PAMEKASAN, RadarMadura.id – Menu program makan bergizi gratis (MBG) yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kemala Bhayangkari Pamekasan diduga bermasalah.
Susu yang dibagikan kepada penerima manfaat di SDN Sentol 2 Pademawu, Pamekasan, diduga basi dan bercacing.
Berdasarkan video viral yang diterima koran ini, peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (14/4).
Video berdurasi 1 menit 6 detik itu memperlihatkan sejumlah siswa melihat isi susu yang telah dibuang ke tanah.
Baca Juga: Duel Ponsel Lipat Kelas Sultan iPhone Fold dan Galaxy Z Fold 8 Unggul Desain Kamera atau Daya Tahan
Dalam rekaman tersebut juga terdengar suara seorang guru yang melaporkan dugaan susu basi.
”Izin melaporkan, Bu Pengawas. Susunya ini untuk MBG tanggal 14, ditemukan ada semacam ulatnya, yang sedang bergerak-gerak ini. Tolong diperhatikan ini,” ungkapnya sembari menunjukkan kemasan susu kemasan bermerek Tango Full Cream.
Seorang tenaga pendidikan di lingkungan SDN Sentol 2 juga membenarkan peristiwa tersebut.
Kejadian itu memicu kekhawatiran orang tua dan guru di sekolah.
Menurutnya, susu yang dibagikan kepada siswa diduga tidak layak konsumsi.
Pihak sekolah langsung mengambil langkah cepat sebagai bentuk antisipasi agar tidak menimbulkan risiko kesehatan kepada siswa.
Pihak sekolah melaporkan kejadian tersebut kepada penyedia makanan agar segera ditindaklanjuti.
”Kami sudah klarifikasi dengan dapurnya. MBG ini didistribusikan dari SPPG Kemala Bhayangkari,” tuturnya.
Lelaki berbadan tegap itu menaruh harapan besar agar ke depan pihak dapur penyedia makanan memperketat pengawasan kualitas sebelum menu didistribusikan ke sekolah. Sehingga, peristiwa serupa tidak terjadi lagi.
”Ini masalah yang kedua kalinya. Sebelumnya juga ada masalah, tapi beda kasus,” tegasnya.
Pasca kejadian tersebut, Dinkes Pamekasan melakukan uji laboratorium terhadap menu yang dikirim SPPG Kemala Bhayangkari, Pamekasan.
Namun, sampel yang diuji dinas bukanlah susu yang beredar dalam video viral. Melainkan, sampel menu yang disimpan di dapur penyedia layanan.
”Sudah mau diperiksa dan akan dilakukan pemeriksaan sampel bakteriologi. Jika sudah diperiksa di lab, butuh waktu satu mingguan. Yang diuji lab sisa stok susu di dapur,” ungkap Kepala Dinkes Pamekasan Saifudin.
Menurutnya, setiap produk susu tetap memiliki potensi menjadi basi atau terkontaminasi meskipun tanggal kedaluwarsanya masih jauh.
Hal ini dapat terjadi apabila penyimpanan tidak dilakukan dengan benar atau terjadi kebocoran maupun kerusakan pada kemasan.
Karena kondisi ini akan mempercepat proses pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan susu lebih cepat rusak.
”Baru kali ini kami temui susu yang belum expired date (ED) bercacing. Biasanya susu kalau ED akan terasa basi atau asam,” sebutnya.
Terpisah, Kepala SPPG Kemala Bhayangkari Pamekasan Moh. Ilham Efendy membenarkan peristiwa yang terjadi di SDN Sentol 2 tersebut. Dia mengutarakan, peristiwa itu terjadi pada Selasa (14/4).
Pihaknya langsung mendatangi sekolah. Sayangnya, barang bukti yang terlihat dalam video tidak ditemukan, termasuk kemasannya.
”Terkait dengan susu yang diviralkan di video tersebut dan untuk bukti jejaknya, saya tanyakan sudah tidak ada. Bungkusnya juga sudah tidak ada,” tuturnya.
Dia menjelaskan, saat tiba di SDN Sentol 2 sekitar pukul 09.30 ada tiga bungkus susu yang dituangkan ke dalam wadah mangkok.
Tindakan itu dilakukan pihak sekolah untuk mengecek kondisi susu lain yang diterima siswa. Hasilnya, susunya dalam kondisi baik dan tidak bercacing.
”Untuk yang sampel (dilakukan uji lab, Red) dari SPPG. Kan ahli gizi itu menyimpan di kulkas tiga sampel. Satu itu dibawa ke dinkes dicek. Untuk expired-nya 13 Maret 2027,” terangnya.
Menurut Ilham, salah satu kesulitan dalam menguak fakta adanya susu pada menu MBG yang disalurkan benar-benar basi dan bercacing adalah ketiadaan bukti atau jejak yang dapat diakses.
Hal ini disebabkan susu berbeda dengan menu olahan dari pihak dapur. Sebab, sudah dalam bentuk kemasan kotak sehingga proses penelusuran terbatas.
”Kepala sekolah (pembuat video, Red) tidak tahu langsung saat murid menuangkan susu ke lantai. Tahunya sudah berkerumun dan ada cacing, langsung buat video laporan. Harapan kami ke depan, jika terjadi hal serupa sampelnya disimpan untuk menjadi barang bukti sehingga dapat dilakukan uji lab,” pungkasnya. (lil/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti