Keterbatasan itu tak lepas dari jumlah mesin hemodialisis (HD) yang dimiliki RSUD dr H Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan. Hingga kemarin (30/1), rumah sakit pelat merah itu baru memiliki sembilan unit alat cuci darah.
Manajemen rumah sakit pun mengajukan penambahan sebelas mesin baru melalui skema kerja sama operasional (KSO). Targetnya, layanan tambahan tersebut sudah bisa berjalan sebelum pertengahan tahun ini.
Plt Direktur RSUD Smart Pamekasan Syaiful Hidayat mengatakan, pengadaan mesin baru menjadi bagian dari komitmen rumah sakit. Tujuannya, untuk mempercepat layanan terhadap pasien penderita gagal ginjal.
Menurut dia, keterbatasan alat selama ini membuat daftar tunggu masih panjang. Padahal, kebutuhan masyarakat terhadap layanan HD terus meningkat. ”Kalau memungkinkan, operasionalnya bisa mulai sekitar April 2026,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Abd. Rasyid Fansari menyebut bahwa layanan HD kerap menjadi keluhan masyarakat karena sulitnya mendapatkan jadwal. Kondisi itu makin berat setelah akses layanan kesehatan gratis dicabut.
Beberapa pasien mengaku terbebani biaya, sebab sekali cuci darah bisa mencapai Rp 1,5 juta, belum termasuk ongkos transportasi. ”Karena itu, penambahan mesin HD ini setidaknya bisa mengurai sebagian persoalan yang dihadapi pasien,” tegasnya. (afg/han)
Editor : Amin Basiri