Oleh RISALATUL HASANAH
DUNIA pendidikan di seluruh dunia saat ini sedang mengalami masa transisi yang menarik, tak terkecuali di Indonesia. Bagaimana tidak? Mulai dari bangku sekolah dasar saja, ruang-ruang kelas yang awalnya diisi oleh Generasi Z, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 lambat laun diisi oleh Generasi Alpha. Tercatat untuk tahun ajaran baru 2025/2026 ini, mayoritas semua ruang kelas di tingkat pendidikan dasar akan diisi sepenuhnya oleh Generasi Alpha, generasi yang lahir setelah tahun 2013.
Pendidikan di tingkat menengah sebagian telah menghadapi Generasi Z, dan akan menghadapi Generasi Alpha, peserta didik baru di tahun ajaran selanjutnya. Sehingga apa dampaknya? Guru menjadi tertantang untuk mengubah sistem pembelajaran yang mereka terima sebagai guru Generasi Y (Milenial) dan Generasi X. Guru yang sudah terbiasa mendapatkan treatment pengalaman belajar melalui generasi di atasnya, yaitu Generasi Baby Boomers, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1946-1964, yang merupakan guru mereka, jelas harus menyesuaikan kepada siapa mereka akan membawa jutaan materi yang dibungkus dengan hanya ”sebuah buku” menjadi ”tidak hanya sebuah buku” dalam dunia pendidikan tersebut. Tentunya, tuntutan melek teknologi seolah-olah menjadi sebuah kewajiban yang harus dimiliki oleh pemegang ujung tombak pendidikan ini.
Mari kita simak terlebih dahulu bagaimana karakter Generasi Z dan Alpha ini. Generasi Z merupakan generasi pertama yang tumbuh melek internet, dan smartphone sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari mereka. Melalui hal tersebut, Generasi ini condong lebih mandiri, kritis, dan terbiasa mengakses informasi dengan cepat. Mereka cenderung menjadi visual learner yang lebih tertarik pada konten bergambar, video, atau infografis daripada bacaan panjang.
Di sisi yang berbeda, namun hampir sama, Generasi Alpha adalah digital native. Sejak usia dini, mereka telah berinteraksi dengan gawai, kecerdasan buatan, dan konten berbasis teknologi seperti YouTube dan game edukatif. Sehingga, mereka cenderung untuk memiliki rentang perhatian yang lebih pendek, dan sangat menyukai aktivitas yang melibatkan indra visual dan suara, serta cepat belajar namun juga cepat bosan.
Dengan kesadaran penuh terhadap siapa sebenarnya yang sedang guru Generasi X dan Y ini hadapi, mereka ditantang untuk terus adaptif dan kreatif. Mereka tidak bisa memaksa audiens mereka untuk duduk dan mendengarkan ceramah atau sekadar menulis materi pembelajaran tanpa adanya hal yang mereka butuhkan, yaitu seperti dunia yang sedang mereka hadapi. Ibaratnya mereka sehari-hari sudah terbiasa makan nasi putih lalu kemudian dipaksa untuk tetap makan nasi singkong. Mereka bisa jadi mau makan di bawah tekanan, namun organ dalam mereka mungkin saja tidak menerima itu dengan baik, atau bahkan terjadi penolakan seperti diare atau sembelit. Sehingga, guru tidak boleh egois dan membenarkan diri bahwa gaya belajar yang sudah mereka terima berpuluh-puluh tahun lamanya merupakan gaya belajar terbaik sepanjang masa. Mereka harus menyadari juga terhadap tantangan apa yang siswa mereka hadapi di dunia mereka yang sebenarnya, yang tentunya dunia serbadigital.
Lalu apa yang sebaiknya guru lakukan? Jawabannya adalah harus beradaptasi. Guru bisa menggunakan beberapa strategi adaptif yang sesuai dengan zaman mereka, di antaranya: 1) Integrasi teknologi dalam pembelajaran: Guru bisa menggunakan aplikasi pembelajaran Quizizz, Wordwall, Kahoot, atau Padlet yang akan meningkatkan partisipasi siswa. 2) Pembelajaran visual dan proyek kreatif: Gen Z dan Alpha sangat responsif terhadap pembelajaran berbasis gambar, video, dan proyek nyata. Kegiatan seperti membuat vlog, poster digital, infografis, atau bahkan komik edukatif akan sangat mereka minati. 3) Kaitkan materi dengan kehidupan nyata. Gen Z sangat tertarik jika mereka mahami bahwa materi yang mereka terima ada manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari, dan Gen Alpha sangat menyukai simulasi, permainan peran, atau praktik langsung. 4) Berikan ruang untuk ekspresi dan kebebasan belajar: Kedua generasi ini sangat menyukai kebebasan dalam mengekspresikan diri. Guru dapat memberikan beberapa pilihan dalam tugas, misalnya menyampaikan materi melalui video, podcast, atau karya visual. Dalam hal ini kita sebut dengan pembelajaran terdiferensiasi produk. 5) Komunikasi dua arah dan peran guru sebagai fasilitator: Ingat ya, kedua generasi ini sangat tidak menyukai pendekatan otoriter. Guru perlu menjadi fasilitator, bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Kuncinya adalah bangunlah komunikasi terbuka, hargai pendapat siswa, dan ciptakan suasana belajar yang ramah. 6) Penilaian yang fleksibel dan autentik. Penilaian yang fleksibel seperti penilaian berbasis proyek, portofolio digital dan refleksi proses belajar akan memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan potensi mereka secara lebih menyeluruh.
Melalui pemahaman tersebut, minimal guru paham betul siapakah calon leader sesungguhnya yang sedang mereka persiapkan untuk Indonesia. Guru tidak lagi memakai cara tradisional sepenuhnya dalam menyajikan materi kepada generasi elite teknologi ini. Guru harus menyadari sepenuhnya bahwa mereka bisa jadi kelak akan menghadapi pekerjaan yang belum tercipta hari ini. Pembelajaran yang mengarah pada berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi sangatlah dibutuhkan untuk terus dibiasakan dan diterapkan. Kemudian untuk mengimbanginya, guru butuh menanamkan nilai karakter dan budi luhur kepada mereka, seperti mengajarkan literasi digital dengan bijak dalam memilah dan memilih informasi dan etika online, membina karakter seperti tanggung jawab, empati, kejujuran, dan kerja keras, serta mendorong siswa untuk berpikir etis bukan hanya cerdas teknologi. Guru juga akan dituntut untuk menjadi model pembelajar sepanjang hayat karena Gen Z dan Alpha ini akan melihat guru bukan hanya sebagai pengajar, melainkan sebagai role model mereka. Guru juga berperan untuk menyiapkan mereka agar mampu menyeimbangkan teknologi dan interaksi manusia. Wow, terlihat keren bukan? Kini guru sudah terlihat bagaimana mereka dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa di era digital ini.
Pendidikan tidak lagi hanya sebatas menyampaikan materi, namun tentang memfasilitasi proses tumbuh kembang manusia di tengah arus perubahan zaman. Guru yang memegang ujung tombak pendidikan ini memang diciptakan untuk mempersiapkan pemimpin di masa depan yang tangguh dan bisa beradaptasi sesuai zaman mereka. Guru juga bertanggung jawab untuk menanamkan nilai budi luhur yang tentunya harus dimiliki oleh setiap manusia yang bisa mereka bekali melalui dunia pendidikan. Guru juga mempunyai banyak peluang untuk bertransformasi, memahami karakter kedua generasi ini, serta berani untuk bereksperimen dengan pendekatan baru sehingga antara guru dan siswa terbangun koneksi, motivasi, dan menciptakan pembelajaran yang bermakna. Indonesia harus mempersiapkan kedua generasi ini dengan baik, di samping tentang pengaruh buruk yang diciptakan oleh teknologi yang selalu mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Jika guru di dunia pendidikan tidak mengimbanginya, akan menjadi seperti apa mereka nantinya.
Jadi untuk guru Indonesia, persiapkan dirimu untuk mencetak generasi hebat di masa depan. Calon leader di masa depan ini secara tidak langsung turut diwarnai oleh guru di dunia pendidikan. Guru, mari terus menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena dunia itu terus mobile, dan tidak stagnan di tempat. (*)
*)Guru SDN Larangan Luar 3
Editor : Hera Marylia Damayanti