Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Warga Mulai Panik

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 11 Juni 2026 | 08:45 WIB
ANTREAN PANJANG: Sejumlah pengendara terjebak macet di sekitar SPBU Kecamatan Pakong, Pamekasan, kemarin. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
ANTREAN PANJANG: Sejumlah pengendara terjebak macet di sekitar SPBU Kecamatan Pakong, Pamekasan, kemarin. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi resmi naik. Hal itu langsung memicu antrean di sejumlah SPBU di Pamekasan. Kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat mengular Rabu (10/6).

Salah satunya, antrean di SPBU Kecamatan Pakong yang sempat menyebabkan arus lalu lintas tersendat.

Kondisi itu terjadi setelah PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga BBM nonsubsidi.

Pertamax yang sebelumnya Rp 12.300 per liter naik menjadi Rp 16.250 per liter.

Baca Juga: Terkendala Izin, Pelabuhan Wisata Kalianget Belum Dioperasikan, Pembangunan Habiskan Miliaran Rupiah

Sedangkan pertamax green 95 melonjak dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Sementara pertalite dan biosolar subsidi tetap pada harga sebelumnya.

Ahmadi, warga Kecamatan Pegantenan, merasakan langsung dampak kenaikan bahan bakar.

Pengendara mobil tersebut mengaku terjebak kemacetan saat melintas di sekitar SPBU Pakong.

Menurut dia, antrean kendaraan sudah memadati area SPBU hingga badan jalan. Banyak pengendara memilih untuk mengisi bahan bakar sebelum harga baru berlaku.

”Saya sebenarnya mau isi pertalite. Memang yang naik BBM nonsubsidi. Tapi, khawatir nanti ada dampaknya juga ke BBM subsidi. Takut tiba-tiba naik juga,” ujarnya.

Di sisi lain, kekhawatiran berbeda disampaikan oleh Riski Rizaldi.

Baca Juga: Pertanyakan Peran Intelijen Polres, Praktisi Hukum Soroti Temuan Bong dan Klip Sabu di Rumah Tersangka Penembakan

Pengendara motor itu mengaku harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk kebutuhan transportasi sehari-hari.

Maklum, selama ini dia menggunakan pertamax. Kenaikan harga membuat biaya operasional kendaraan ikut bertambah.

”Kalau pengguna pertamax pasti terasa. Pengeluaran harian otomatis naik,” katanya.

Kepala Bagian Perekonomian Setkab Pamekasan Bachtiar Effendy meminta masyarakat tidak menyikapi kenaikan harga dengan kepanikan.

Sebab, penyesuaian harga tersebut merupakan kebijakan pemerintah yang mengikuti perkembangan harga minyak dunia.

Menurut dia, masyarakat tidak perlu melakukan pembelian berlebihan. Apalagi, hingga memborong BBM karena khawatir terjadi kenaikan lanjutan.

”Ini merupakan kebijakan pemerintah dalam penyesuaian harga mengikuti perkembangan minyak dunia,” terang Bachtiar pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Karena itu, Bachtiar mengimbau masyarakat lebih bijak dalam menggunakan bahan bakar.

Penghematan dinilai menjadi langkah paling rasional di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Kebiasaan Ini, V-Belt Motor Matic Bisa Putus Mendadak dan Bikin Pengendara Terancam Mogok

”Jangan sampai panic buying. Sikapi (kenaikan BBM, Red) dengan bijak. Hemat dan bijak menggunakan BBM merupakan langkah yang tepat menghadapi kondisi saat ini,” sambungnya.

Meski kenaikan hanya menyasar BBM nonsubsidi, respons masyarakat terlihat cukup tinggi.

Antrean panjang di sejumlah SPBU menjadi gambaran bahwa kekhawatiran warga terhadap dampak kenaikan harga energi masih cukup besar. (afg/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#BBM nonsubsidi #kenaikan harga BBM #BBM #antrean panjang #spbu