PAMEKASAN, RadarMadura.id – Masjid Bilfaqih Zain di Jalan Tlanakan, Pamekasan, tampil sebagai representasi harmoni antara nilai spiritual dan estetika arsitektur kontemporer.
Bangunan yang berada disisi utara jalan itu langsung mencuri perhatian lewat bentuk fasadnya yang melengkung dinamis.
Seolah menyambut setiap jemaah yang datang dengan kesan hangat dan terbuka.
Garis-garis arsitekturalnya tidak kaku, melainkan mengalir lembut, menciptakan identitas visual yang berbeda dari masjid pada umumnya di Madura.
Bahkan di malam hari, permainan cahaya menjadi salah satu kekuatan utama dalam desainnya.
Pencahayaan yang terintegrasi dengan struktur bangunan memunculkan siluet elegan, mempertegas lekukan fasad sekaligus menghadirkan nuansa sakral.
Ornamen berpola geometris yang menghiasi dinding luar memberi sentuhan artistik, berpadu dengan elemen kaligrafi yang ditampilkan secara minimalis namun tetap bermakna.
Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa ini adalah ruang ibadah yang sarat nilai religius.
Ruang utama masjid yang didominasi warna netral dengan sentuhan marmer gelap pada dinding mihrab cukup memberikan kesan kokoh dan berwibawa.
Pencahayaan lampu LED di plafon menghadirkan suasana hangat sekaligus mempertegas garis arsitektur yang bersih dan simetris.
Bahkan, keseluruhan ruang menciptakan atmosfer khusyuk, mendukung jemaah untuk beribadah dengan nyaman dan penuh ketenangan.
”Kami memilih tampilan yang modern sehingga terlihat lebih elegan, terbuka, dan memiliki nuansa Timur Tengah. Sehingga, mampu memberikan kenyamanan bagi para jemaah,” ujar Ketua Takmir Masjid Bilfaqih Zain Hosnan.
Menara masjid berdiri di sisi kiri masjid menjulang dengan desain yang simpel namun tegas. Menjadi penanda visual sekaligus simbol spiritual.
Sementara itu, area pintu masuk didesain terbuka dengan lengkungan besar yang menciptakan kesan inklusif.
Sehingga, mengundang siapa saja untuk singgah, bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga merasakan ketenangan ruang.
Elemen kaca yang dominan pada bagian depan memperkuat kesan transparansi dan modernitas. Sekaligus memungkinkan interaksi visual antara ruang dalam dan luar.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, arsitektur Masjid Bilfaqih Zain mencerminkan tidak hanya dirancang sebagai bangunan fungsional, tetapi juga sebagai karya seni yang hidup.
”Sebelumnya lokasi ini merupakan lahan kosong. Baru sekitar awal 2023 mulai dibangun masjid oleh almarhum H Abdul Faqih Zain, dan kemudian dihibahkan,” ujarnya.
Menurut Hosnan, terdapat beragam fasilitas di lingkungan Masjid Bilfaqih Zain Tlanakan.
Di antaranya, tersedia area bersantai bagi para pemudik atau pengendara yang ingin beristirahat, hingga kamar khusus untuk musafir.
Selain itu juga disediakan air minum, teh, dan kopi yang dapat dinikmati secara gratis.
”Masjid ini dibuka 24 jam. Tidak hanya di bulan Ramadan. Tetapi, juga di luar bulan Ramadan,” ujarnya.
Pria berusia 66 tahun itu juga menyebut, pada momentum mudik 2026, masjid yang dikelolanya saat ini ditetapkan sebagai salah satu masjid ramah pemudik oleh Kementerian Agama. Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti apa saja pertimbangannya.
Namun, menurutnya, hal itu tidak lepas dari letaknya yang strategis di pinggir jalan utama serta fasilitas yang terbilang lengkap bagi para musafir.
”Kendalanya di sini air. Setiap hari harus beli, kurang lebih bisa habis dua tangki dalam sehari. Lebih-lebih di momentum mudik seperti saat ini,” tuturnya.
Tidak hanya itu, selama bulan suci Ramadan, takmir Masjid Bilfaqih Zain Tlanakan juga menyiapkan hidangan buka puasa setiap harinya.
Sajian tersebut merupakan bentuk sedekah yang tidak hanya diperuntukkan bagi jemaah masjid, tetapi juga bagi para pemudik yang tengah melintas dan membutuhkan tempat singgah untuk melepas penat.
”Kurang lebih sekitar 200 hingga 250 porsi setiap hari. Jadi masjid ini memang didesain sebagai masjid rest area atau tempat peristirahatan,” pungkasnya.
Menjadi Ruang Dakwah dan Kegiatan Sosial
Masjid Bilfaqih Zain di Jalan Raya Tlanakan, Pamekasan, itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Tetapi, juga menjadi ruang dakwah yang hidup dan dinamis.
Berbagai kegiatan keagamaan rutin digelar, mulai dari kajian Islam, ceramah, hingga pembinaan generasi muda yang bertujuan memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat.
Ketua Takmir Masjid Bilfaqih Zain Hosnan menyatakan, sejak didirikan pada 2023 silam, kehadiran masjid ini mampu menjadi pusat penyebaran nilai-nilai Islam yang moderat.
Sekaligus mempererat hubungan antara ulama, tokoh masyarakat, dan jemaah dalam suasana yang penuh kekeluargaan.
Di sisi lain, masjid ini juga memainkan peran penting sebagai pusat kegiatan sosial.
”Penyusunannya program tahunan. Jadi kami sudah merumuskan program-program apa yang akan dilakukan selama satu tahun,” ungkapnya.
Dia menyebut, selama Ramadan terdapat beragam program yang telah dilaksanakan.
Mulai dari pembagian takjil, santunan, hingga kegiatan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan puasa menyambut malam Lailatul Qadar yang juga disertai dengan sahur bersama untuk mempererat kebersamaan antarjemaah.
”Tidak hanya untuk warga sini. Siapa pun bisa ikut program iktikaf. Temasuk menu sahur kami siapkan juga untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan mudik atau musafir,” ujarnya.
Selain itu, Masjid Bilfaqih Zain Tlanakan juga memiliki program kajian rutin yang dilaksanakan dua kali dalam sepekan.
Salah satunya digelar setiap malam Selasa, yang secara khusus difokuskan pada kajian tahsin Al-Qur’an, dengan tujuan memperbaiki dan memperindah bacaan jemaah agar sesuai dengan kaidah tajwid dan makhraj huruf.
”Kalau yang malam Jumat sifatnya tematik, ada kajian fikih, kitab hadis, dan lain sebagainya. Temanya berubah-ubah di tiap pertemuan,” sebutnya.
Hosnan juga menyebut Masjid Bilfaqih Zain Tlanakan juga terbuka bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan area masjid sebagai tempat berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan.
Mulai dari pengajian, diskusi keislaman, hingga kegiatan kemasyarakatan lainnya. Namun, tetap harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ada.
”Termasuk jika ingin digunakan untuk pelaksanaan akad nikah juga bisa. Bahkan, tidak jarang juga dimanfaatkan sebagai tempat transit bagi jemaah yang hendak berangkat maupun pulang dari ibadah umrah,” pungkasnya. (lil/jup)
Editor : Amin Basiri