PAMEKASAN, RadarMadura.id – Aktivitas budi daya rumput laut di Pantai Jumiang mati suri dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu diduga disebabkan adanya perubahan kualitas air laut sehingga membuat tanaman rumput laut sulit tumbuh dan berujung gagal panen.
Karena itu, tim peneliti bersama Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan mengambil sampel air laut di kawasan pesisir Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Rabu (20/5). Pengujian dilakukan di tengah dugaan pencemaran limbah di kawasan tersebut.
Kepala Diskan Pamekasan Abdul Fata mengatakan, pengambilan sampel air laut itu merupakan penelitian awal untuk mengetahui kualitas perairan sebelum budi daya rumput laut kembali dicoba. Penelitian dilakukan bersama tim dari Universitas Negeri Malang (UM).
”Kami melakukan pendampingan penelitian awal untuk melihat kualitas air laut di Pantai Jumiang Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu,” katanya.
Menurut dia, budi daya rumput laut di wilayah tersebut pernah berkembang dan menghasilkan keuntungan bagi masyarakat pesisir.
Dalam beberapa tahun terakhir, para pembudi daya memilih berhenti karena selalu gagal panen.
Fata menyebut, para pembudi daya menduga kerusakan kualitas air laut dipicu pencemaran limbah dari aktivitas pengolahan rajungan di sekitar kawasan pesisir.
Dugaan itu menjadi salah satu alasan dilakukannya pengujian laboratorium.
Dia menjelaskan, hasil uji laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan terkait rencana menghidupkan kembali budi daya rumput laut di Desa Tanjung.
Jika kualitas air buruk, peluang budi daya akan sulit direalisasikan.
”Informasi dari pembudi daya, air laut tercemar oleh pembuangan pabrik pengolahan rajungan. Karena itu, perlu uji laboratorium untuk memastikan kualitas air laut,” kata Fata pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM). (afg/bil)
Editor : Amin Basiri