PAMEKASAN, RadarMadura.id – Upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan masyarakat terus dilakukan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Melalui pendanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTM, tim pelaksana meluncurkan program pemberdayaan kelompok pengairan melalui budidaya perikanan berkelanjutan berbasis bioflok di Desa Rek Kerrek, Kabupaten Pamekasan, Minggu (13/9).
Program tersebut mengembangkan budidaya ikan lele menggunakan teknologi bioflok yang dipadukan dengan Internet of Things (IoT). Kolam bioflok yang dibangun memiliki diameter sekitar 3 meter dan telah ditebar 5.000 bibit lele.
Teknologi IoT digunakan untuk membantu pemantauan kondisi air kolam secara lebih mudah dan terukur. Alat tersebut secara otomatis mengukur sejumlah parameter penting, khususnya pH dan suhu air, sehingga kondisi lingkungan budidaya dapat dipantau secara berkala.
Ketua pelaksana kegiatan Sri Ratna Triyasari, S.P., M.P. mengatakan, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan ikan konsumsi. Namun, juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi budidaya perikanan yang efisien dan berkelanjutan.
’Saat ini sudah kami sebarkan sekitar 5.000 bibit lele. Ke depan, kami juga akan mengembangkan inovasi pakan dengan memanfaatkan dan mencampurkan bioslurry sebagai bagian dari upaya pemanfaatan sumber daya lokal dan mendukung sistem pertanian yang lebih sirkular,” ujar Sri Ratna.
Menurutnya, integrasi bioflok, IoT, dan pemanfaatan bioslurry diharapkan dapat menciptakan model budidaya yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan lingkungan.
”Harapannya, teknologi ini dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat secara mandiri. Jadi, masyarakat tidak hanya menerima bantuan berupa sarana, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola usaha budidaya secara berkelanjutan,” tambahnya.
Baca Juga: FIES Sumenep Perkuat Kerja Sama Pendidikan dengan UTM
Anggota tim pelaksana Novi Indriyawati turut mendukung penguatan kapasitas kelompok masyarakat dalam pengelolaan budidaya. Program tersebut dirancang agar teknologi yang diperkenalkan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masyarakat setempat.
Sementara itu, anggota tim Sholeh Rachmatullah menjelaskan bahwa penerapan IoT menjadi salah satu keunggulan dalam program budidaya tersebut.
”IoT ini membantu melakukan pengukuran pH dan suhu air secara otomatis. Dengan pemantauan yang lebih cepat dan terukur, pembudidaya dapat mengetahui kondisi air kolam tanpa harus selalu melakukan pengukuran secara manual. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan tindakan pemeliharaan kolam,” jelasnya.
Menurut Sholeh, kualitas air merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan budidaya ikan. Dengan adanya sistem monitoring tersebut, perubahan kondisi air diharapkan dapat diketahui lebih awal sehingga risiko terhadap pertumbuhan dan kesehatan ikan dapat diminimalkan.
Didorong Menjadi Model Pangan Produktif Desa
Kepala Desa Rek Kerrek menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kehadiran program UTM memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan produktif berbasis potensi desa.
”Kami sangat menerima dan mendukung kegiatan ini. Kami berharap program ini tidak berhenti pada pembangunan kolam, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Rek Kerrek,” ungkapnya.
Baca Juga: UTM Kembangkan Pelet Sapi Berbasis Potensi Lokal dan Energi Biogas
Dia berharap budidaya lele berbasis bioflok tersebut dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan ekonomi produktif bagi kelompok masyarakat sekaligus mendukung ketersediaan pangan di tingkat desa.
”Harapannya, hasil dari budidaya ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya untuk mendukung kebutuhan pangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG),” lanjutnya.
Libatkan Mahasiswa
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa UTM sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kegiatan peluncuran, tetapi juga mendukung implementasi teknologi dan pendampingan di lapangan.
Tim mahasiswa yang terlibat terdiri atas Achmad J. U., Iqbal Maulidi, Birrul Walidain, Dea Falencya C., dan Azmi Nadia A.
Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat mempertemukan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat. Mereka dapat belajar secara langsung mengenai pengelolaan budidaya ikan, teknologi IoT, pemanfaatan sumber daya lokal, sekaligus proses membangun usaha produktif bersama masyarakat.
Salah satu peserta peluncuran dan lokakarya, Hayyan, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, penerapan teknologi dalam budidaya perikanan memberikan pengalaman baru bagi masyarakat karena proses pemeliharaan ikan dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern.
Baca Juga: Imigrasi Pamekasan Edukasi Mahasiswa Asing UTM soal Visa dan Izin Tinggal
”Kegiatan ini menarik karena kami tidak hanya belajar tentang budidaya ikan, tetapi juga diperkenalkan dengan teknologi IoT. Harapannya, teknologi seperti ini bisa benar-benar diterapkan dan membantu masyarakat dalam meningkatkan hasil budidaya,” ujarnya.
Menuju Sistem Pangan yang Terintegrasi
Program bioflok di Desa Rek Kerrek menjadi bagian dari upaya UTM mendorong model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan produksi pangan, teknologi, ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
Pengembangan pakan berbasis bioslurry yang direncanakan dalam program tersebut juga diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara lebih optimal. Dengan demikian, limbah atau hasil samping dari suatu kegiatan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya dalam kegiatan produksi lainnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengurangi limbah dan meningkatkan pemanfaatan kembali sumber daya dalam suatu sistem produksi.
Tim UTM berharap kolaborasi dengan masyarakat Desa Rek Kerrek dapat terus berkembang sehingga budidaya bioflok tidak hanya menjadi kegiatan percontohan, tetapi juga dapat direplikasi dan dikembangkan oleh kelompok masyarakat lainnya.
”Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata, meningkatkan keterampilan masyarakat, menghasilkan sumber pangan yang berkualitas, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Rek Kerrek. Ke depan, kami berharap model ini dapat berkembang menjadi salah satu contoh budidaya perikanan desa yang produktif, berbasis teknologi, dan berkelanjutan,” pungkas Sri Ratna. (*/bil)
Editor : Anis Billah