BANGKALAN, RadarMadura.id – Pelaksanaan asesmen madrasah (AM) di bawah naungan Kemenag Bangkalan sedang berlangsung.
Seharusnya, ujian tersebut menerapkan asesmen madrasah berbasis komputer (AMBK). Tapi, masih banyak madrasah yang menggunakan kertas.
Operator PDUM Team dan SIM-Sarpras Isnin Oktavianti menyampaikan, asesmen madrasah merupakan ujian yang menentukan kelulusan siswa.
Baik tingkat madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan madrasah aliyah (MA). Untuk jenjang MA telah dimulai pada rentang waktu Senin (4/3) hingga Sabtu (30/3).
Isnin menyampaikan, pelaksanaan ujian seharusnya berbasis AMBK.
Namun, dalam pelaksanaannya, peserta ujian diperbolehkan menggunakan kertas. Alasannya, sarana madrasah belum memadai.
”Seharusnya memang sudah komputer semua. Tapi, kemampuan madrasah tidak sama sehingga tidak masalah menggunakan kertas,” ujarnya.
Jumlah madrasah yang melaksanakan ujian sekitar 365 lembaga. Isnin mengungkapkan, tidak semua madrasah menggunakan perangkat komputer saat asesmen.
”Waktu survei, ada 24 madrasah. Sebagian ada yang menggunakan komputer, kertas, dan tiga madrasah menggunakan HP,” ungkapnya.
Menurutnya, madrasah yang melaksanakan asesmen banyak yang terkendala perangkat.
Terutama madrasah pedalaman yang belum mampu di pengadaan perangkat. Sebab, rata-rata madrasah tidak memiliki server.
”Beli server itu mahal. Pertimbangan lainnya, tidak ada sinyal,” terang Isnin.
Isnin tidak bisa berbuat banyak. Meski ada fasilitas pengusulan sarana melalui SIM-sarpras, hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat.
Apalagi, penyaluran bantuan tersebut terbatas.
”Saya sudah sampaikan ke madrasah. Lakukan pengusulan sebanyak-banyaknya terutama sarpras. Tapi, kadang bantuannya dibatasi,” pungkasnya. (ay/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia