PAMEKASAN, RadarMadura.id – Nasib tragis dialami Muhammad Gilang Rayyan, seorang bayi asal Kecamatan Pasean, Pamekasan.
Bayi berusia empat bulan tersebut meninggal dunia akibat persoalan biaya saat berobat, Rabu (10/6).
Bayi tersebut meninggal dunia beberapa jam setelah mendapat perawatan di RSUD Waru Pamekasan.
Kepergiannya memberikan duka mendalam bagi keluarga mendiang Muhammad Gilang Rayyan.
Baca Juga: Polisi Amankan Ibu Pembuang Bayi di Desa Barunggagah, Diduga Hasil Hubungan Gelap
Direktur RSUD Waru Nanang Suyanto menyatakan, pasien bernama Muhammad Gilang Rayyan tiba di instalasi gawat darurat (IGD) sekitar pukul 01.00 dini hari, Rabu (10/6).
Saat itu kondisi Muhammad Gilang Rayyan sudah sangat buruk.
Setelah dilakukan asesmen oleh seorang dokter yang berjaga, pasien direkomendasikan dirujuk ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan.
”Tetapi, orang tua tidak berkenan dan pasien dibawa pulang. Di RSUD Waru kami gratiskan,” ungkapnya.
Muhammad Gilang Rayyan datang dengan gangguan saluran pernapasan.
Bahkan, berdasarkan keterangan keluarga, pasien sempat mengalami kejang sebelum dibawa ke rumah sakit.
Belakangan diketahui, keluarga pasien enggan membawa Muhammad Gilang Rayyan ke RSUD Smart karena persoalan biaya.
Sebab, bayi tersebut belum tercatat sebagai penerima bantuan iuran daerah (PBID).
Kepala Desa Dempoh Barat Joko Pranoto menyatakan, keluarga Muhammad Gilang Rayyan mendatangi rumahnya setelah salat Subuh untuk meminta bantuan pengurusan administrasi jaminan kesehatan.
Sehingga, pihaknya langsung berupaya agar bayi tersebut segera dirawat.
”Persyaratan sudah kami kirim secara online untuk mendapatkan Biakes Maskin Jawa Timur,” katanya.
Joko menuturkan, bayi itu mengalami demam sejak sekitar sepekan lalu.
Selama itu, pengobatan dilakukan melalui bidan terdekat. Kondisinya bahkan sempat membaik sehari sebelum meninggal.
Saat dibawa ke Puskesmas Pasean, keluarga Muhammad Gilang Rayyan mendapat saran agar pasien dirujuk ke RSUD Waru.
Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Waru, pasien kembali direkomendasikan menjalani perawatan di RSUD Smart Pamekasan.
Pemerintah desa sebenarnya telah menyiapkan mobil siaga untuk mengantar pasien ke rumah sakit rujukan.
Namun, sebelum keberangkatan dilakukan, bayi tersebut lebih dulu mengembuskan napas terakhir.
”Sudah siap dengan mobil sigap dari rumah saya. Karena panic, kami tidak bisa memastikan kondisinya. Lalu dibawa ke perawat terdekat dan dinyatakan memang sudah meninggal,” tuturnya.
Baca Juga: Benarkah Bayi WNI Otomatis Jadi Peserta Aktif BPJS? Simak Penjelasannya!
Menurut Joko, pihak desa tidak menerima informasi sejak awal terkait kondisi bayi tersebut.
Karena itu, ruang untuk melakukan pendampingan menjadi sangat terbatas.
”Kalau sejak awal ada komunikasi, pasti kami dorong untuk tetap dirawat. Urusan biaya akan kami usahakan. Kesehatan ini kebutuhan yang sangat vital bagi masyarakat,” tegasnya.
Dia menjelaskan, kedua orang tua bayi sebenarnya sudah terdaftar sebagai peserta jaminan kesehatan.
Hanya, identitas bayi tersebut belum masuk dalam daftar penerima bantuan iuran.
”Persyaratan sudah kami kirim. Andai waktunya lebih longgar, kemungkinan masih bisa diperjuangkan,” pungkasnya. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti