Oleh NUR LAILATUL KHOMISAH, S.PD.
MENJADI guru adalah perjalanan panjang yang tidak hanya diukur dengan jarak, tetapi juga dengan ketulusan hati. Setiap langkah, setiap kata, dan setiap tatapan mata siswa adalah bagian dari kisah pengabdian yang tak ternilai. Bagi sebagian orang, mengajar adalah profesi, tapi bagi saya mengajar ada panggilan hati. Tahun 2023 menjadi tahun yang mengubah cerita perjalanan hidup saya. Setelah tujuh tahun mengajar di sekolah swasta yang terbilang elite di Pamekasan, saya diterima sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Penempatan saya bukan di sekolah yang terjangkau oleh jarak dekat, melainkan di sebuah sekolah pelosok di utara Kecamatan Batumarmar. Saya diterima di SD Negeri Lesong Laok 1, sempat bimbang mau saya ambil atau tidak karena saya tidak pernah mendengar nama sekolah tersebut. Keputusan ini cukup berat bagi saya, dengan bismillah saya ambil. yang mana hal ini membawa saya pada pengalaman baru, perjalanan jauh, medan yang menantang, fasilitas terbatas, tetapi penuh pelajaran hidup.
Sebelum menjadi guru PPPK, saya mengajar di sekolah swasta yang reputasinya cukup ternama di Pamekasan. Lingkungan sekolah tersebut rapi, fasilitas lengkap, dan siswanya berasal dari keluarga menengah ke atas. Ruang kelas ber-AC, laboratorium komputer memadai, perpustakaan penuh dengan buku-buku baru. Bahkan, kegiatan belajar mengajar diwarnai dengan teknologi modern yang mendukung proses pembelajaran. Saya menikmati kenyamanan itu, tetapi jauh di lubuk hati saya selalu tergerak untuk merasakan tantangan baru, mengajar di tempat yang mungkin jauh dari kata ”ideal”, tetapi dekat dengan makna ”pengabdian”.
Ketika pengumuman PPPK keluar pada 2023, nama saya tertera dalam daftar yang diterima. Penempatan saya adalah di sebuah sekolah dasar di wilayah pelosok Kecamatan Batumarmar, sebuah daerah yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Setiap hari saya menempuh perjalanan pulang pergi sejauh 80 kilometer. Dari rumah, saya melewati jalan utama yang mulus, diapit sawah hijau, tebing dan jurang menjulang ke bawah dan perkampungan. Namun, makin mendekati sekolah, pemandangan mulai berubah. Jalan aspal berganti menjadi jalan berbatu dan tanah, di kiri-kanan tumbuh ilalang dan pohon liar.
Tidak ada banyak rumah penduduk di sekitar sekolah. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, saya sering hanya bertemu dengan hewan seperti tupai, ular, burung, bahkan teman saya pernah berpapasan dengan babi hutan. Perjalanan ini memakan waktu lebih dari satu jam sekali jalan. Di musim hujan, jalan berbatu itu berubah licin dan berlumpur, memaksa saya lebih berhati-hati agar tidak tergelincir. Di musim kemarau, debu tebal menjadi teman perjalanan, menempel di motor, baju, tas, dan wajah. Namun, setiap kali melewati gerbang sederhana sekolah, rasa lelah itu sirna. Sambutan hangat serta senyum tulus para siswa dengan berkerumun menghampiri saya. Ketika tiba dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan bertanya kabar seolah menjadi energi baru yang mengalir dalam diri saya.
Sekolah tempat saya mengajar terletak jauh dari pusat desa, bahkan rumah warga pun tidak banyak di sekitarnya. Bangunannya sederhana dengan beberapa ruang kelas yang mulai menunjukkan tanda-tanda usia: cat dinding memudar, atap seng berkarat serta tak jarang saat hujan pun mengkhawatirkan, dan meja kursi yang sudah lama tidak diganti. Fasilitas pendukung belajar minim. Tidak ada laboratorium komputer, perpustakaan hanya berisi beberapa buku yang usianya sudah puluhan tahun, dan perlengkapan olahraga seadanya. Untuk mengajar, saya mengandalkan papan tulis yang warnanya mulai kusam, spidol yang harus dihemat, dan buku paket yang jumlahnya tidak mencukupi untuk semua siswa.
Namun, di balik semua keterbatasan itu, semangat belajar siswa justru begitu besar. Mata mereka berbinar saat saya menjelaskan materi, tangan-tangan kecil itu terangkat tinggi saat saya bertanya, dan tawa mereka pecah saat saya menyelipkan cerita lucu di tengah pelajaran. Keterbatasan literasi terkadang membuat mereka lebih lama mencerna pemahaman materi walaupun begitu semangat mereka untuk belajar dan rasa ingin tahu tak pernah padam. Mengajar di pelosok membawa tantangan tersendiri. Selain jarak dan fasilitas, latar belakang siswa juga memengaruhi proses belajar. Keterbatasan penggunaan bahasa Indonesia juga tak sedikit menghambat proses pemahaman mereka. Sebagian dari mereka harus membantu orang tua menjaga adiknya selagi orang tuanya bekerja di sawah, kebanyakan dari mereka diasuh oleh nenek dan kakeknya karena orang tua mereka bekerja sebagai TKI, tak ayal hal itu membuat mereka kurang kasih sayang.
Keterbatasan akses informasi menjadi kendala lain. Jika di sekolah elite saya dulu, siswa dengan mudah mencari materi di internet, di sekolah ini sebagian besar siswa bahkan tidak memiliki telepon genggam. Pengetahuan mereka murni didapat dari guru di depan kelas. Kadang saya harus mencari cara kreatif untuk menjelaskan materi menggunakan benda-benda sederhana di sekitar. Misalnya, saat mengajarkan pecahan, saya menggunakan buah pisang atau kue yang dibawa siswa untuk menggambarkan pembagian. Saat mengajarkan sains, saya mengajak mereka keluar kelas untuk mengamati tumbuhan atau serangga di sekitar sekolah.
Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan harapan. Saya melihat betapa besarnya pengaruh seorang guru di mata anak-anak pelosok. Bagi mereka, guru adalah sumber ilmu, motivator, sekaligus teladan. Saya juga belajar tentang kesabaran. Tidak semua siswa mampu memahami materi dengan cepat, dan kadang saya harus mengulang berkali-kali. Namun, saya merasa senang ketika melihat mereka akhirnya mengerti jauh melebihi lelah yang saya rasakan. Yang paling berkesan adalah rasa syukur. Di sekolah lama, saya sering menganggap fasilitas lengkap sebagai hal biasa. Di sini, saya menyadari betapa berartinya papan tulis yang utuh, printer dengan tinta penuh, kertas yang tersedia hingga akhir semester serta tersedia kertas origami dan krayon di kelas.
Saya percaya, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, di mana pun mereka tinggal. Karena itu, saya berharap suatu hari nanti sekolah ini bisa memiliki fasilitas yang memadai: ruang kelas yang nyaman, perpustakaan dengan buku-buku baru, dan alat peraga yang mendukung pembelajaran. Saya juga berharap pemerintah dan masyarakat dapat lebih memperhatikan pendidikan di daerah pelosok. Jalan menuju sekolah perlu diperbaiki agar akses guru dan siswa lebih mudah. Program pelatihan guru juga perlu diperluas agar pengajaran di daerah terpencil setara dengan di kota. Setiap hari, saya menapaki jalan mulus di kota dan jalan berbatu menuju pelosok. Perjalanan itu mengajarkan saya bahwa mengajar bukan hanya pekerjaan, tetapi perjalanan jiwa. Dari sekolah elite ke sekolah terpencil, dari fasilitas lengkap ke keterbatasan, saya menemukan makna sejati dari profesi guru: mengabdi dengan hati, di mana pun saya berada. (*)
Editor : Hera Marylia Damayanti