PAMEKASAN , RadarMadura.id – Dalam budaya patriarki, perempuan dipandang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Stigmatisasi itu ingin dihilangkan oleh Puteri Pemberdayaan Perempuan Indonesia 2023–2024 Nafada Safaatul Ummah.
Suasana Kafe Nirwana di Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan, ramai, Senin (12/2).
Di salah satu meja, terdapat seorang perempuan berhijab hitam dengan mengenakan dress cokelat.
Dia adalah Nafada Safaatul Ummah yang merupakan Puteri Pemberdayaan Perempuan Indonesia 2023–2024.
Dia memulai perjalanannya di dunia duta sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pamekasan pada 2021.
Saat itu, Nafada terpilih sebagai Duta Generasi Berencana (Genre) yang diprakarsai Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pamekasan.
Dia semakin semangat mengembangkan minatnya saat melanjutkan studi di Univeristas Sunan Ampel Surabaya (Uinsa).
Di kampusnya, Nafada terpilih sebagai Duta Fakultas Dakwah 2022–2023. Di tahun yang sama, dia terpilih sebagai Puteri Pemberdayaan Perempuan Provinsi Jawa Timur, (Jatim).
”Alhamdulilah, sekarang Puteri Pemberdayaan Perempuan Indonesia. Jadi, alhamdulilah bisa tembus tingkat nasional,”ujarnya.
Nafada tidak pernah bermimpi jadi duta perempuan tingkat nasional seperti sekarang.
Namun, bakat dan minatnya di public speaking mengantarkannya menjadi perempuan hebat.
Kemampuannya semakin berkembang saat satu konten di akun TikTok-nya trending dan banyak yang menyukai.
”Jadi awalnya saya suka membuat video daily activity. Kemudian, banyak yang suka. Akhirnya, terus (membuat konten video) sampai sekarang,” ujar mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Uinsa tersebut.
Perempuan asal Desa Klompang, Kecamatan Pakong, itu mengembangkan bakatnya di bidang public speaking melalui akun media sosialnya.
Mulai dari Instagram hingga TikTok. Dia juga aktif menjadi pembicara di berbagai seminar dan organisasi pemuda.
”Kalau 2023, sudah mengisi 100-an acara seminar. Alhamdulillah, bisa sharing dengan teman-teman yang lain,” ujar Nafada.
Nafada menyampaikan, perempuan harus eksis dengan kebaikan dan pendidikan yang dimiliki.
Sebab, kecantikan tanpa diimbangi hati yang baik dan pemikiran yang terdidik nilainya nol. Dengan begitu, perempuan harus berpendidikan tinggi.
Saat menjadi pembicara di kegiatan seminar, Nafada selalu menekankan bahwa kaum hawa tidak boleh takut berpendidikan tinggi meski budaya yang masih kental tertanam di masyarakat seperti sekarang.
Perempuan harus mempunyai nilai lebih dalam dirinya untuk mengeluarkan inner beauty.
Ke depan, target yang ingin Nafada raih yaitu menjadi pembicara profesional. Untuk mewujudkan keinginannya, dia mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris dengan kursus di Pare, Kediri, Jawa Timur.
Selain itu, dia bersyukur karena orang tuanya selalu mendukung segala pilihannya.
”Tanpa doa dan dukungan beliau, saya bukan Nafada yang sekarang,” tutupnya. (*/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta