PAMEKASAN, RadarMadura.id – Sebagian petani tembakau di Kabupaten Pamekasan telah panen.
Namun hingga saat ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan belum menetapkan biaya pokok produksi (BPP).
Kepala Bidang (Kabid) Produksi Pertanian DKPP Pamekasan Andi Ali Syahbana mengaku lembaganya belum menentukan BPP.
Namun dia mengeklaim, penetapannya tinggal menunggu forum pembahasan yang lebih komprehensif. Sebab, pembahasan tahap dua baru dilakukan Senin (20/7).
Baca Juga: Dewan Buka Peluang Panggil Manajemen RSIA Puri Bunda Madura
”Sudah menghasilkan sejumlah kesepakatan. Namun, kami belum bisa menyampaikan hasilnya sekarang karena akan dibawa ke forum yang lebih komprehensif,” ungkap Andi kemarin.
Dia menjelaskan, penyusunan BPP akan melalui tiga tahapan.
Tahap pertama berupa rapat internal DKPP untuk menyusun komponen biaya produksi.
Tahap kedua, pembahasan yang melibatkan asosiasi petani dan pengusaha tembakau.
Sedangkan yang terakhir pembahasan yang akan melibatkan pemerintah kabupaten, DPRD, asosiasi petani, perusahaan rokok, dan seluruh pemangku kepentingan di sektor pertembakauan.
Forum tersebut sekaligus menjadi rapat penetapan BPP tembakau musim 2026.
”Tahap ketiga kami mencoba secepatnya akan berkoordinasi terlebih dahulu ke beberapa pihak, termasuk bupati dan legislatif,” teranganya.
Dia menjelaskan, komponen yang dihitung dalam penyusunan BPP meliputi biaya sarana produksi, tenaga kerja, hingga biaya pendukung lain seperti harga pupuk.
Selain itu, hasil demplot yang dilakukan perusahaan juga menjadi salah satu acuan untuk menyamakan persepsi dalam menentukan biaya produksi.
”Ada kenaikan (dari BPP musim 2025, Red). Tapi, besaran naik berapa persen, nanti akan ditetapkan dalam forum yang sifatnya final,” ujarnya.
Ketua DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Pamekasan Samukrah menyatakan, rapat penetapan BPP 2026 tak berjalan alot.
Namun dia memastikan, BPP tembakau tahun ini mengalami kenaikan, salah satunya dipicu lonjakan harga pupuk nonsubsidi.
Kenaikan harga pupuk, terutama ZA, menjadi faktor utama meningkatnya biaya produksi tembakau.
Harga pupuk ZA kemasan 25 kilogram melonjak dari sekitar Rp 125 ribu–Rp 130 ribu pada 2025 menjadi Rp 245 ribu–Rp 250 ribu tahun ini.
Baca Juga: Polisi Akui Temukan Kendala Terduga Pelaku Pemerkosaan di Raas Belum Ditangkap
Sementara kenaikan harga untuk pupuk jenis ZK dinilai masih tahap wajar.
”Perhitungannya tetap naik. Tapi, untuk menentukan final angkanya (nilai BPP tembakau 2025, Red) bukan ranah kami,” sebutnya.
Sementara salah satu perwakilan perusahan rokok di Pamekasan, Abdul Halim, menyampaikan, sepenuhnya akan mematuhi dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Dia berharap bisnis tembakau di Madura tetap eksis karena merupakan mata pencaharian utama warga.
”Sudah ada kesepakatan bersama, kalau dari perusahaan, kami mengikuti apa yang nantinya menjadi ketetapan pemerintah,” pungkasnya.
Untuk diketahui, BPP tembakau tahun lalu lebih tinggi dibandingkan 2024. Kenaikan terjadi pada semua kategori lahan.
BPP tembakau sawah ditetapkan Rp 47.685 per kilogram atau naik Rp 960 dibandingkan musim sebelumnya Rp 46.725 per kilogram.
Sedangkan BPP tembakau tegal meningkat Rp 894 dari Rp 52.639 menjadi Rp 53.533 per kilogram.
Sementara itu, BPP tembakau gunung pada musim 2025 ditetapkan sebesar Rp 64.000 per kilogram atau naik Rp 767 dibandingkan musim sebelumnya yang berada di angka Rp 63.233. (lil/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti