PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tiga tahun bukan sekadar angka bagi Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Pamekasan. Pesantren ini berkomitmen membangun budaya literasi bagi anak didik.
Pesantren sering dipandang sebagai lembaga pendidikan tradisional yang kaku. Sebagian menganggap cara belajar tidak sejalan dengan perkembangan zaman. Di mata sebagian orang, metode pembelajaran di pesantren cenderung konservatif dan terkesan monoton.
Pandangan tersebut tidak terlihat dalam sistem pembelajaran IBS PKMKK Pamekasan. Model pembelajaran di lembaga ini mampu mengolaborasikan antara model pendidikan tradisional dengan perkembangan zaman.
Sejak berdiri pada 11 Februari 2022, lembaga pendidikan di Desa Lancar, Kecamatan Larangan, ini telah menorehkan banyak jejak prestasi. Salah satunya, santri telah menerbitkan belasan buku selama proses belajar mengajar (KBM) berlangsung.
”Perayaan hari jadi yang ketiga ini semakin istimewa dengan hadirnya 13 buku baru. Pencapaian luar biasa yang lahir dari tangan-tangan kreatif santri dan ketekunan para guru,” kata Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan Achmad Muhlis.
Dari 13 buku santri IBS PKMKK itu, tujuh di antaranya merupakan karya individu santri kelas sembilan. Sementara dua santri telah lebih dulu menorehkan namanya dalam dunia kepenulisan sejak tahun sebelumnya, yaitu Naurah Reisa Alana dan Tria Fahira Nuramaja.
Naurah Reisa Alana telah menerbitkan dua buku secara berturut-turut, yaitu Mafiza Jawny di 2023 dan Kita Itu Lampu Merah di 2024. Saat ini dia tengah menulis buku berjudul Two Souls in World of Dark.
Sementara Tria Fahira Nuramaja juga telah melahirkan karya Cahaya dan Kegelapan di 2024. Dia juga sedang mengerjakan buku terbarunya, Light in the Dark sebagai wujud komitmennya berkarya dan mengasah kreativitasnya.
”Pencapaian mereka menjadi bukti nyata bahwa semangat literasi terus berkembang di lingkungan IBS PKMKK dan telah menginspirasi santri lain untuk turut serta dalam dunia kepenulisan,” tutur putra KH Moh. Mahfudz Abd. Adzim dan Nyai Hj Rasyidatul Abadiyah itu.
Menurut dia, tahun ini tujuh santri kelas sembilan melahirkan karya perdana. Hal itu menambah deretan warna dalam khazanah kepenulisan di lembaga pendidikan pesantren. ”Para pendidik IBS PKMKK juga ambil bagian dalam geliat literasi ini. Ada yang individu. Ada juga yang berkolaborasi dengan santri. Karya mereka menambah kekayaan intelektual di lingkungan pesantren juga,” tuturnya.
Lahirnya buku-buku tersebut menegaskan bahwa IBS PKMKK tidak hanya membangun tradisi literasi di kalangan santri, tetapi juga di kalangan pendidik. Dengan demikian, pesantren ini terus berkembang sebagai pusat keilmuan yang berdaya saing di era digital.
IBS PKMKK Pamekasan tidak hanya unggul dalam dunia literasi, tetapi juga mampu mencetak anak didiknya menguasai digital. Hal itu ditunjukkan dalam proses belajar dengan metode digitalisasi. Dengan begitu, lulusan mampu mengisi ruang-ruang digital dengan konten-konten keislaman.
”Ini menjadi bukti bahwa IBS PKMKK berupaya untuk terus mencetak generasi unggul, tidak hanya dalam menulis, tetapi juga dalam bidang lain; teknoloigi, sains, dan akademik,” tegasnya.
Sejak berdiri, IBS PKMKK telah menerapkan pendidikan inklusif yang ramah anak dan disabilitas. Sebagai komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aksesibel bagi semua, tanpa terkecuali.
”Kami berkomitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas tanpa biaya agar santri dapat berkontribusi dan mewarnai dunia global. Dengan semangat literasi dan inovasi, IBS PKMKK terus melangkah maju,” pungkasnya. (lil/luq)
Editor : Ina Herdiyana