dukungan teman sebaya juga berperan besar dalam membangun rasa diterima dan aman secara sosial. Interaksi positif membantu anak TKI merasa tidak sendiri, meningkatkan rasa percaya diri, serta memotivasi mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan akademik maupun non-akademik.

Keluarga pengganti—biasanya nenek, kakek, atau kerabat dekat—juga menjadi bagian penting dalam kehidupan anak TKI. Meskipun kualitas pendampingannya berbeda-beda, peran mereka tetap krusial dalam memberikan pengawasan, bimbingan moral, serta memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi. Tantangan yang sering muncul adalah keterbatasan keluarga pengganti dalam mendukung pendidikan anak akibat perbedaan generasi, kurangnya pemahaman teknologi, atau latar pendidikan yang rendah.

Komunikasi jarak jauh antara orang tua dan anak turut memainkan peran penting. Meski tidak hadir secara fisik, komunikasi melalui panggilan video, pesan suara, atau chat mampu memberikan dukungan emosional yang kuat. Anak merasa tetap diperhatikan dan disayangi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kehadiran emosional orang tua, meskipun secara virtual, dapat meningkatkan motivasi belajar dan stabilitas emosional.

Meski demikian, berbagai tantangan tetap muncul. Banyak siswa mengalami perubahan suasana hati akibat kerinduan mendalam terhadap orang tua. Konsentrasi belajar dapat terganggu ketika anak merasa gelisah atau cemas tentang keadaan orang tua di luar negeri. Selain itu, kegagalan komunikasi antara guru dan orang tua, maupun antara sekolah dan keluarga pengganti, kerap menjadi hambatan.

Kebijakan sekolah yang belum terdokumentasi dengan baik juga menyebabkan pelaksanaannya sangat bergantung pada inisiatif guru. Hal ini menimbulkan ketidakseragaman implementasi, sehingga beberapa siswa mungkin mendapatkan dukungan lebih optimal dibanding yang lain.

Meski begitu, sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial tetap menjadi kunci dalam membangun resiliensi akademik anak TKI. Ketika ketiga elemen tersebut bergerak selaras, anak-anak memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik secara emosional maupun akademik.

Untuk memperkuat resiliensi akademik anak TKI, sejumlah langkah strategis dapat diterapkan, di antaranya:

1. Menyusun kebijakan tertulis di sekolah yang secara khusus mengatur dukungan bagi anak TKI, agar pelaksanaannya tidak bergantung pada inisiatif personal semata.

2. Menguatkan komunikasi digital antara guru dan orang tua sehingga perkembangan anak tetap terpantau meski orang tua berada di luar negeri.

3. Memberikan pelatihan kepada guru mengenai kondisi psikologis anak TKI serta strategi pendampingan yang efektif.

4. Menyediakan program konseling khusus sebagai ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kerinduan, kecemasan, dan tekanan emosional.

5. Meningkatkan kapasitas keluarga pengganti melalui sosialisasi atau pelatihan singkat agar mereka mampu memberikan dukungan belajar secara lebih efektif.

6. Memperkuat relasi teman sebaya melalui kegiatan kelompok belajar, permainan edukatif, serta kegiatan ekstrakurikuler yang mendorong kerja sama antar siswa.

Dengan berbagai langkah tersebut, sekolah dapat menjadi pilar utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berpihak pada kebutuhan anak-anak TKI. Melalui kebijakan yang adaptif, pendampingan yang konsisten, serta sinergi antarpelaku pendidikan, resiliensi akademik anak TKI dapat dibangun secara kokoh.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan anak TKI bukan hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan mereka bertahan, beradaptasi, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat meski menghadapi kondisi keluarga yang tidak ideal. Sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bekerja bersama agar anak-anak ini tidak hanya bertahan dalam proses pendidikan, tetapi juga berkembang menjadi generasi yang tangguh, percaya diri, dan berdaya saing tinggi. (*/han)

*)Kepala SDN Blaban 3

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kebijakan sekolah #Temuan lapangan #resiliensi akademik #tekanan psikologis #Keberhasilan Pendidikan #anak tki #inklusif #lingkungan pendidikan