PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kasus penusukan anak yang dilakukan oleh ibu kandung menyisakan luka mendalam.
Namun, motif yang melatarbelakangi tragedi tersebut juga tidak boleh luput dari perhatian.
Anggota Komisi VIII DPR RI Ansari meminta polisi mengusut kasus tersebut secara menyeluruh.
Tidak hanya aksi kekerasannya, tetapi juga kondisi yang dihadapi Dewi Anggraini, 39, sebelum peristiwa terjadi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bocoran, Galaxy Tab S12 Series Sudah Kantongi Sertifikasi Indonesia dan Peluncurannya
Tekanan psikologis, persoalan ekonomi, hingga beban lain yang mungkin ditanggung Dewi perlu didalami.
Langkah tersebut penting untuk mengetahui motif atau akar persoalan di balik tragedi yang menewaskan Tiara Diantari, 10, tersebut.
”Ini tentu sangat memilukan. Apa yang sebenarnya terjadi sampai seorang ibu bisa berada dalam kondisi seperti itu, hingga menganiaya anak sendiri,” ujar Ansari.
Politisi PDI Perjuangan itu juga mendorong pemeriksaan kejiwaan Dewi dilakukan secara profesional.
Terlebih, polisi menyebut perempuan tersebut memiliki riwayat gangguan jiwa dan akan menjalani visum psikiatrikum.
Menurut Ansari, pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui kondisi psikologis Dewi.
Baca Juga: Balita Tewas di Kolam, Polisi Minta Ortu Lebih Waspada
Hasilnya juga dapat menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
”Negara harus hadir. Kalau ada ibu yang menghadapi tekanan berat, jangan sampai mereka merasa menghadapi semuanya sendirian. Harus ada ruang untuk mendapatkan bantuan, pendampingan, dan pertolongan,” tegasnya.
Istri Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan itu menilai, perlindungan perempuan dan anak harus diperkuat.
Upaya pencegahan juga perlu dilakukan sejak dini ketika keluarga mulai menghadapi persoalan berat.
Ansari berharap kasus tersebut menjadi perhatian bersama.
Keluarga yang berada dalam kondisi rentan perlu mendapat pendampingan sebelum persoalan berkembang menjadi kekerasan.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Saifudin mengungkapkan, Dewi telah terdeteksi mengalami gangguan jiwa sejak 2020.
Namun, pengobatan intensif baru dijalani pada 2023 karena kondisi kejiwaannya tergolong berat.
Saat itu, Dewi dirujuk pihak puskesmas ke RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (SMART) Pamekasan.
Baca Juga: Ayah Diduga Hamili Anak, Bayi Lahir di Kamar Mandi dan Tewas
Pengobatan dilakukan untuk menangani kondisi kejiwaannya. Namun, sekitar setahun terakhir Dewi berhenti berobat.
Dia merasa sudah sembuh meski tenaga kesehatan telah memberikan edukasi agar pengobatan tidak dihentikan secara total.
”Kondisi kejiwaan Dewi kemudian kembali tidak stabil. Terlebih setelah dia berhenti bekerja di salah satu perusahaan akibat bangkrut,” kata Saifudin kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Dinkes Pamekasan sebenarnya sempat merencanakan pengobatan kembali.
Namun, rencana tersebut belum terealisasi hingga tragedi penusukan tersebut terjadi.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Pamekasan AKP Yoyok Hardianto menyatakan kondisi kejiwaan Dewi masih didalami.
Polisi belum menyimpulkan bahwa penusukan dilakukan dalam kondisi gangguan jiwa.
Dewi telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, polisi tidak melakukan penahanan karena tersangka akan menjalani observasi dan visum psikiatrikum di RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Malang.
”Untuk memastikan apakah yang bersangkutan sehat atau memang ODGJ, kami lakukan observasi dan visum psikiatrikum. Kurang lebih lima sampai sepuluh hari,” ungkap Yoyok.
Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar penyidik menentukan langkah hukum selanjutnya.
Polisi ingin memastikan kondisi kejiwaan Dewi saat peristiwa penusukan terjadi.
Baca Juga: Samsung Galaxy S27 Diduga Tinggalkan Kamera Model Lama, Bocoran Desain Terbaru Tampilkan Susunan Hor
Sekadar diketahui, tragedi berdarah terjadi di Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Senin (17/8) sekitar pukul 11.30.
Dewi diduga menganiaya putrinya, Tiara Diantari, 10, menggunakan pisau dapur.
Tiara mengalami luka tusuk pada bahu kiri, punggung, dan pinggul.
Korban sempat dilarikan ke RSUD SMART Pamekasan untuk mendapat pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong.
Usai menusuk putrinya, Dewi juga mencoba menggorok leher dan melukai tangannya sendiri.
Upaya tersebut gagal karena sisi pisau yang digunakan untuk menggorok berada dalam posisi terbalik.
Setelah diamankan polisi, kondisi Dewi disebut masih tidak sadar.
Ibu tiga anak itu bahkan sempat menanyakan keberadaan putrinya dan meminta agar makam Tiara dibongkar. (afg/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti