Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Perundungan dan Jeritan Jiwa yang Tak Terpenuhi: Menata Kembali ”Algoritma Sosial” Pendidikan

Hera Marylia Damayanti • Sabtu, 15 November 2025 | 14:28 WIB
Achmad Muhlis, ketua Senat UIN Madura/DIrektur Utama IBS PKMKK Sosiolog Pendidikan Islam
Achmad Muhlis, ketua Senat UIN Madura/DIrektur Utama IBS PKMKK Sosiolog Pendidikan Islam

Oleh ACHMAD MUHLIS

 

INDONESIA kembali berduka. Kasus perundungan antar pelajar yang berujung kematian kembali terjadi, menambah panjang daftar tragedi yang menimpa generasi muda. Dari sekolah hingga pesantren, dari dunia nyata hingga ruang digital, fenomena kenakalan remaja dan kekerasan sosial semakin memprihatinkan. Namun di balik setiap tragedi, para ahli lintas zaman sesungguhnya telah lama memberi peta moral dan ilmiah untuk memahami akar masalah ini, yakni “krisis pembentukan jiwa manusia”.

Bapak behaviorisme modern, J.B. Watson, percaya bahwa manusia pada dasarnya adalah produk dari lingkungan dan kebiasaan yang dipelajari. Bahwa, fitrah manusia dapat membentuk bayi apa pun menjadi dokter, seniman, atau pencuri, bergantung pada bagaimana lingkungan mendidiknya. “Berikan padaku dua belas bayi sehat, dan aku akan membentuk mereka menjadi apa pun, tanpa memandang bakat bawaan,” tulis Watson.

Dalam konteks perundungan, remaja belajar berperilaku kasar karena mereka hidup dalam sistem sosial yang menoleransi kekerasan, baik di rumah, sekolah, maupun media. Solusinya bukan hanya menghukum, melainkan menciptakan ekosistem perilaku yang menumbuhkan empati, bukan dominasi.

Sementara Abraham Maslow, menilai perilaku manusia melalui piramida kebutuhan, dari kebutuhan dasar (fisiologis dan keamanan), hingga kebutuhan sosial, penghargaan, dan akhirnya aktualisasi diri. Remaja yang sering kali melakukan kekerasan, ialah mereka yang gagal mendapatkan rasa aman dan penerimaan sosial. Manusia yang lapar akan cinta akan mencari cara untuk didengar, bahkan dengan cara-cara yang salah sekalipun. 

Dengan demikian, perundungan bisa dibaca sebagai manifestasi dari rasa takut, terabaikan, dan kebutuhan akan eksistensi. Sementara masyarakat, keluarga, dan sekolah perlu memberikan ruang pemenuhan kebutuhan emosional dan pengakuan positif, bukan sekadar ruang hukuman dan kompetisi.

Berbeda dengan Carl Rogers, yang menekankan akan pentingnya unconditional positive regard, yakni penerimaan tanpa syarat terhadap individu. Setiap manusia memiliki dorongan menuju self-actualization, namun potensi itu hancur jika individu hidup dalam lingkungan yang penuh penilaian dan penolakan. Anak yang tidak diterima apa adanya, akan tumbuh menjadi remaja yang akan menolak orang lain.

Remaja yang menjadi pelaku kekerasan, sering kali pernah menjadi korban dari sistem pendidikan yang kaku, rumah tangga yang tanpa kasih, atau budaya yang membungkam ekspresi diri.

Al-Kindi dalam hal ini, menekankan pada pentingnya pengendalian emosi melalui rasionalitas dan kesadaran diri, agar manusia tidak dikendalikan oleh amarah atau iri hati dan dengki. Kita tidak dapat mengendalikan dunia, tapi kita dapat mengendalikan persepsi kita terhadapnya. Sebenarnya kekerasan ini lahir dari jiwa yang tidak terlatih untuk memahami penderitaan dan kehilangan. Maka, pendidikan seharusnya tidak hanya mengasah otak, tetapi juga melatih ketenangan jiwa.

Di satu sisi, jiwa dan tubuh saling memengaruhi, dan penyakit moral sering kali berakar dari ketidakseimbangan emosional. Orang yang tidak menjaga jiwanya seperti ia menjaga tubuhnya, maka akan kehilangan keduanya. Dalam konteks remaja modern, perundungan bukan hanya masalah disiplin, tapi juga krisis kesehatan mental. Lembaga pendidikan dan pesantren perlu menyediakan ruang bimbingan psikologis yang ramah hati dan spiritual.

Al-Khawarizmi menekankan pada prinsip rasionalitas yang dapat diterapkan juga dalam pembenahan sistem sosial. Seperti halnya algoritma yang memerlukan urutan dan keseimbangan logis, masyarakat juga membutuhkan struktur moral yang rasional dan terukur. Kebenaran adalah keseimbangan antara logika dan keadilan.

Dalam konteks kenakalan remaja, kita perlu menyusun ulang algoritma sosial pendidikan, dengan membangun sistem yang tidak hanya menghitung nilai akademik, tapi juga menghitung nilai kemanusiaan dan empati.

Intinya, manusia tidak lahir jahat, ia dibentuk, dibimbing, atau dibiarkan. Kenakalan dan perundungan bukan sekadar masalah anak, melainkan cermin kegagalan kolektif, mulai dari keluarga yang abai, sekolah yang dingin, dan masyarakat yang kehilangan arah moral. Solusinya adalah pendidikan harus memanusiakan manusia, menumbuhkan kasih sayang dan kebijaksanaan, serta ilmu yang berpihak pada kehidupan. (*)

*)Ketua Senat UIN Madura/DIrektur Utama IBS PKMKK Sosiolog Pendidikan Islam

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kenakalan remaja #kegagalan kolektif #pelajar #perundungan #algoritma sosial #pengendalian emosi #pendidikan #Generasi Muda #kekerasan sosial