SURABAYA, RadarMadura.id – Kepemimpinan DPD Partai Golkar Pamekasan resmi berganti. Musda XI menetapkan Imam Syafii Yahya sebagai ketua baru setelah forum berujung pada kesepakatan aklamasi.
Proses pemilihan tak sepenuhnya berjalan mulus. Djohan Susanto, yang sejak awal masuk bursa calon ketua, dinyatakan tidak lolos verifikasi steering committee (SC) karena persoalan administratif.
Situasi itu sempat memanaskan internal partai jelang musyawarah akbar tersebut.
Namun, demi menghindari kebuntuan, elite Golkar memilih jalan tengah. Musda XI ditutup dengan skema win-win solution.
Dalam kesepakatan tersebut, Djohan Susanto tetap masuk struktur inti. Dia digeser ke posisi bendahara DPD Golkar Pamekasan. Sementara, jabatan sekretaris partai diisi oleh Heri Purwanto.
Ketua DPD Golkar Pamekasan periode 2020–2025 Rize Ikhwan Muttaqin menilai, Musda XI sebagai momentum penting konsolidasi partai.
Dia menegaskan, kepemimpinan baru harus mampu membawa Golkar lebih solid dan produktif.
”Kami juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Dinamika dalam organisasi tak bisa dihindari selama proses regenerasi kepemimpinan,” kata pria yang akrab disapa Wawan itu.
Menurut dia, membangun kekompakan partai bukan perkara sederhana. Perbedaan karakter dan kepentingan kerap muncul. Namun, semua itu harus disatukan demi kepentingan partai.
Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPD Golkar Pamekasan Bambang Chairul Huda menegaskan, secara aturan Djohan memang tidak lolos verifikasi. Namun secara politis, kompromi ditempuh agar Musda XI tidak berlarut.
Dia menyebut, aklamasi menjadi opsi paling rasional untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan.
”Dalam putusan musda, Djohan memang tidak lolos, tetapi secara politis dilakukan negosiasi,” tandasnya. (afg/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti