Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Membangun Karakter Siswa sejak Dini

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 9 Juli 2025 | 15:35 WIB
Fitriana Dewi Malinda, guru SD Negeri Lebbek 1
Fitriana Dewi Malinda, guru SD Negeri Lebbek 1

Oleh FITRIANA DEWI MALINDA

 

PENDIDIKAN karakter telah menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan di Indonesia, terutama dalam menghadapi krisis moral yang mengemuka di berbagai kalangan. Di Indonesia, pentingnya pendidikan karakter tercermin dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk ”mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Dalam hal ini, pendidikan di sekolah dasar menjadi tahap yang paling penting, karena masa ini disebut sebagai masa pembentukan fondasi nilai moral dan etika yang terdapat dalam diri anak. Menurut Piaget (1952), anak-anak pada usia sekolah dasar berada pada tahap perkembangan kognitif ”operasional konkret”, saat mereka mulai mampu memahami aturan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka, penanaman nilai karakter di sekolah dasar merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi berkarakter yang kuat, bermoral, dan beretika.

Pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan secara sadar untuk membantu seseorang memahami dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Pendidikan karakter ini tidak hanya mengajarkan mana yang baik dan buruk, tetapi juga membantu peserta didik menanamkan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi individu yang bertanggung jawab, jujur, disiplin, peduli, dan mampu bekerja sama dengan orang lain. Nilai-nilai ini tidak hanya penting untuk kehidupan pribadi anak, tetapi juga untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab.

Perkembangan anak usia sekolah dasar mencakup aspek kognitif, sosial, emosional, dan moral yang saling berhubungan. Selama ini, fokus pendidikan sering kali berpusat pada aspek kognitif atau pengetahuan saja, terutama capaian akademik. Namun, pada kenyataannya, keberhasilan anak dalam kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kemampuan dalam mengelola emosi, berempati, dan menjalin relasi yang positif. Oleh karena itu, pembelajaran sosial emosional (PSE) menjadi sangat relevan untuk diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan di sekolah dasar.

PSE mencakup proses untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan untuk memahami dan mengelola emosi, menetapkan dan mencapai tujuan positif, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang positif, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Pendidikan dasar bukan hanya tentang membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, sekolah dasar adalah tempat strategis untuk menanamkan nilai-nilai karakter, keterampilan sosial, dan kecerdasan emosional anak. Di sinilah pembelajaran sosial emosional memainkan peran sebagai garda terdepan. Pembelajaran sosial emosional tidak hanya membantu anak mengenal dan mengelola emosi, tetapi juga membentuk keterampilan berinteraksi, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan yang bijak.

Guru dan sekolah juga memiliki peran yang sangat penting untuk membangun karakter anak. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi role model yang dilihat dan ditiru siswa setiap hari. Perilaku guru yang jujur, adil, dan disiplin secara langsung menjadi pembelajaran nyata bagi siswa. Tidak semua guru menyadari pentingnya pendidikan karakter, namun pelatihan guru yang dilakukan secara rutin dapat memotivasi dan menjadikan dasar untuk menerapkan pendidikan karakter.

Keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada kesinambungan antara sekolah dan rumah. Oleh karena itu, sekolah perlu membangun komunikasi aktif dengan orang tua untuk menanamkan nilai yang sama. Jika nilai yang ditanamkan di sekolah tidak sejalan dengan yang diterapkan di rumah atau lingkungan masyarakat, maka efektivitasnya akan menurun. Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang aman, terbuka, dan menghargai perbedaan. Penanaman karakter tidak akan efektif jika dilakukan di lingkungan yang penuh tekanan atau diskriminasi.

Kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan pendidikan karakter pada anak seperti, ketika pagi hari siswa diminta menuliskan perasaan mereka. Hal ini dapat melatih anak untuk mengenali emosinya, selain itu hal ini dapat membantu guru untuk memantau kondisi emosional setiap siswa. Sejatinya guru perlu mengetahui karakteristik, bahkan emosional setiap siswa sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan.

Untuk membudayakan pendidikan karakter dalam kehidupan sekolah, pembelajaran yang dilakukan tidak harus membebani kurikulum atau membuat mata pelajaran baru. Nilai karakter dapat diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Misalnya, nilai tanggung jawab dapat ditekankan dalam tugas kelompok, sedangkan nilai empati dapat dibahas dalam cerita di pelajaran bahasa Indonesia. Kuncinya adalah bagaimana guru dan sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kecerdasan sosial dan emosional anak. Dalam jangka panjang, anak-anak yang terlatih secara sosial emosional akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan, menjalin hubungan sehat, dan membuat keputusan bijak. Oleh karena itu, penting bagi sekolah dasar untuk memulai budaya PSE secara konsisten dan berkelanjutan.

Untuk menciptakan pendidikan karakter dan bermutu tentunya tidak akan lepas dari hambatan dan tantangan. Banyak guru dan pemangku kepentingan yang belum sepenuhnya memahami apa itu PSE dan bagaimana cara menerapkannya dengan efektif, selain itu penilaian keberhasilan belajar siswa terlalu berfokus pada nilai ujian sehingga dapat menghambat penerapan PSE.

Pembelajaran sosial emosional merupakan bagian penting dari pendidikan di sekolah dasar. Ia tidak hanya membantu anak untuk sukses secara akademik, tetapi juga untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, berempati, dan mampu berkontribusi positif dalam masyarakat. Dengan strategi implementasi yang tepat dan dukungan dari semua pihak, pembelajaran sosial emosional dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi pendidikan karakter di Indonesia.

Penanaman nilai karakter pada anak sekolah dasar bukan sekadar tambahan materi pelajaran, tetapi merupakan inti dari pendidikan yang nyata. Pendidikan karakter yang dimulai sejak dini untuk membentuk dasar perilaku yang bermoral pada anak dan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang beradab dan bermartabat.

Sekolah sebagai garda perubahan sosial memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aman, kondusif bagi perkembangan karakter. Guru sebagai garda terdepan perlu menjadi teladan dan fasilitator nilai-nilai mulia tersebut. Dengan dukungan keluarga dan masyarakat, penanaman karakter di SD dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Sebagaimana dikatakan John Dewey, ”Education is not preparation for life; education is life itself.” Maka, membentuk karakter anak sejak SD adalah bagian dari membentuk kehidupan itu sendiri. (*)

*)Guru SD Negeri Lebbek 1

Editor : Hera Marylia Damayanti
#peserta didik #sekolah #kesinambungan #lingkungan #pendidikan karakter #pembelajaran sosial emosional #pendidikan dasar #PSE #orang tua #kebiasaan positif #dunia pendidikan