PAMEKASAN, RadarMadura.id – Guru besar merupakan gelar tertinggi bagi akademisi. Tidak mudah untuk mendapatkan gelar tersebut. Ada persyaratan yang harus dipenuhi, terutama administrasi. Di samping itu, kualitas keilmuannya harus benar-benar teruji dan mumpuni dalam bidangnya. Dan, Mohammad Kosim baru-baru ini menyandang gelar itu.
Karier akademik Prof Kosim, sapaan akrabnya cukup panjang. Tidak hanya dalam pendidikan formal. Dia juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren. Mulai dari Pondok Pesantren (Ponpes) Duwa Pote asuhan Kiai Hasan Iraqi Abd Rasyid hingga Ponpes Nasyrul Ulum Bagandan asuhan Kiai Abd. Hamid Manan Munif.
”Tapi, sebagaimana tradisi di kampung, pendidikan agama saya itu tentu dari langgar ke langgar. Saya belajar alif kali pertama kepada almarhum ayah saya, H Badarudin. Beliau wafat pada 1994,” tutur Prof Kosim pada JPRM, Jumat (9/29).
Pendidikan keagamaannya itu ditempuh sembari dalam proses menyelesaikan studi formal. Dari mulai sekolah dasar hingga strata 1 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Cabang Pamekasan. ”Dari kecil memang, pagi sekolah formal, sorenya ya di pondok. Itu sudah keinginan orang tua saya,” katanya.
Selain itu, Prof Kosim menyelesaikan program magister melaui beasiswa Kementerian Agama pada 1997 sampai dengan 1999. Sedangkan program doktoralnya diselesaikan di IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya melalui program beasiswa yang sama.
Sementara kariernya sebagai tenaga pengajar dimulai pada 1994. Prof Kosim diangkat menjadi dosen di almamaternya sendiri, yakni IAIN Sunan Ampel Pamekasan. Setahun berikutnya resmi menyandang pegawai negeri sipil melalui formasi dosen di Fakultas Tarbiyah.
Tidak berhenti di situ, selama menjadi dosen itulah dia dipercaya menduduki beberapa jabatan penting. Di antaranya, pembantu ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan sejak 2000 sampai dengan 2004. Kemudian, sebagai direktur pascasarjana STAIN Pamekasan dilaluinya pada 2012 sampai dengan 2016, dan diangkat sebagai ketua STAIN Pamekasan periode 2016—2018.
”Baru setelah itu, saya secara resmi menyandang gelar guru besar dalam bidang ilmu pendidikan Islam pada 2023 ini,” tambahnya.
Dengan perjalanan karier akademik itulah, Prof Kosim menyebut, bahwa pesantrenlah yang paling memengaruhi karakternya. Terutama dalam keseharian maupun dalam bidang keilmuannya.
”Ternyata pesantren inilah yang benar-benar membentuk karakter pendidikan saya. Dan, saya bersyukur atas itu,” ucapnya. (di/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia