Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kemarau Panjang, BPBD Pamekasan Sisir Wilayah Potensi Kekeringan

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 13 Mei 2026 | 07:48 WIB
TERIK: Petani membersihkan lahan di Desa Nyalabu Laok, Kecamatan Kota Pamekasan, Selasa (12/5). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
TERIK: Petani membersihkan lahan di Desa Nyalabu Laok, Kecamatan Kota Pamekasan, Selasa (12/5). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding tahun 2025.

Dampaknya, ancaman kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah wilayah Pamekasan diprediksi semakin meluas.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan pada musim kemarau 2025 terdapat 11 kecamatan terdampak kekeringan.

Wilayah itu meliputi Kecamatan Tlanakan, Pademawu, Galis, Proppo, Palengaan, Pegantenan, Larangan, Kadur, Waru, Batumarmar, dan Pasean.

Baca Juga: Hadapi Potensi Kemarau Panjang, Pemkab Sumenep Siapkan Langkah Mitigasi

Dari total wilayah terdampak tersebut, sebanyak 76 desa mengalami kesulitan air bersih.

Jumlah itu sama dengan data kekeringan pada 2024. Kondisinya terbagi dalam kategori kering langka dan kering kritis.

Menghadapi potensi kemarau panjang tahun ini, BPBD mulai melakukan langkah antisipasi.

Plt Kalaksa BPBD Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi mengaku telah menerjunkan tim ke lapangan untuk memetakan daerah rawan kekeringan dan kekurangan air bersih.

Pemetaan dilakukan menyusul rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan musim kemarau lebih panjang dibanding 2025.

”Tim kami sudah turun melakukan pemetaan daerah-daerah rawan kekeringan,” ujarnya.

Selain melakukan pemetaan, BPBD juga meminta pemerintah desa aktif melaporkan kondisi wilayah masing-masing.

Baca Juga: Menilik Keunggulan Wuling Cloud EV 2026: Teknologi Baterai LFP dan Layar Kontrol 15,6 Inci

Langkah itu dilakukan agar penanganan bisa lebih cepat ketika terjadi krisis air bersih.

Menurut Dhofir, koordinasi tersebut penting karena Pamekasan memiliki 178 desa dan 11 kelurahan yang tersebar di 13 kecamatan.

”Kami meminta aparat dan kepala desa proaktif menyampaikan laporan kondisi desa mereka,” pintanya.

Dia menambahkan, laporan dari pemerintah desa akan menjadi salah satu dasar BPBD dalam menentukan langkah penanganan.

Mulai dari distribusi bantuan air bersih hingga penanganan darurat lainnya.

”Untuk musim kemarau kali ini, perkiraan kami bisa sama atau bahkan bertambah. Sebab, prakiraan BMKG menyebut musim kemarau lebih lama dibanding 2025,” tandasnya. (afg/yan)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#11 kecamatan #BPBD Pamekasan #kemarau #krisis air #kekeringan